Mengembalikan Ruh Kehormatan Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Peran Muslimah dalam Politik Legislatif Untuk Mengentaskan Permasalahan Perempuan Menuju Indonesia Jaya 2045
December 6, 2017
Benar?
December 6, 2017

Mengembalikan Ruh Kehormatan Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Abdi Rahman, S.Pd.I., M.Pd.

(Sekretaris Jenderal PW KAMMI Kaltim Kaltara)

 

Beberapa hari lalu di bulan November 2017 ini, Kota Tepian dikejutkan dengan peristiwa amoral yang mencoreng dunia pendidikan. Bagaimana tidak, seorang guru yang seharusnya menjaga dan membina anak didik dengan kasih sayang tega melakukan hal yang tidak sepatutnya. Lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman, malah sebaliknya meninggalkan trauma mendalam. Hal ini diperparah dengan ditemukannya bukti bahwa pelaku adalah orang terdekat yang seringkali berinteraksi dengannya. Belum lagi kasus-kasus lain seperti kekerasan yang dilakukan oleh oknum seperti kekerasan dan penganiayaan terhadap anak.

Berdasarkan data yang diperoleh disebutkan bahwa sebanyak 84% siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah (7 dari 10 siswa), 45% siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan.Selain itu 40% siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya, 75% siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah, 22% siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, dan 50% anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolah. (Sumber: KPAI.go.id/23 November 2017).

Angka-angka tersebut memberikan gambaran bahwa masyarakat saat ini memiliki sikap kritis dan perhatian terhadap bentuk kekerasan yang terjadi pada anak. Sehingga tak jarang, oknum-oknum guru tersebut kebanyakan dilaporkan kepada pihak berwajib. Hal ini tentu menjadi goresan luka bagi dunia pendidikan untuk mengembalikan potret kehormatan yang selama ini dijunjung dalam kode etik profesi yang digaungkan.

Begitu banyak peristiwa yang memilukan tertuju pada pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Profesi yang mendapat tempat paling banyak di masyarakat kini menjadi sorotan publik. Berdasarkan cerita orang tua kita, guru zaman dahulu begitu disegani dan dihormati. Anak didik bahkan ketika melihat gurunya, maka ia cenderung untuk mencari jalan lain demi menghindar. Atau jika bertemu berpapasan anak didik senantiasa mengucapkan kalimat salam atau penghormatan sambil membungkukkan badan seraya berjalan. Perilaku tersebut merupakan pertanda bahwa guru memiliki kharisma yang begitu menawan hingga mampu membuat suasana hikmat dan tenang. Namun seiring perkembangan zaman, pergeseran nilai-nilai tersebut tidak dapat dihindarkan lagi. Anak didik masa kini jauh dari rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan. Lebih suka bermain alat elektronik seperti handphone, gadget hingga game online.  Bahkan terkadang malas mengerjakan tugas dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Hal ini yang terkadang membuat guru begitu gemas dengan perilaku znak zaman sekarang. Sehingga, tidak sedikit orang tua yang melaporkan guru akibat tidak terima sang anak disentuh dikarenakan sebab-sebab tersebut.

Tantangan guru saat ini adalah mengembalikan kehormatan profesi guru untuk mengembalikan citra dasar positifnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Ki Hajar Dewantara sang pendiri perguruan taman siswa dengan kalimat populernya menyebutkan “Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karsa, tut wuri handayani”. Kalimat tersebut artinya adalah “di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang memberikan dorongan”. Hal ini bentuk kecintaannya pada dunia pendidikan dengan guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan.

Kehormatan profesi guru senantiasa dijaga baik dari kalangannya sendiri dengan mengikatkan pada organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ataupun melalui undang-undang. PP 74 Tahun 2008 pada pasal 41 ayat 1 menyebutkan bahwa guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Upaya-upaya tersebut dirancang untuk memberikan keamanan dan kenyamanan guru dalam mendidik dan membina anak didik agar kelak suatu waktu tidak tersangkut pada kasus yang dapat mengantarkan ke balik jeruji besi.

Karakter guru adalah suatu masalah yang abstrak hanya dapat dilihat dengan melalui penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan sesuai dengan ciri pribadi yang ia miliki. Karakter guru merupakan faktor yang menentukan keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, tidak seorangpun yang dapat menjadi seorang guru yang sejati kecuali bila ia menjadikan dirinya sebagai bagian dari anak didik yang berusaha memahami seluruhnya. Citra profesi guru dibangun dari guru itu sendiri, tentang bagaimana ia menjaga wibawa dan kharismanya dihadapan semua orang. Baik sesama pendidik, orang tua, anak didik hingga masyarakat.

Lembaga pendidikan kini perlu lebih selektif dalam memilih karakteristik guru. Seorang pendidik menurut Athiyah al-Abrasi (cendekiawan muslim), harus memiliki karakter sebagai berikut: Zuhud (tidak mementingkan materi) dan mendidik mencari keridhaan Allah semata-mata. Hal ini bukan berarti guru harus hidup miskin dan sengsara. Kemudian bersih, berarti berusaha membersihkan diri dari berbuat dosa dan kesalahan secara fisik, serta membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela. Seperti diungkapkan dalam hadits Rasulullah SAW:

هَلاَكُ أُمَّتِيْ رَجُلاَنِ : عَالِمٌ فَاجِرٌ، وَعَابِدٌ جَاهِلٌ وَخَيْرُ الْخِيَارِ خِيَارُ الْعُلَمَاءِ وَشَرُّ الْأَشْرَارِ الْجُهَلاَءُ

“Rusaknya umatku adalah karena dua macam orang: “Seorang alim yang durjana dan seorang saleh yang jahil”, orang yang paling baik adalah ulama yang baik dan orang yang paling jahat adalah orang-orang yang bodoh.” (H.R. Baihaqi).

Selain itu, seorang guru juga perlu memiliki sifat ikhlas, gemar memberi maaf dan berperan sebagai orang tua. (Dikutip dari buku Ilmu Pendidikan Islam tulisan Ali Mufron)

Beberapa hal tersebut menjadi pertimbangan bagi pimpinan ataupun guru untuk memantaskan diri memperoleh kehormatan terhadap profesi yang menjadi rebutan orang banyak saat ini dan menganggap sebagai pekerjaan alternatif. Guru bukannya pahlawan tanpa tanda jasa, melainkan pahlawan dengan banyak jasa. Mereka mencetak banyak orang-orang hebat yang mampu membangun peradaban bangsa ini menjadi lebih maju, maka mulai saat ini mari kita muliakan profesi guru dan senantiasa menghormatinya. Selamat memperingati Hari Guru Nasional 25 November 2017.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung