Pacaran, Remaja dan Kekerasan Pada Perempuan

Stop Bullying di Sekolah!
October 6, 2017
Notulensi Seminar Nasional “Tranformasi Ekonomi Kaltim Pasca Migas dan Tambang”
October 7, 2017

Pacaran identik dengan dunia remaja yang perlu mendapat perhatian khusus. Remaja adalah masa – masa puber dimana biasanya dimulainya kehidupan percintaan dikalangan mereka. Munculnya perasaan suka kepada lawan jenis menjadi wajar diperbincangkan. Aktivitas pacaran di kalangan remaja saat ini tidak dapat dibendung. Yang mengkhawatirkan adalah pacaran selalu identik dengan aktivitas negatif dalam berhubungan dengan lawan jenis. Tidak perlu dipertanyakan lagi apa saja aktivitas remaja berpacaran. Sudah menjadi rahasia umum pacaran di kalangan remaja saat ini bahkan sampai merambah ke aktivitas seksual. Hal ini yang terkadang tidak mendapat perhatian oleh pihak terkait dimana interaksi laki-laki dan perempuan diperbolehkan tanpa ada batasan.

Pacaran selalu berdampak negatif bagi pelakunya dimana aktivitas dalam pacaran di lakukan tanpa ada batasan. Hubungan laki- laki dan perempuan adalah fitrah untuk saling menyukai dan saling mencurahkan perasaan. Sehingga pacaran menjadi sarana dalam menyalurkan naluri perasaannya. Ketika remaja tidak memahami batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis, maka akan banyak aktivitas negatif dilakukan. Hingga akhirnya banyak batasan berhubungan yang dilanggar dalam norma-norma di masyarakat. Terlebih lagi dalam aturan agama yang telah mengatur dengan jelas batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis. Dalam Islam tentu kita tidak mengenal adanya pacaran sebelum menikah. Pacaran hanya dijadikan penjajakan untuk menyalurkan naluri dalam interaksi dengan lawan jenis. Sehingga penyaluran fitrah manusia tersebut akhirnya tidak tepat sasaran.

Aktivitas dalam pacaran banyak berdampak negatif pada perempuan. Perempuan selalu menjadi korban pelampiasan nafsu laki-laki. Banyak kasus yang terjadi perempuanlah yang menjadi korban kekerasan dari laki-laki. Hasil dari catatan tahunan Komisi Nasional Perempuan bahwa ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan dilaporkan dan ditangani selama tahun 2016. Ini merupakan angka yang tinggi terjadi di  Indonesia. Sehingga, perlu adanya perhatian khusus dalam menangani permasalahan kekerasan perempuan. Banyak kasus yang terjadi dengan berbagai macam kekerasan yang dialami perempuan. Mulai dari kekerasan verbal, fisik hingga seksual telah dialami oleh perempuan.

Salah satu contoh yang terjadi belakangan ini adalah kasus perempuan hamil yang di bunuh oleh pacaran dalam keadaan hamil. Kasus ini terjadi karena pelaku tidak mau bertanggung jawab atas bayi yang dikandung korban. Perempuan tersebut di cekik, dibakar hingga meninggal dan lebih parah adalah sebelum memulai aksi kekerasan, laki-laki tersebut melakukan hubungan seksual kepada korban. Begitu  mirisnya perempuan mendengar berita itu dimana perempuan diperlakukan tidak sewajarnya oleh laki-laki. Laki-laki semacam itu seharusnya mendapat hukuman yang sewajarnya dengan memberi efek jera kepada pelaku dan laki-laki yang lain. Perempuan selalu menjadi pihak yang dikorban dalam aktivitas pacaran. Kasus perempuan adalah satu contoh yang mempresentasikan kasus kekerasan perempuan lain di negeri ini. Banyak terjadi kehamilan diluar nikah yang membuat para remaja perempuan harus menanggung malu dan akhirnya putus sekolah. Hingga perempuan harus menjadi ibu dini yang mana umur mereka belum saatnya untuk dapat menghadapi kehamilan dan punya anak.

Pacaran di kalangan remaja ternyata berdampak pada kekerasan perempuan yang harus mendapat perhatian pihak terkait. Siapa saja pihak terkait tersebut? Tentunya adalah pemerintah sebagai pemangku kebijakan, sekolah sebagai wadah pendidikan anak dan orang tua sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas tumbuh kembang anak-anak mereka. Pemerintah seharusnya menaruh isu kekerasan perempuan dan anak sebagai isu prioritas. Hal ini dikarenakan perempuanlah orang yang akan melahirkan generasi masa depan bangsa. Termasuk anak yang akan meneruskan perjuangan dan menentukan masa depan bangsa. Kebijakan pemerintah tentu harus berpihak adil antara laki-laki dan perempuan. Untuk sekolah tentu perlu merancang dan melakukan program pembinaan remaja dengan membekali ilmu tentang akhlaq dan budi pekerti dalam pergaulan. Penting sekali sekolah juga menaruh perhatian dalam perkembangan perilaku anak didik ditengah arus globalisasi ini. Selain itu, orang tua dirumah juga perlu membina anak dengan pelajaran agama terutama akhlaq anak dirumah dan di masyarakat hingga anak memahami dalam berperilaku baik dengan siapa pun. Pacaran tentu akan berdampak negatif pada remaja terutama perempuan hingga perlu adanya perhatian dan penanganan khusus terhadapnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung