“Sabotase Perdamaian Ala Trump” (Keputusan Trump dan Kondisi Perpecahan Negara Arab)

Notulensi Diskusi Online DPK PW KAMMI Kaltim Kaltara
December 11, 2017
Notulensi Diskusi Online “Berani Bicara Melalui Tulisan”
December 15, 2017

oleh: Sulthan Nur Hidayatullah, S.E.

(Kepala Departemen Pembinaan Kader KAMMI Kaltim Kaltara)

Momentum geramnya dunia internasional di akhir tahun 2017 di tandai dengan ‘keputusan historik’ Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan bermaksud memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv. Status Yerusalem dari dulu adalah jantung konflik panjang Israel-Palestina, Sebuah hak tanah atas nama agama yang harus di jaga olah Islam sesuai nubuwah Rosulullah. karena Israel mencaplok Yerusalem Timur yang bagi Palestina merupakan ibu kota negara mereka di masa depan, sementara Israel menetapkan bahwa Yerusalem adalah ibu kota abadi yang tak dapat ditawar lagi.

Padahal pemerintahan AS sebelumnya di tahun 1948 bersikap bahwa status Yerusalem diputuskan oleh negosiasi dan bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan yang mungkin dianggap sebagai upaya mengarahkan hasil dari negosiasi tersebut. Berbeda dengan trump yang menjadikan ‘kebebasan yerusalem’ janji kampanye sehingga membuat Evangelis Kristen di Amerika Serikat menjadi basis pendukung Trump. Kemudian berdasarkan kesepakatan damai Israel-Palestina tahun 1993, status akhir atas Yerusalem ialah dibahas dalam tahap perundingan lebih lanjut di kemudian hari.

Namun diam-diam israel menantang kesepakatan damai sejak tahun 1967, Israel sudah membangun belasan kawasan permukiman -untuk menampung 200.000 warga Yahudi- di Yerusalem Timur. Langkah itu dianggap melanggar hukum internasional walau posisi ini selalu diabaikan oleh Israel. Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, maka AS akan memperkuat posisi Israel tentang adanya permukiman di kawasan timur kota itu merupakan komunitas Israel yang sah. Cerdas juga, bangun dulu baru di resmikan bukan resmikan dulu baru di bangun.

Sebuah langkah ‘Perdamaian’ dan ‘Gagah Berani’ kata Benjamin Netanyahu. Perdana Menteri Israel ini mengatakan bahwa Palestina ‘harus bisa menerima kenyataan’ bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel jika ingin terus bergerak menuju perdamaian. Maka kita harus katakan sungguh ini adalah langkah yang tidak bisa di tolerir. Perdamaian dari mana apabila menginjak hak negara lain, bahkan melihat sejarah yang menyebabkan intifada 1 & 2 adalah sebuah pembunuhan masal yang di lakukan israel yang telah merusak izzah Palestina kemudian dengan seenaknya mengambil suatu wilayah penting di katakan perdamaian ?

Hingga kini pasca putusan trump tersebut kita tidak melihat sebuah ketenangan apalagi kedamaian, yang ada hanyalah panasnya kondisi dunia internasional. Kita berharap panasnya dunia internasional khususnya dunia Islam melahirkan langkah kongkrit yang menjadi gebrakan baru terkait kondisi Palestina hingga hari ini.

Sebenarnya sengaja tulisan ini dibuat setelah pertemuan KTT OKI 13 Desember 2017, berharap menambah khazanah angin segar terkait konflik israel-palestina oleh 57 Negara OKI termasuk NKRI tercinta. Namun memang perlu kesabaran apabila melihat kondisi pemerintah hari ini. Puluhan negara hanya sebatas ‘mengecam’.

Pertemuan OKI yang mayoritasnya adalah negara-negara Arab terlihat kalem adem ayem, tetingat perpecahan negara Arab yang masih hangat. Dan perpecahan di negara-negara Arab itulah yang agaknya membuat Presiden Donald Trump lebih yakin untuk menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Mengutip perkataan Smith Al Hadar dalam wawancara BBC sebelum KTT OKI “Donald Trump sadar betul dunia Arab itu lebih terpecah belah, disebabkan oleh Arab spring, perang melawan ISIS, kemudian perang saudara di Suriah, Irak, Libia, dan Yaman. Lalu ada persepsi atas ancaman Iran, sehigga posisi vulnerable (mudah diserang) di negara-negara Arab membuat mereka tidak bisa melepaskan diri dari Amerika Serikat”. Dalam konteks tersebutlah, tambah Al Hadar, Presiden Trump berani mengambil langkah yang kontroversial terkait Yerusalem. “Karena dia tahu posisi Arab khususnya di Timur Tengah itu terlalu lemah untuk mengadapi Amerika Serikat,” katanya.

Inilah kondisi perjuangan Islam hari ini, masalah klasik yang jelas solusinya namun prosesnya perlu perjuangan lebih. Masalah perpecahan umat adalah masalah kita bersama, dari dulu Rosulullah sudah menjabarkan masalah kita bukan karena musuh-musuh kita saja namun juga karena ketidak rapiannya jama’ah kita.

Tapi Rencana Allah itu pasti, musuh-musuh Islam akan semakin Allah perlihatkan dan dari terangnya musuh -musuh itu yang mengakibatkan umat ini bersatu, belajar dari kelas nasional di Indonesia yakni 212 maka mungkin saja adanya Donal Trumpt ini juga adalah rencana Allah dalam menyatukan umat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung