Nasib Sang Guru, Pahlawan Dengan Banyak Jasa

Notulensi Diskusi Online Special Perempuan PEKA #1 [TRAGEDI] 5 Fraksi Setuju LGBT ???
February 3, 2018
LGBT : Liberalisasi Generasi, Biasnya Toleransi
February 5, 2018

oleh : Abdi Rahman, S.Pd.I., M.Pd.I
(Sekretaris Jendral Kader KAMMI Kaltim Kaltara)

 

Pendidikan di Indonesia kembali diramaikan dengan peristiwa memilukan seorang guru honorer meninggal akibat dianiaya oleh siswanya sendiri baru-baru ini. Kejadian tersebut menjadi rangkaian catatan hitam bagi dunia pendidikan Indonesia dimana seorang pahlawan dengan banyak jasa diperlakukan dengan tidak baik oleh orang-orang yang diajarnya. Peristiwa ini disebutkan bermula ketika sang guru menegur siswanya yang tidak memperhatikan saat pelajaran dan kemudian merasa tidak terima dengan perlakuan guru tersebut. Naas nasib guru SMAN 1 Torjun Sampang bernama Ahmad Budi Cahyono mendapat penganiayaan dan akhirnya dinyatakan menghembuskan nafas terakhir karena mati batang otak.

Peristiwa ini bukan satu-satunya yang terjadi dalam dunia pendidikan, sebelumnya penganiayaan terhadap guru juga pernah terjadi di Makassar karena tidak menerima teguran sang guru. Akhirnya pelaku memanggil orangtuanya dan mereka berdua melakukan penganiayaan terhadap guru. Inilah perilaku yang tidak mencerminkan akhlak yang baik. Barangkali banyak peristiwa-peristiwa serupa yang tak terekspose oleh media sehingga hal ini kemudian tidak mendapatkan perhatian yang cukup serius terhadap jaminan perlindungan profesi guru. (Sumber: https://news.detik.com/berita/3272839/guru-yang-dipukul-orang-tua-murid-di-makassar-jadi-viral-di-medsos).

Melalui peristiwa tersebut, seharusnya menjadi warning point bagi seluruh pejabat yang berwenang agar perlakuan tidak menyenangkan tersebut dihapuskan. Perubahan zaman menuntut guru untuk berhati-hati dalam bertindak, sedangkan kondisi peserta didik saat ini cenderung immoral (Tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh seseorang walaupun orang tersebut mengetahui bahwa hal tersebut memang salah dan tetap melakukannya).

Berbicara soal adab dan sopan santun, guru masa kini dihadapkan pada kondisi yang tidak mengenakkan. Cara interaksi antara guru dan siswa semakin buruk, siswa cenderung kurang memiliki rasa hormat. Buktinya tidak ada lagi rasa takut atau segan ketika berhadapan dengan guru, bersuara nyaring ketika memanggil atau berbicara. Nilai etika selalu diabaikan oleh siswa, sehingga tidak jarang ketika pembelajaran berlangsung bersikap tidak tertib dan kurang memperhatikan alias sibuk sendiri ketika guru menjelaskan materi pelajaran. Perilaku semacam ini yang biasanya menjadi latarbelakang seorang guru berusaha untuk menegakkan kedisiplinan. Namun, acapkali teguran atau nasehat dipandang lain, sehingga berujung pada hal yang merugikan profesi guru.

Berkaitan dengan tindak kekerasan, guru memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan. Berdasarkan UU RI No, 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 39 ayat (3) menyebutkan bahwa “Perlindungan mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain”.

Guru merupakan teladan yang dapat mengantarkan seseorang pada masa depan yang baik dan benar, sehingga sudah semestinya mendapatkan penghormatan karena kerja kerasnya dalam upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut membina akhlak manusia. Dalam menjalankan tugas mulianya, guru berupaya memberikan yang terbaik bagi siswa-siswinya. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah agar segera menerbitkan bentuk perlindungan secara nyata untuk menjamin kenyamanan guru melaksanakan tugasnya di sekolah.

Peristiwa ini hendaknya menjadi evaluasi, bahwa tidak bisa hanya disalahkan pada salah satu pihak saja. Semua orang yang ada ikut terlibat bertanggung jawab untuk menuntaskan dan menyelesaikan problematika kekerasan dalam dunia pendidikan. Mulai dari pemerintah, pemangku jabatan di sekolah, orang tua murid hingga masyarakat sekitar ikut bertanggungjawab mengawasi perilaku atau moralitas generasi penerus bangsa.

Bagi pemerintah, hendaknya membuat peraturan pelaksanaan secara teknis operasional yang mengatur berbagai macam perlindungan terhadap guru, termasuk perlindungan hukumnya. Seorang guru harus tahu apa yang boleh dilakukan ataupun tidak boleh dilakukan dengan ketentuan memperoleh jaminan atas upaya menegakkan disiplin dan membina akhlak siswa. Sehingga diharapkan meminimalisir kekerasan di dunia pendidikan.

Sedangkan sebagai pimpinan sekolah beserta guru ikut secara maksimal melakukan pembinaan dan pendekatan terhadap seluruh siswa beserta orang tuanya. Agar problematika yang dihadapi dapat diselesaikan secara bersama. Pola interaksi dan komunikasi antarwarga sekolah pun perlu ditingkatkan agar seluruh aspek yang terkait mendapatkan perhatian.

Bagi orang tua murid hendaknya tidak hanya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, sehingga meninggalkan kewajiban mendidik. Namun orang tua siswa perlu mencari tahu tentang perkembangan anaknya, sehingga pendidikan di rumah dan di sekolah dapat berjalan beriringan. Orang tua siswa hendaknya senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya untuk berperilaku sopan santun, serta mengarahkannya menjadi orang yang selalu memiliki rasa hormat dan bertanggung jawab kepada semua orang. Karena sesungguhnya, kunci keberhasilan dan kesuksesan berawal dari rumah. Maka posisi orang tua dan keluarga memiliki peranan penting untuk mempersiapkan generasi yang hebat.

Masyarakat sebagai komunitas manusia yang besar dan banyak, memiliki tugas untuk mengontrol dan mengawasi pendidikan di sekitarnya. Kehidupan modern menuntut anak-anak untuk berfikir dan berperilaku lebih dari sebelumnya. Sehingga diperlukan keterlibatan masyarakat dalam menangani perilaku negatif serta megarahkannya pada perilaku yang baik. Masyarakat harus sadar bahwa setiap perilaku yang ditampilkan akan menjadi contoh bagi orang disekitarnya, oleh sebab itu setiap orang perlu menjaga perilaku dihadapan orang lain. Senantiasa berbuat baik, bersikap sopan santun dan saling menghormati serta menjaga ketertiban di masyarakat.

Berbekal kesadaran dari setiap unsur yang terlibat tersebut dan melaksanakan fungsinya dengan baik, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis antar sesama. Sehingga tidak akan pernah terdengar lagi peristiwa memilukan khususnya di dunia pendidikan. Bagi pelaku yang telah ditetapkan, maka hendaknya diberi sanksi atau hukuman sesuai dengan perbuatan yang dilakukan akan menjadi pelajaran bagi seluruh pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung