Notulensi Diskusi Online “Berani Bicara Melalui Tulisan”

“Sabotase Perdamaian Ala Trump” (Keputusan Trump dan Kondisi Perpecahan Negara Arab)
December 14, 2017
“Mengkader atau Matinya Perjuangan”
December 28, 2017

Notulensi : Diskusi Online
Berani Bicara Melalui Tulisan
Pemateri : Lebah Ratih (Aktivis, Penulis Buku)
Moderator : Jumarny (Forum Literasi KAMMI Samarinda, Humas KAMDA)

Jika kita memanah dengan busur maka mungkin busur itu dapat mengenai 1 kepala, tapi dengan pena, kita dapat memanah ribuan kepala pada cakupan masa yg bahkan melampaui usia hidup kita di dunia

Tulisan adalah rekam jejak tentang perjalanan, ide-ide, gagasan diri setiap manusia yg berkenan menuliskannya. Tulisan menjadi “sangat penting” bagi seseorang yang memiliki orientasi masa depan akan realisasi gagasan dan pemikirannya.
Tulisan menjadi “sangat penting” kala kita memandang luasnya jaringan manusia dihadapkan pada keterbatasan penyampaian yg mampu kita lakukan.

Minimnya minat terhadap dunia literasi baik membaca maupun menulis. Ini fenomena nyata yang sungguh tak boleh kita abaikan. Terlebih kalau kita sungguh menaruh perhatian dan kepedulian thd masa depan generasi penerus. Putusnya mata rantai kepenulisan dari satu generasi bukan kabar baik bagi generasi penerus selanjutnya. Maka, menjadi kemestian bagi kita semua, minimal dimulai dari kita yg ada disini untuk segera “bangun” dan membangunkan. Tentang “tak bisa menulis” saya lebih berkenan menyebutnya dengan “belum menuliskan”. Belum. Karena saya meyakini, setiap orang bisa menulis. Bedanya, ada yg menuliskan ada yg tidak. Itu saja.

Bagaimana membuat tulisan yang menarik?

1. Hal paling mendasar, cara penyampaian dan cara menuliskan. Biasakan diri untuk tidak typo dan merangkai kata-kata dengan baik. Minimal memperhatikan pemenggalan dan tanda baca paling umum saja. Kita bisa menerawang sebelum share tulisan, adakah orang yang membaca akan mengernyitkan dahi berkali-kali dalam upaya memahami tulisan kita. Saya belum bicara tentang “isi”. Kita mulai dengan penyusunan kalimat dan kata-kata saja. Hal ini biasanya sangat terkait hubungannya dengan pengalaman membaca kita.

2. Punya “Tujuan”
Seperti hidup. Seperti kita manusia. Ada yang “punya tujuan” ada yang hidup sekedar hidup. Coba kita cermati, rata-rata tulisan bagus yang kita baca dan membekas dalam diri kita adalah tulisan yang menyimpan permata-permata tujuan dari penulisnya. Bisa berupa ajakan dll.

3. Punya ciri khas.
Upayakan kita punya ciri khas dalam menuliskan. Kenali dimana letak “kelebihan” kita lalu gali itu. Misalnya begini, ada penulis yang kelebihannya dan kekhasannya dibanding penulis lain adalah kemampuannya menghentak-hentak semangat pembaca. Kalau kita termasuk kategori ini, kita bisa kembangkan benar-benar poin ini. Ada penulis yang keahliannya “menyentuh” pembaca. Dan beragam kekhasan lainnya. Nah, temukan kelebihan kita ini.

4. Pemilihan tema yang sedang “hangat” tapi dengan penyampaian awal yang unik dan “beda” dari tulisan dengan tema sejenis. Kiat menulis di media, sering-sering membeli atau membaca media yg kita tuju tersebut.

5. Adanya kesimpulan. Jenis tulisan apapun, upayakan kita sungguh-sungguh memperhatikan poin ini.

6. Membaca dan menulis harus seimbang.

Kalau kita belum menemukan kecintaan terhadap dunia menulis, saran saya, mulai saja. Mulailah membersamai aktivitas menulis. Lalu silakan berbagi. Cinta tumbuh karena terbiasa. Akan ada masa dimana kita merasakan manfaat dari aktivitas kebaikan yg kita lakukan. Di titik itu, kita akan dapat mencintai aktivitas menulis dengan sebenar-benar cinta. Tak ada lagi terpaksa dan sejenisnya.

Kiat-kiat menulis di media, baik online maupun cetak.

1. Perhatikan media tujuan kita lalu sesuaikan dengan tulisan yang akan kita kirimkan. Baik dari sisi isi, penulisan, dll. Kalau kita berniat mengirimkan tulisan ke majalah pergerakan misalnya, maka kita harus memastikan tema yg kita tuliskan ttg pergerakan yg sedang “in”. Karena masing-masing media punya sasaran pasar. Remaja, dewasa, anak, pria, wanita dll.

2. Setelah menentukan media tujuan, siapkan mental pejuang. Jangan mudah menyerah karena 5 bahkan 10 kali penolakan. Itu hal biasa, hampir semua penulis pernah mengalami hal itu. Kirimkan kembali tulisan-tulisan terbaru kita ke berbagai media.

3. Selalu, awali pengiriman naskah dengan pengantar yg baik dan benar. Menurut sharing saya dengan salah satu kawan editor, tidak sedikit naskah-naskah yang “tidak terbaca” oleh redaksi karena tidak disertai dengan judul email maupun pengantar yang jelas. Pokoknya langsung kirim tulisan saja. Tanpa salam pembuka dan penyampaian maksud tujuan. Ini hal sederhana tapi penting dalam hal ini.

Dasar yang harus kita miliki dalam menulis.
Niat, tekad, tujuan, dan kesadaran akan peran dari tulisan yg kita tuliskan tsb. Pondasi utamanya adalah kefahaman. Ini penting agar kita tak sekedar menulis saja. Menulis apa saja. Baiknya kita memiliki tujuan, terlebih sebagai aktivis. Ada tujuan2 yg kita bawa dan perjuangkan. Kita harus mampu membayangkan tulisan kita merupakan bata2 penyusun pondasi kefahaman yg tengah kita bagi thd banyak kepala lalu mempengaruhi banyak hati.

Kriteria atau hal apa yang media butuhkan..?
Kalau ini, masing2 media punya kriteria ya. Jadi saya rasa, pribadi belum bisa jawab gamblang. Biasanya ada rentang waktu per fokus tema yg sedang diangkat.
Kalau dari pengalaman saya, kiat menulis di media, sering-sering membeli atau membaca media yg kita tuju tersebut.

Saya sangat suka membaca dan ingin sekali menulis.. Diri ini sudah faham dgn poin plus plus jika kita bisa menulis..
Tapi kecintaan itu belum ada..
bagaimana diri bisa meluangkan fikiran dan waktu lebih utk menulis jika cinta akan menulis saja kosong.
1. Bagaimana cara menumbuhkan dan menularkan rasa cinta menulis?
2.Bagaimana kiat-kiat agar tulisan kita di post/diterbitkan di media cetak/online? Apakah dibutuhkan relasi dgn pihak penerbit?
Jawab:
1. Kalau kata org tua kita, cinta itu tak bisa dipaksa (sedih kedengerannya kalau kalimat itu hanya terpenggal sampai di sini). Tapi kabar baiknya, ternyata penggalan kalimat selanjutnya memberikan harapan yg menyemangatkan tapi cinta dapat tumbuh karena terbiasa. Nah, maka kalau kita belum menemukan kecintaan terhadap dunia menulis, saran saya, mulai saja. Mulailah membersamai aktivitas menulis. Lalu silakan berbagi. Cinta tumbuh karena terbiasa. Akan ada masa dimana kita merasakan manfaat dari aktivitas kebaikan yg kita lakukan. Di titik itu, kita akan dapat mencintai aktivitas menulis dengan sebenar-benar cinta. Tak ada lagi terpaksa dan sejenisnya. Saya share sedikit, suatu masa saya pernah menuliskan tentang wajibnya hukum hijab bagi wanita. Telah bertahun tulisan itu saya share dan di share berlanjut oleh kawan-kawan di berbagai sudut kota. Kala semangat menulis saya mengendur hari itu, seorang gadis asing nun jauh dari kota Batam mengirim pesan. Singkat saja. Intinya, ia memutuskan untuk berhijab seba’da membaca tulisan saya ttg hijab. Ini sedikit contoh sederhana. Jadi lakukan, mulai saja dulu. Ke depan cinta bisa tumbuh lebih subur dari hal-hal semacam itu.
2. Tidak perlu,  Rata-rata media insyaAllah sdh punya standar masing-masing. Kalau memang tulisan kita telah “layak” dimuat insyaAllah dimuat tanpa harus memiliki relasi.

Berani berbicara melalui literasi, pondasi adalah yang utama untuk membangun sebuah gedung yang kokoh bnyak hal yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan.
Menurut pendapat pemateri, Dasar apa yg harus kita miliki dalam menulis ?
Baik, salam kenal dan salam perjuangan Saudari
Dasar yg harus kita miliki dalam menulis.
Niat, tekad, tujuan, dan kesadaran akan peran dari tulisan yg kita tuliskan tsb. Pondasi utamanya adalah kefahaman. Ini penting agar kita tak sekedar menulis saja. Menulis apa saja. Baiknya kita memiliki tujuan, terlebih sebagai aktivis. Ada tujuan-tujuan yang kita bawa dan perjuangkan. Kita harus mampu membayangkan tulisan kita merupakan bata-bata penyusun pondasi kefahaman yang tengah kita bagi terhadap banyak kepala lalu mempengaruhi banyak hati.

Sebenarnya kepercayaan diri itu bisa kita tumbuhkan, loh. Nggak boleh dijadikan alasan untuk tidak berani menerbitkan karya juga. Oke, ini ada beberapa tips agar kita lebih percaya diri dalam berkarya:
1.  Rutinkan Menulis
Sebenarnya, kurangnya berlatih yang menyebabkan kita juga kurang percaya diri. Mengapa? Kekakuan dalam menulis, akan menjadikan karya kita apa adanya. Tidak ada yang “wow” pada tulisan kita. Bahkan, cenderung membosankan karena kita tidak terbiasa menuangkan karya. Maka, mulailah untuk rutinkan menulis apa pun. Sempatkan diri. Minimal satu halaman per hari untuk membiasakan diri dan otak kita untuk menuangkan ide dalam tulisan sehingga tulisan kita semakin tertata dan tidak mainstream

2.  Banyak Membaca
Kurangnya pengetahuan akan apa yang hendak kita tulis juga menjadi faktor utama dari ketidakpercayaan diri. Mengapa? Bagaimana kita bisa percaya diri dengan hasil tulisan kita, sementara ilmu untuk itu tidak memadai dan menyebabkan adanya rasa ketakutan akan tanggapan dan komentar dari pembaca tentang benar atau salahnya informasi yang diberikan.

3.  Belajar EBI dan Self Editing
Selain teori dan ide, mempelajari EBI juga tidak kalah penting untuk bisa melakukan self editing. Sebab, EBI yang berantakan akan membuat sakit mata pembaca dan ketidaktahuan kita akan EBI yang baik dan benar, akan membuat rasa tidak percaya  diri justru meningkat. Meski pun ada jasa editor, penulis yang baik juga perlu mempelajarinya untuk meminimalisir typo, sebab editor juga terkedang kejar tayang dan tidak terlalu jeli memeriksa naskah kita.

4.  Self Editing
Saat sudah tau ilmunya, sebelum menerbitkan atau mempublikasikan tulisan, sebaiknya kita melakukan self editing dan proses pengendapan terlebih dahulu. Ketergesa-gesaan akan menyebabkan kita kurang percaya diri dengan tuisan, karena masih takut akan adanya typo dan kesalahan EBI ataupun cacat logika yang belum sempat terperhatikan. Maka, hindari medel (mepet DL), ya.

5.  Lakukan Riset dan Cari Referensi Sebanyak-banyaknya
Untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas dan tentunya tidak membuat was-was akan adanya kesalahan, maka cara teraman adalah melakukan riset atau observasi. Sehingga, saat kita benar-benar yakin akan valisitas tulisan kita, maka tidak ada alasan untuk tidak percaya diri, kan?

6.  Bukan Hanya Kita yang Pernah Melakukan Kesalahan
Setiap manusia tidak pernah lepas dari yang namanya kesalahan. Maka, jangan berkecil hati jika karyamu ditolak penerbit atau dikritik pedas oleh pembaca. Setiap penulis pasti pernah mengalaminya. Tidak ada yang bisa langsung pintar dalam tulisan pertama. Jadi, tunggu saja zona waktu berhasilmu. Jika ditolak di awal, pasti akan datang kesempatanmu untuk diterima. Percaya diri saja. Semua pernah mengalami karyanya dianggap sampah, namun pada akhirnya pasti akan diakui senilai dengan permata.

Tentang kiat-kiat menulis di media, baik online maupun cetak.
1. Perhatikan media tujuan kita lalu sesuaikan dengan tulisan yg akan kita kirimkan. Baik dari sisi isi, penulisan, dll. Kalau kita berniat mengirimkan tulisan ke majalah pergerakan misalnya, maka kita harus memastikan tema yg kita tuliskan ttg pergerakan yg sedang “in”. Karena masing-masing media punya sasaran pasar. Remaja, dewasa, anak, pria, wanita dll.
2. Setelah menentukan media tujuan, siapkan mental pejuang. Jangan mudah menyerah karena 5 bahkan 10 kali penolakan. Itu hal biasa, hampir semua penulis pernah mengalami hal itu. Kirimkan kembali tulisan2 terbaru kita ke berbagai media.
3. Selalu, awali pengiriman naskah dengan pengantar yg baik dan benar. Menurut sharing saya dgn salah satu kawan editor, tdk sedikit naskah2 yg “tdk terbaca” oleh redaksi karena tdk disertai dengan judul email maupun pengantar yg jelas. Pokoknya langsung kirim tulisan saja. Tanpa salam pembuka dan penyampaian maksud tujuan. Ini hal sederhana tapi penting dalam hal ini.

Menulis adalah merangkai gagasan menjadi mata rantai yg memperpanjang usia ide dan seluruh gagasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung