Notulensi Diskusi Online Special Perempuan PEKA #1 [TRAGEDI] 5 Fraksi Setuju LGBT ???

Konsep dan Aplikasi (Kader Dakwah)
January 29, 2018
Nasib Sang Guru, Pahlawan Dengan Banyak Jasa
February 4, 2018

Notulensi Diskusi Online special Perempuan PEKA #1
Via grup WhatsApp
Rabu, 31 Januari 2018 Pukul 21.30-23.30 WITa
Pemateri : Hannah Usmaniah Lubis (DPP KAMMI Merah Putih USU)
Moderator : Yuli Wulandari (Kadept.Keperempuanan KAMMI UNMUL)
KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman

 

[TRAGEDI] 5 Fraksi Setuju LGBT ???

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT)

Memiliki lambang pelangi.

Seperti gambar di bawah ini :

 


1. MATERI

Sebuah pita berwarna merah muda terang (mewakili seksualitas) melintang di bagian atas bendera dengan skema asli, diikuti oleh merah (yang mewakili kehidupan), lalu oranye (untuk penyembuhan), kuning (sinar matahari), hijau (alam), turquoise (keajaiban), indigo (ketenangan) dan ungu (semangat) di bagian bawah. Lambang tersebut diprakarsai oleh Baker. Dari kesejarahannya LGBT lahir di Amerika, dan merupakan produk Revolusi Industri di Prancis. Juga merupakan printilan dari Demokrasi, Feminisme dkk.

Identitas homoseksual baru mulai muncul di kota-kota besar di Indonesia pada beberapa dasawarsa awal abad ke 20. Sebelumnya, keragaman perilaku seksual di antara sesama pria diketahui telah dilakukan dalam konteks seni pertunjukan dan seni bela diri, ritual kebatinan dan perdukunan, jadi bisa dikatakan sebagai suatu perilaku yang diciptakan. Dalam kajian pustaka lebih sedikit disebutkan tentang fenomena ini di kaum wanita, meskipun sesekali dapat dibaca tentang perilaku seks di antara para wanita di keputren (tempat tinggal para wanita dalam istana). Fakta bahwa seksualitas pria dan wanita dapat beragam sementara terdapat tekanan sangat kuat untuk mendirikan keluarga heteroseksual, artinya biseksualitas adalah hal yang cukup umum meskipun tidak demikian halnya dengan identitas biseksual. Demikian pula, cerita-cerita legenda tentang dewa interseks cukup dikenal dan beragam ungkapan dan identitas gender menjadi hal yang umum dan ditolerir di banyak kelompok etnis dalam konteks budaya yang serupa. Beberapa kelompok etnis bahasa telah mengatur kemungkinan perubahan transgender dan memberi peran khusus kepada mereka yang melakukan hal tersebut. Namun demikian, identitas transgender, yaitu transgender dengan pria menjadi wanita (banci atau bencong), yang belum tentu terkait dengan konteks yang telah disebutkan di atas, baru muncul pada paruh kedua abad kedua puluh dan sekali lagi hanya di kota-kota besar.

Secara signifikan, identitas transgender wanita -ke-pria, kurang begitu jelas. Yang perlu ditambahkan secara singkat di sini adalah bahwa bagi orang Indonesia secara umum, waria dalam kehidupan nyata lebih banyak dikenal daripada orang gay, lesbian atau biseksual. Dengan kata lain, orientasi atau perilaku seksual yang tidak konformis seringkali dipersepsi sebagai identitas atau ekspresi gender non-conforming (Oetomo 1996, 2000). Cikal bakal advokasi LGBT di Indonesia dimulai pada akhir tahun 1960-an dengan pendirian Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad), yang difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, Jenderal Marinir Ali Sadikin. Istilah wadam (wanita Adam) diperkenalkan sebagai pengganti kata banci atau bencong yang bersifat menghina. Istilah ini kemudian pada tahun 1978 diganti dengan waria (wanita pria) karena Majelis Ulama Indonesia menilai tidak patut nama seorang nabi (Adam) dijadikan bagian pada istilah untuk kaum laki-laki yang mengekspresikan gendernya dengan cara yang lebih menyerupai perempuan. Organisasi yang berfungsi sebagai ruang sosial budaya yang aman ini, dengan cepat disusul oleh organisasi serupa di kota-kota besar lain. Beberapa di antaranya masih eksis hingga sekarang. Banyak yang mendapatkan dukungan dari pemda setempat, yang umumnya diberikan melalui Dinas Sosial, berdasarkan pemahaman bahwa kaum waria merupakan golongan yang kurang mampu atau cacat psikologis. Berbagai organisasi ini berusaha mendukung moral dan mata pencaharian kaum waria dengan menunjukkan bahwa mereka adalah anggota masyarakat yang berguna. Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat menerima mereka dan memperlakukan secara manusiawi.

Masa tahun 1990-an diwarnai berbagai perkembangan yang terkait dengan dukungan dari berbagai organisasi sekutu, baik nasional maupun lokal.

  1. Banyak organisasi feminis, meskipun tidak semua, yang memberikan dukungan semakin besar bagi wacana tentang lesbian, pekerja seks wanita dan mantan tahanan politik perempuan. Karna dalam kesejarahannya Feminis dan LGBT merupakan satu produk dengan Revolusi Industri
  2. Sejumlah organisasi kesehatan seksual dan reproduksi, khususnya asosiasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan organisasi layanan penanggulangan HIV, menyediakan ruang yang aman dan dukungan bagi kegiatan yang kadang-kadang diadakan, yang seringkali disamarkan sebagai kegiatan bagi kaum muda.
  3. Saat organisasi pro-demokrasi dan hak asasi manusia mulai mengangkat permasalahan hak LGBT sebagai bagian dari permasalahan hak asasi manusia, hal ini semakin mengangkat derajat dan legitimasi gerakan.
  4. Sejumlah akademisi menyelenggarakan kelompok studi dan seminar dengan mengandalkan kebebasan akademis. Mereka juga mengadakan pelatihan jender dan seksualitas, dan seringkali membahas tentang keragaman jender dan seksualitas.

Gerakan LGBT Nasional-Internasional

Menurut laporan dari Laporan LGBT Nasional Indonesia Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia diselenggarakan pada tanggal 13-14 Juni 2013 di Nusa Dua, Bali, sebagai kegiatan utama komponen Indonesia dalam rangka prakarsa ‘Hidup Sebagai LGBT di Asia’. Dialog ini diorganisir sebagai kerjasama dengan dua jaringan nasional, yaitu GWL-INA yang berhubungan dengan permasalahan HIV dan Forum LGBTIQ Indonesia. Jaringan GWL-INA terdiri dari organisasi berbasis masyarakat dan non-pemerintah yang berusaha mengendalikan penyebaran HIV di kaum pria gay, waria dan pria yang berhubungan seks dengan pria lain. Sedangkan Forum LGBTIQ Indonesia terdiri dari sebagian besar organisasi yang sama, serta organisasi lain yang bekerja untuk kaum lesbian, wanita biseksual dan pria transgender (LBT) dan organisasi yang memperjuangkan hak asasi manusia berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender. Dialog Nasional ini dihadiri oleh 71 peserta dari 49 lembaga termasuk wakil-wakil organisasi

LGBT dari 15 di antara 34 provinsi yang ada di Indonesia, di samping wakil-wakil pemerintah pusat, lembaga hak asasi nasional, lembaga donor, perguruan tinggi, lembaga non-pemerintah untuk hak asasi manusia, organisasi bantuan hukum dan organisasi masyarakat madani, serta sejumlah tokoh agama. Secara khusus hadir peserta dari Kementerian Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Komnas HAM, Komnas Perempuan, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas di Universitas Indonesia, STT Jakarta, Konperensi Internasional tentang Agama dan

Perdamaian, ASEAN SOGI Caucus (Kaukus Orientasi Seksual dan Identitas Gender ASEAN/ASC), Australian Agency for International Development (AusAID), organisasi bantuan pembangunan Belanda yaitu Hivos, Human Rights Working Group (HRWG), International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (ILGA) se-Asia, Islands of South East Asia Network of Male and Transgender Sexual Health (ISEAN), Bank Dunia, UNAIDS,Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan 36 organisasi LGBT. Selain itu hadir pula para aktivis dari jejaring penyelenggara, yaitu GWL-INA dan Forum LGBTIQ Indonesia, juga pejabat dan staf kantor regional UNDP dan USAID serta dua fasilitator pertemuan.

Dalam hal itu terlihat bahwa banyak organisasi Nasional hingga Internasional dihimpun untuk memprakarsai LGBT di Asia, termasuk Indonesia.

 

Aturan Hukum Indonesia Yang Dapat Menjegal Gerakan LGBT

Allah SWT berfirman:

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita,…” (Q.S. Al-A’raaf: 80-81)

Rasulullah saw bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Al-Baihaki).

 

Al-Quran dan Sunnah di atas sudah menerangkan dengan jelas bahwa praktik homoseks merupakan satu dosa besar dan sangat berat sanksinya di dunia. Apabila tidak dikenakan di dunia maka sanksi tersebut akan diberlakukan di akhirat. Sedangkan hukuman bagi pelaku sihaq (lesbi), menurut kesepakatan para ulama, adalah ta’zir, di mana pemerintah yang memiliki wewenang untuk menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini (Husaini, hal. 108)

Maka, Undang-undang yang jauh lebih keras.Undang-Undang Anti LGBT. Pidana sebagai pembuat jera.  Rehabilitasi LGBT bisa disembuhkan, karna bisa jadi ia adalah korban. Terapi khusus, Medis dan Psikologi.  Namun secara tidak langsung ataupun langsung, kita orang Indonesia mendukung gerakan LGBT, karna produk-produk yang di jual di Indonesia sudah ada yang terang-terangan menjadi donator LGBT. Kata Jubir Gerindra dalam ILC. Secara sadar kita melegalkan LGBT, karna tidak ada aturan hukum dibuat.  Pasal 292 KUH Pidana yang dilakukan kepada anak di bawah umur. Dan pasal ini harus dimekarkan. Agar tidak hanya kepada anak di bawah umur, namun pada setiap orang yang melakukan LGBT dalam usia berapapun.

Bahaya LGBT

Jika LGBT ini tidak kita tolak secara massif, maka mereka akan sampai pada legalnya perkawinan sejenis, yang itu sudah mencederai sekaligus melanggar undang-undang perkawinan. Konten-konten yang beraroma seksual seperti itu, segera diblokir. Jika dilihat dari komponen hormon yang ada dalam diri manusia, sungguh LGBT itu mengerikan untuk bangsa kita. Dalam kesejarahan Indonesia tidak ada namanya the dark age atau zaman kegelapan, LGBT ini sudah masuk ke ranah politik, terbukti dengan adanya kalimat Zulkifli Hasan, ada banyak makna di dalamnya.

Ada banyak ancaman : Eksistensi Manusia

Fitrah manusia diciptakan berpasang-pasangan.

Tidak ada human dignity dalam LGBT, tidak ada keluhuran, martabat, keagungan, harga diri dalam perilaku LGBT tersebut.

Ancaman kepunahan manusia.

Negara Indonesia adalah Negara BerkeTuhanan.

Pancasila sumber hukum. Nilai-nilai Ketuhanan jadi pegangan kehidupan bernegara.

Sudah mengancam Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang dasarnya adalah Agama.

 

Beberapa Fraksi Sepakat LGBT

Tak ayal jika ada fraksi yang sepakat dengan LGBT, jika dilihat dari pendukung-pendukung LGBT seluruh dunia, terutama Amerika, tentu lah ratusan triliyun mengalir ke Indonesia, NGO asing dan NGO dalam negeri. Kalau dapat saya kaitkan kepada 2019 nanti, Pilpres yang akan datang, maka kita tau bersama Fraksi mana saja yang sepakat dengan legal nya LGBT itu di Indonesia, karna dari hasil Diskusi oleh beberapa teman akademisi, Pilpres di Indonesia membutuhkan dana 10 Triliunan Rupiah. Wajar saja parlemen sibuk melegalkan segala cara untuk melancarkan 2019.

Ada 10 Partai di Indonesia :

  1. 1.PAN
  2. Gerindra
  3. P3
  4. PKS
  5. PDIP

Jelas pembicara PDIP dalam ILC menyatakan bahwa kalimat Zulkifli Hasan sebagai “Bapak 4 Pilar yang harusnya mengawal isu-isu startegis tapi terjun dan terjerumus ke isu-isu yang seperti ini.”

6.Golkar

  1. Nasdem
  2. PKB
  3. Hanura
  4. Demokrat

INDONESIA HARUS TEGAS MENOLAK !!!

Karna memang LGBT itu menyimpang dari dasar negara kita. Dalam Kesejarahan, Indonesia tidak pernah ada latar belakang ketertindasan seperti Eropa dengan Dark Age nya. LGBT merupakan bentuk penyimpangan fitrah, Karna Negara itu harus melindungi , melindungi itu melakukan pencegahan, upaya-upaya pre entik dan preventik supaya tidak menyebar secara masif Kita harus paham bahwa Homoseksual dan kawan-kawannya yang terhimpun dalam LGBT merupakan perilaku seks, jika mereka membawa ilmiah dengan mengatakan bahwa LGBT-ers adalah karna kelebihan kromosom atau adanya quirgender (jender ketiga) maka kita secara ilmiah juga harus dapat membuktikan bahwa LGBT itu adalah penyakit atau patologi sosial. Seorang psikiater, Fidiansyah pun menyatakan LGBT bisa menular. Namun, bukan melalui virus dan bakteri tetapi dari konsep perubahan perilaku dan pembiasaan. “(LGBT) bisa (menular). Tadi yang dikatakan, perilaku itu bisa menular. Penularannya bukan dalam konsep ada virus, ada kuman, bukan. Tapi yang disebut dengan teori perilaku, yaitu teori penularan dari konsep pembiasaan. Dia mengikuti satu pola, akan menjadi satu karakter, jadi kepribadian, jadi pembentuk kebiasaan, dan sebagainya, akhirnya menjadi penyakit. Menularnya dari konteks perubahan perilaku dan pembiasaan,” katanya dalam satu kesempatan di acara ILC pada Selasa (16/2).

Pakar kedokteran jiwa, Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof Dr dr Dadang Hawari, menegaskan, perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) termasuk dalam gangguan kejiwaan. Dadang menyebut, informasi yang membenarkan perilaku LGBT adalah informasi yang salah. “Justru kalau informasi soal LGBT itu yang melanggar, yang tidak benar untuk dipromosikan. Informasi itu harus sesuai dengan ketentuan di negara kita, LGBT tidak dibenarkan. Bahwa LGBT itu ada, memang benar. Tapi, tidak dibenarkan. Bahwa LGBT itu penyakit gangguan jiwa, memang benar,” tutur Dadang kepada wartawan di kantor Sekretariat Gerakan Indonesia Beradab, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (23/3).

SIKAP DAN PERAN SEBAGAI MAHASISWA, BERGERAK !

Gambaran soal LGBT sudah tertulis di atas, dalam bergerak tentu kita harus tau apa landasan kita bergerak. Sebagai Perempuan yang kita tentu punya cara pandang masing-masing dalam bergerak. Menurut saya, bergerak yang paling kecil itu adalah setiap sujudmu dalam sholat malam. Bergerak untuk mengambil wudhu dan menegakkan sholat malam untuk Negeri kita Indonesia. Jika teman-teman memiliki cara pandang bergerak adalah aksi atau turun ke jalan. Silahkan. Tentu kita punya landasan kenapa aksi atau turun ke jalan.

Kita bisa bergerak dari pengetahuan yang kita dalami. Karna sebagai akademisi tentu kita memiliki pendalaman dalam bidang-bidang keilmuan yang kita pelajari, kita dapat bergerak melalui tulisan-tulisan ilmiah, yang tidak kalah dengan pembelaan kaum LGBT bahwa LGBT memang ada dan harus diterima karena mereka secara fisik memiliki kelebihan hormon. Kita yang berada dalam dunia kesehatan dapat terus mempelajari dan menemukan titik bahwa kelebihan hormon yang mereka katakan itu dapat dihilangkan dengan hal ini. Misalnya seperti itu. Maka menekuni bidang keilmuan kita sebagai Mahasiswa sekaligus Perempuan merupakan satu dari banyak gerakan yang dapat kita lakukan.  Sebagai Perempuan, jenis kita sudah lebih banyak di dunia ini dibanding laki-laki, tidak tepat lagi jika kita selalu mengandalkan laki-laki dalam segala gerakan ataupun aksi. Maka jadikanlah diri kita cemerlang, berproseslah dalam setiap masalah yang ada, dan jangan pernah berhenti bergerak. Suarakan gerakanmu! Getarkan singgasana NYA! Dan perbaiki wajah Indonesia! Memanusiakan Manusia! Allahuakbar!

Jika mereka menyebar dan bergerak dengan massif, kita pun harus lebih masif. Semua kita bertanggung jawab untuk mencegah dan menyembuhkan. Kita sebagai akademisi, harus mengupayakan untuk mampu membuktikan bahwa LGBT secara ilmiah adalah suatu patologi sosial, atau penyakit. Bukan kelebihan hormon testosteron atau kromosom sperti yang mereka jadikan alasan atau landasan ber LGBT. Media-media massa muslim perlu menampilkan sebanyak mungkin kisah-kisah pertobatan orang-orang LGBT dan mengajak mereka untuk aktif menyuarakan pendapat mereka, agar masyarakat semakin optimis, bahwa penyakit LGBT bisa disembuhkan.

Orang-orang yang sadar dari LGBT perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai-khususnya oleh pemerintah-agar mereka dapat berhimpun dan memperdayakan dirinya dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari dan melaksanakan aktivitas penyadaran kepada para LGBT yang belum sadar akan kekeliruannya. Dikatakan seorang Dosen Ilmu Politik, bahwa Bahasa cinta laki-laki itu seks, maka kita Perempuan harus mampu menjaga adik adik Perempuan kita ataupun mendapatkan solusi untuk lakilaki atau perempuan yang menjadi korban patologi sosial ini. Laki-laki ketika dia menjadi homoseksual, bukan perihal dia tidak mendapatkan perhatian atau kenyamanan dari perempuan, namun dari pengalaman seksual pertama yang mereka lakukan. Jika pada waktu kecil ia mendapat sodomi misalnya, atau ia coba-coba melakukan seksual sesama jenis itu maka 95% dewasanya akan homoseksual. Ini hasil penelitan skripsi Mahasiswa Ilmu Politik FISIP USU.  Pencegahan dan Penyembuhan Pemerintah juga harus peduli. Kita dapat terus mengingatkan Pemerintah tentang berbagai Rancangan per undang-undangannya mengenai LGBT.

  1. TANJA-JAWAB
  2. Pertanyaan Pertama (Saefa Amalia_Cirebon, Jawa Barat)

Kak.. gimana cara meyakinkan pelaku LGBT untuk berubah ? Karna fakta di lapangan dengan obrolan 4 mata saja dia tidak berubah.. atau masih dalam kehidupan carut marut nya

 

Jawaban Pertanyaan Pertama

Terima kasih pertanyaannya Mba Saefa. 🙂

Tidak mudah memang untuk membawa mereka kembali, namun bukan berarti tidak bisa, harus terus dikuatkan dan di mentoringkan kembali kepada agama yng di anutnya. Jangan beri dia ruang untuk kembali kepada kehidupan tersebut. Ikut sertakan dalam kegiatan² kita, terus bersamai ia dalam kehidupan yng sesungguhnya, yng sesuai fitrahnya. Cerita teman di Jogja, awalnya dia merasa bahwa dirinya adalah Perempuan, padahal dilihat dari material (fisiknya) laki-laki, namun dia terus berusaha menghalau perasaan itu, kemudian ikut mentoring agama Islam, dan perlahan ia mulai benahi diri. Harus cukup sabar dan yakinkan dia bahwa dia adalah Perempuan ataupun laki-laki seutuhnya. Sesuai materialnya.

 

  1. Pertanyaan Kedua (Mutiarani Ragil_Magetan, Jawa Timur)

Bagaimana kalau kita melihat di jalan laki laki dengan laki berjalan bersama bermesraan layaknya pasangan dan kita tahu , apa yg harus kita lakukan  ? APA kita negur langsung? Sedangkan kita belum kenal mereka.

Jawaban Pertanyaan Kedua

-Terima kasih pertanyaannya Mba Mutiara.

Kita boleh ingat hadist yng mengatakan bahwa jika tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangan, maka doakanlah.  Menurut saya, kita dapat menegur seorang tersebut, karena jika kita diam bisa saja mudharatnya akan lebih banyak, dan ia tidak sadar kesalahannya. Namun ingat pula bahwa Rasulullah menganjurkan untuk menegur dengan kalimat paling baik dan mendebat dengan cara yng baik pula. :)) Saran saya, tegur saja. Don’t worry. :))

Wallahualam bissawab…

  1. Pertanyaan Ketiga (Anisya Nur Aqtika_Bengkulu)

Begini mbak umumnya kan yang terlibat lgbt itu sulit dikenali terutama bagi saya  Karena teman-teman cowok saya pas SMA kadang suka becanda satu sama lain…Awalnya terlihat masih normal lama-lama keseringan kek gitu. Nanti kalau saya tegur ternyata bukan lgbt gimana, kalau nggak saya tegur takutnya saya juga yang salah.

Jawaban Pertanyaan Ketiga

-Terima kasih kegalauannya Mba Anisya, hehee. Nahh kita pinjam kalimat anak kesehatan  yaa, mencegah lebih baik daripada mengobati. Karna setan itu adalah musuh yng nyata, maka jika tman-teman kita keseringan seperti itu, smentara kita tahu bahwa LGBT adalah suatu patologi sosial, kita sebagai bagian dari sosial (masyarakat) harus berani dan berupaya mencegah. Walau belum terbukti lgbt atau tidak, namun tidak salah untuk mengingatkan mereka perihal ngak baik becanda berlebihan, dapat pula kita beritahu becanda yng baik itu gimana, atau kita contohin becanda yang baik itu gmana. Kembali lagi, mengingatkan/menegur dengn cara yang paling baik :))

Penuh cinta dan keimanan.

Semangattt Mba Anisya…

  1. Pertanyaan Keempat (Siti Nurmalasari_Buaran, Jakarta Timur)

Kak saya ingin bertanya, terkait emoticon dalam WA, apakah betul hal ini termasuk bentuk doktrin yang diberikan secara tidak sengaja kepada generasi muda? Dan jika betul apakah ada bukti relevan yang bisa dijadikan acuan, ataukah hanya berupa isu sara saja?

Jawaban Pertanyaan Keempat

Hehee. Afwan Mba Nurmalasari.

Wallahualam soal emotikon tersebut. Namun dari yang saya pelajari sepekan ini soal LGBT, mereka adalah gerakan internasional. Isu dunia.  Tidak menutup kemungkinan segala yang berkaitan degan kehidupan kita mereka susupi degan hal yang dapat merusak pemikiran, pemahaman dan aqidah yg kita miliki.  Malah saya bahkan punya kesimpulan, bahwa LGBT ini adalah gerakan sejenis degan Freemansory, Illuminati dan Satanisme. Jika seperti itu, sebaiknya dihindari pemakaian emot itu. :)) Atau kita buat emot sndiri. Uhmm.

  1. Pertanyaan Kelima (Ani_Samarinda)

Mau bertanya mba, jadi saya pernah kenal orang yang menyukai sesama jenis, nah ternyata usut punya usut ada masalah di keluarganya. Terutama ayahnya jadi Ada perasaan benci pada laki laki karena ringan tangan. Efeknya sampai sudah besar jadinya punya ketertarikan sesama perempuan. Sudah di nasihatin sama temen deketnya, dalihnya dia gak minta untuk jadi LGBT, tapi karena background nya itu dia gak bisa berbuat apa apa. Nah ini gimana mba kalau kasusnya seperti ini? Terimakasih.

Jawaban Pertanyaan Kelima

Kembali kasih Mba Ani…

Nahh setau saya utk Perempuan dapat degan mudah untuk dikembalikan. Sebab hasil diskusi saya degan seorang Dosen Ilmu Politik kemarin mengatakan bahwa bahasa cinta Perempuan dengan bahasa cinta laki-laki itu berbeda. Jika bahasa cinta laki-laki adalah seks/seksualitas, nahh bahasa cinta Perempuan biasanya adalah perhatian, kasih sayang, begitu. Saran saya, pertemukan ia dengan lakilaki yang baik hati, bertanggung jawab dan sabar menghadapinya. I mean, carikan jodoh untuk Perempuan tersebut ^^.

 

  1. Pertanyaan Keenam (Ningsih Ulfa Sari, Samarinda)

Untuk pencegahan mbak, Bagaimana kita mengenali secara lebih dini bahwa seseorang adalah penyuka sesama jenis mbak. ?

Jawaban Pertanyaan Keenam

-Terimakasih Mba Ningsih.

Setau saya untuk mengenali seorang tersebut LGBT atau tidak, kita dapat melihat gerak geriknya yang berbeda, misal cara berjalan, cara ia berpenampilan, cara ia memperhatikn laki-laki atau perempuan, cara ia bercerita, cara ia merespon peristiwa. Yap sesuai judul besar kita PEREMPUAN PEKA, yeis harus peka yakan, kadang saya pribadi kalau gak jeli, juga keliatannya sama saja, namun jika diperhatikan lagi, ohh trnyata dia gay. Dan kadangkala mereka mau juga nyeritain perilaku seksnya. Dan yang sulit biasanya adalah, ketika seorang anak laki-laki saat kecilnya mendapatkan pengalaman seks pertama degan sejenisnya(laki-laki) -sodomi. Laki-laki tersbut rentan sekali untk gay pada saat remaja/dewasanya. So, lindungi diri dan keluarga mu dari api neraka, begitu kn pesan Rasulullah. InsyaAllaah. Allahuakbar!!!  Wallahualam bissawab

  1. Closing Statement

Menjadi Perempuan akhir zaman bukan perihal mudah. Ada banyak ujian dan tantangan yang harus dihadapi. Jadilah penerang bagi kegelapan, kuatkan hati, kuatkan aqidah, banyakin baca buku, jangan sepele dgn isu atau masalah yng terjadi disekitar kita. Terkhusus persoalan LGBT yng melanda Negeri ini. Teruslah bergerak, jangan pernah berhenti akhir nafas menghampiri. Wahai Perempuan, populasi kita saat ini lebih banyak daripada lakilaki, maka bukan sebab kita banyak lalu menganggap kita tidak punya peran penting dalam dunia ini. Itu pikiran sesat. Sebab kita banyak maka kita harus jadi penopang negara ini. Kita banyak, berkualitas. Kita banyak, bukan berarti kita rendah.

#KeperempuananKAMMIUnmul

#AyoGabungKAMMI

#RoadToSMN2018

#KammiKomisariatUnmul

#JayakanIndonesia2045

(I’m a KAMMI’ers, if I make mistake, blame it on me, not on my KAMMI )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung