Konsep dan Aplikasi (Kader Dakwah)

KONSEKUENSI CINTA
January 27, 2018
Notulensi Diskusi Online Special Perempuan PEKA #1 [TRAGEDI] 5 Fraksi Setuju LGBT ???
February 3, 2018

oleh : Sulthan Nur Hidayatullah, S.E.

(Kepala Departemen Pembinaan Kader KAMMI Kaltim Kaltara)

 

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Al-kitab? Maka tidakkah kamu ber-pikir?” (Al-Baqarah; 44)

Sering kita mendengar bahkan mencuap sebuah konsep tapi apakah banyaknya konsep yang kita dengar dan kita cuapkan sebanding dengan aplikasi yang kita lihat ?

Awal sebuah konsep tidak lepas dari adanya khayalan, khayalan memunculkan bicara, hingga nantinya bicara akan memunculkan tindakan, itulah sebaik-baiknya sinergis antara konsep dan pengaplikasian. Akan berbeda bila hanya kerja tanpa konsep, juga apabila konsep tanpa rasional.

Kedudukan seseorang dengan Islam laksana kedudukan tanah terhadap hujan. Di antara jiwa itu ada yang mampu mengambil manfaat darinya, namun tidak memberikan manfaat pada sesama. Ada juga yang tidak mengambil manfaat darinya dan juga tidak memberikan manfaat pada sesama. Maka dakwah ini menuntut kita mengambil sebuah ide hingga mampu menyalurkan ide tersebut secara efektif, karena itulah cara kita memberikan manfaat kepada target dakwah.

Para penggerak dakwah akan mendapatkan nilai kerja nyata yang benar dan komprehensif tentang islam apabila mereka berinteraksi dengannya. Mereka akan bertemu aplikasi praktis dari ideologi, konsepsi, dan perilakunya, agar kehidupan mereka menjadi pelaksana yang jelas dari islam dan menjadi pemandangan yang indah dari keagungan islam.

Ali bin Abu Thalib menegaskan “Barang siapa mendedikasikan dirinya sebagai pemimpin umat, maka hendaklah dia memulainya dengan mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain. Hendaklah pendidikannya dimulai dengan perilaku sebelum dengam lisan. Orang yang berhasil mengajar dan mendidik dirinya sendiri lebih berhak mendapat penghormatan daripada orang yang mengajari dan mendidik orang lain.”

Allah akan sangat murka apabila seorang kader dakwah mengatakan sesuatu arahan namun tidak melakukannya, memberikan nasihat namun tidak melaksanakannya dan memberikan petunjuk namun tidak mau mengambil petunjuk, sehingga para kader dakwah tidak akan memetik apapun selain cemohan, ekspetasi khayalan, gerak gerik yang tidak strategis, hingga konsep yang tidak pernah rasional.

Dari sinilah, maka sudah menjadi kewajiban para dai untuk melakukan evaluasi secara ketat terhadap diri mereka sendiri dan mengekang egoisme dengan tekad yang kuat, sehingga jiwa mereka menjadi istiqomah untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Karena pada dasarnya tanggung jawab seorang kader dakwah kepada masyarakat tidak boleh mengabaikan tanggung jawabnya terhadap diri sendiri. Kesibukan mereka untuk memperbaiki umat tidak boleh melalaikan mereka dari memperbaiki diri sendiri.

Demikian tulisan ini dibuat sebagai penasehat kita semua, khususnya selaku penulis yang berniat terus menjaga dirinya sebagai lambang kekuatan geraknya dalam berdakwah kepada masyarakat.

Wallahu’alam
Sulthan Nur H.
28 januari 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung