LGBT : Liberalisasi Generasi, Biasnya Toleransi

Nasib Sang Guru, Pahlawan Dengan Banyak Jasa
February 4, 2018
Merajut Pembangunan Karya Anak Bangsa
February 16, 2018

oleh :Mahfudhah Iklil Khairunnisa, S.Ked

(Pengurus Dept. Kebijakan Publik)

 

Manusia adalah peserta sistem kehidupan yang memiliki perilaku alami yang bermula dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar kehidupannya. Kebutuhan dasar ini bersifat global dan membentuk naluri dasar yang sama pada manusia di seluruh belahan dunia. Sebagai makna harfiah dari kebutuhan, maka ketiadaan kebutuhan dasar menjadikan sistem kehidupan itu tidak seimbang.

Sementara, upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia bergantung pada latar belakang geografis, sosial budaya, dan agama. Dari sanalah lahir istilah keberagaman karakter pribadi hingga keberagaman pola pemikiran. Walau demikian, keberagaman itu tetap bermula dari naluri dasar yang sama pada manusia salah satunya ialah bersosial, sehingga memicu sebuah aspek yang saat ini kita kenal dengan toleransi. Toleransi menjadikan manusia mampu menerima dan beradaptasi atas setiap keberagaman yang ada pada diri mereka.

Satu hal yang perlu kita perhatikan, sistem kehidupan itu ibarat sebuah mesin roda gigi yang bahan bakarnya adalah kebutuhan hidup dan untuk menjalankannya memiliki panduan prosedur operasional. Roda gigi itu akan berputar dan saling sinergi dalam putarannya menghasilkan program atau produk yang baik, bila kita menjalankannya sesuai dengan prosedur operasional yang ada. Tapi bila kita menjalankan operasional mesin itu sembarangan, maka roda gigi itu bisa berputar saling berlawanan dan tidak menghasilkan manfaat apapun bahkan rusak. Tanpa bahan bakar, maka mesin itu akan mati. Tanpa adanya panduan prosedur operasional, maka mesin itu akan kacau balau, yang ujungnya adalah kehancuran total.

Disini, kita letakkan keberagaman manusia atas sistem kehidupan ialah sebagai gaya mengoperasionalkan mesin roda gigi tadi. Setiap orang berhak memiliki gayanya masing-masing saat mengoperasionalkan mesin itu. Dan pada sisi ini pula kita letakkan sikap toleransi. Setiap orang bisa memilih gaya manapun yang sesuai dengan kenyamanannya, boleh dengan duduk, boleh dengan berdiri, bahkan boleh pula dengan melakukan manuver atau teknik tambahan dalam mengoperasionalkannya. Terkadang justru manuver tambahan memang dibutuhkan untuk mengoptimalkan operasional kerja suatu mesin agar menghasilkan hasil yang maksimal. Jadi, selama kita tidak mengubah atau menyalahi panduan prosedur operasional, tidak ada yang perlu dirisaukan, mesin roda gigi itu akan tetap berputar sinergi.

Panduan prosedur operasional sistem kehidupan itu sendiri ialah agama, norma, budaya, kode etik, perundang-undangan, kebijakan, dan segala bentuk apapun yang memiliki prinsip sebagai aturan manusia berkehidupan. Keseluruhan bentuk panduan ini sudah seharusnya berselaras dengan hukum alam sehingga terciptanya keseimbangan sistem kehidupan. Sistem kehidupan akan terus berjalan sinergi selama kebutuhan dasar manusia terpenuhi dan menjalankan seluruh aspek kehidupan sesuai panduan tata cara hidup yang berlaku. Toleransi haruslah bermakna pada penghargaan menjalankan setiap panduan yang berlaku dengan gaya masing-masing.

Model pemahaman liberal yang banyak dijadikan landasan sudut pandangan ‘zaman now’, menggeser makna toleransi sampai pada titik bebasnya mengoperasionalkan mesin tanpa menjalankan prosedur sesuai panduan  prosedur operasional. Artinya, setiap manusia bebas melaksanakan kehidupan dalam sistem kehidupan sebebas-bebasnya tanpa perlu tunduk atau sesuai pada tata cara hidup yang berlaku. Selama asas hak asasi manusia terpenuhi, aspek lain bisa saja tidak perlu dipertimbangkan. Maka, bila pemahaman ini tidak diperbaiki, keselarasan antara tata cara hidup dan hukum alam akan berlaku. Roda gigi sistem kehidupan itu akan berputar saling berbeda arah dan menghasilkan kehancuran sistem kehidupan itu sendiri.

Pada tulisan ini saya mencoba untuk menjabarkan satu kebutuhan dasar manusia yang merupakan kebutuhan inti akan keberlangsungan kehidupan dan fenomena yang terjadi saat ini. Kebutuhan itu ialah ; seksualitas.

Dalam bahasa kesehatan, seksualitas adalah ekspresi fisiologis dan psikologis dari perilaku seksual. Seksual sendiri berasal dari kata seks yang berarti gender atau jenis kelamin makhluk hidup. Pada aspek yang kita bahas, seks merujuk pada perbedaan biologis yang ada pada jenis kelamin manusia, mulai dari kromosom, hormonal, hingga genitalia. Maka hanya ada 2 jenis seks yang ada pada manusia yaitu, laki-laki dan perempuan. Sementara seksualitas manusia memiliki dimensi yang lebih luas hingga dimensi kultur sosial, dimana seksualitas adalah ekspresi seksual manusia atas kemampuannya memahami identifikasi seksnya.

Pada masa kini, kita mengenali istilah gay, lesbian, biseksual, dan transgender. Istilah-istilah ini merupakan label dari fenomena kelainan orientasi seksual dan identifikasi seks yang terjadi pada kehidupan manusia. Saya menyepakati kata ‘kelainan’ dalam hal ini karena pada dasarnya memang terjadi gangguan pada masa perkembangan identitas seksual seorang manusia sehingga ia tidak mampu menempatkan ekspresi seksualnya sesuai dengan jenis kelaminnya. Gangguan pada masa perkembangan ini dapat disadari maupun tidak disadari.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Identifikasi seksual itu berkembang sejak tahap awal kehidupan manusia. Berarti telah terjadi gangguan pada masa perkembangan kecerdasan seksual seorang manusia sehingga ia gagal dalam mengidentifikasi seksualnya secara benar sesuai seks biologisnya. Ini akan mencipta sebuah jiwa yang merasa terperangkap pada tubuh yang salah atau orientasi pada jenis kelamin yang sama. Lalu apakah kelainan perkembangan ini dapat diperbaiki? Mari kita bahas.

Saya akan membagi kebutuhan dasar manusia menjadi 3 tahap yang saling berkesinambungan dan terus berlangsung bersamaan. Ketiga fase ini ialah; Pengawalan, Penyaluran, dan Pengontrolan.

Tahap Pengawalan

Tahap pengawalan dimulai sejak tahap awal kehidupan manusia, yaitu sejak manusia dilahirkan. Manusia sebagai makhluk hidup akan bertumbuh dan berkembang. Bertumbuh artinya pertambahan skala fisik tubuh manusia, sementara berkembang artinya pertambahan kemampuan baik secara fisiologis maupun psikologis. Secara fisiologi biologis, sangat kecil persentase terjadinya kelainan pertumbuhan jenis kelamin manusia ataupun perkembangan seks sekunder yang akan berpengaruh pada ekspresi seksual seseorang. Sebaliknya, perkembangan psikoseksual memegang peranan penting bagi seseorang untuk mengidentifikasi seks yang ia miliki.

Sigmun Freud mengemukakan sebuah teori bahwa manusia, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan hidup, telah memiliki dorongan-dorongan dalam dirinya. Dorongan ini disebut sebagai libido. Libido akan sering dikaitkan erat dengan energi psikis yang sifatnya seksual. Freud juga membagi tahapan perkembangan psikoseksual menjadi 5 tahap, yaitu ; Fase Oral (0-1 tahun), Fase Anal (1-3 tahun), Fase Falik (3-5 tahun), Fase Laten (5-12 tahun), dan Fase Genital (> 12 tahun). Puncak pengenalan identitas seks seorang manusia berada pada fase anal dan fase falik. Artinya pada kedua fase ini memori seorang anak akan mulai merekam dan mencerna posisi mereka sesuai identitas seksual yang mereka miliki.

Fase anal adalah fase dimana letak libido seorang anak berada pada anal/dubur. Pada fase ini kepuasan seorang manusia adalah ketika ia mampu membuang kotoran melalui duburnya. Sehingga fase anal inilah fase yang tepat untuk melakukan toilet training. Mendidik anak untuk mampu membuang kotorannya baik kecil maupun besar dan cara membersihkannya sesuai dengan jenis kelaminnya. Begitu pula dengan rasa malu terhadap orang lain. Di fase ini seorang anak harus diajarkan untuk membuang hajat pada tempatnya dan menunda membuang hajat bila ada orang lain disekitarnya.

Jika terjadi gangguan pada fase ini, maka akan terjadi kegagalan dalam penanaman nilai-nilai pada diri sang anak. Misalnya, seorang anak perempuan dibiarkan pipis sambil berdiri, atau sebaliknya seorang anak laki-laki dibiarkan pipis sambil jongkok atau duduk. Ini akan menimbulkan bias pengenalan terhadap bagaimana ia harus bersikap sesuai identitas seksnya. Kegagalan pada fase ini juga akan menyebabkan seorang manusia kesulitan untuk menghargai kehadiran orang lain dan tidak perduli akibat dari apapun yang ingin ia lakukan.

Kelanjutan dari fase anal adalah fase falik. Pada fase falik, letak libido seorang anak sudah berada pada alat kelaminnya. Seorang anak dalam fase ini sudah menyadari berbedaan anatomi dari bentuk kelamin antara laki-laki dan perempuan karena pada fase ini anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mengeksplorasi tubuhnya sendiri. Fase falik adalah fase terbaik untuk mengajarkan pada seorang anak tentang fungsinya sebagai makhluk sosial yang memiliki peran yang berbeda sesuai jenis kelaminnya. Seorang anak akan memperhatikan bagaimana sang ayah atau ibu berlaku dalam keseharian dan juga akan belajar berinteraksi antar sesama usianya dengan jenis kelamin yang berbeda. Hal ini berguna untuk menanamkan pemahaman posisi mereka sebagai individu seksual yang berbeda perilaku dalam kehidupan. Contoh sederhana, anak laki-laki yang dibiarkan bermain mainan perempuan, kita akan menemukan laki-laki yang cenderung gemulai atau begitu sensitif menaruh perhatian pada fisik dirinya pada masa dewasa, yang seharusnya ini merupakan ciri seorang perempuan.

Pada fase falik ini seorang anak masuk pada ‘golden age’ perkembangan memori, dimana memori jangka panjang manusia mulai terbentuk. Sehingga manusia dewasa akan mampu mengingat momen-momen yang terjadi pada fase ini. Apapun yang tertanam pada fase ini akan sangat berpengaruh pada perilakunya di masa dewasa. Pada fase falik pula seorang anak memulai periode perkembangan hati nurani. Seorang anak akan belajar rasa kasih sayang, baik dan buruk, benar dan salah, hingga maskulin dan feminim. Sehingga sangat penting pada masa ini untuk melakukan penekanan dalam penanaman tata cara manusia berkehidupan, baik mulai dari pedoman agama, nilai-nilai etika, hingga norma yang berlaku dalam masyarakat.

Gangguan pada fase falik akan menghasilkan hendaya seseorang dalam ekspresi prilaku seksualnya. Kesalahan pengenalan identitas seksual akan menyebabkan seorang anak merasa ketidaksesuaian antara psikologis seksual dengan jenis kelaminnya. Kegagalan penanaman nilai karakter tata cara berkehidupan juga akan menjadikan seorang manusia tidak mampu memahami pentingnya pedoman kehidupan berupa agama, etika, hingga norma dalam menjalani kehidupan. Manusia dewasa yang mengalami kegagalan pendidikan perilaku pada fase ini akan menjadi manusia yang cenderung menyalahi aturan berkehidupan yang ada dan menerapkan aturan hidup sebebas-bebasnya.

Banyak komunitas LGBT di dunia yang telah mendeklarasikan diri bahwa mereka ditakdirkan lahir sebagai LGBT. Pemaparan kedua fase diatas sebenarnya mampu menepis pengakuan para pelaku LGBT yang menyatakan bahwa orientasi seksual yang mereka miliki adalah fitrah naluri sebagai manusia. Fakta ilmiah atas fase perkembangan psikoseksual mampu membuktikan bahwa takdir manusia sebagai individu seksual sesuai dengan identifikasi seks biologis pada diri mereka. Gangguan pada fase perkembangan psikoseksual, disadari atau tidak disadari, yang sebenarnya menjadikan kegagalan pemahaman identifikasi seksual pada seorang manusia yang akhirnya berujung pada ekspresi seksual yang salah. Faktanya pula mayoritas orang tua di dunia itu tidak begitu menyadari pentingnya perhatian pada fase-fase perkembangan psikoseksual ini terhadap perkembangan anaknya sebagai generasi masa depan.

Tahap Penyaluran

Tahap penyaluran ini adalah tahap pengekspresian diri manusia. Pada segitiga kebutuhan hidup, tahap penyaluran ini merupakan puncak tertinggi kebutuhan dasar manusia, yaitu aktualisasi diri. Oleh karenanya, tahap penyaluran ini berlangsung sejak fase laten perkembangan psikoseksual hingga masa dewasa penuh seorang manusia. Sampai akhir kehidupannya, seorang manusia akan terus menunjukkan aktualisasi dirinya sebagai individu yang diakui.

Setelah fase pembekalan kehidupan awal terlewati, seorang manusia akan memasuki fase laten. Fase laten ini ialah fase tenang dimana anak-anak akan banyak menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan. Anak-anak akan belajar mengembangkan interaksi sosial pada lingkup sederhana lingkungannya. Aktivitas libido pada fase ini juga akan memasuki masa hibernasi, sehingga perilaku seksual seorang manusia cenderung netral.

Aktivitas libido pada manusia akan kembali ‘bangkit’ pada masa pubertas. Dalam masa pubertas ini seorang manusia akan masuk fase genital, dimana letak aktivitas libido adalah pada alat kelaminnya. Perbedaannya dengan fase falik ialah, pada fase falik seorang manusia masa anak-anak akan memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi tubuhnya sendiri, sementara pada fase genital, ketertarikan seksual tidak lagi pada tubuhnya sendiri tetapi dari sumber eksternal, yaitu manusia lainnya. Bentuk aktualisasi diri pada masa ini adalah manusia belajar mengenali perasaan mencintai orang lain diluar lingkup keluarganya.

Masa pubertas juga menjadi masa dimana perkembangan psikososial (menurut Erik Erikson) berada dalam Fase Identitas / Kekacauan Identitas. Pada fase ini manusia akan melakukan pencarian tentang jati dirinya. Pengeksplorasian diri terjadi besar-besaran pada fase ini, dimana pada fase ini pula pola karakter pribadi manusia akan terbentuk. Hal ini dikarenakan otak manusia juga mulai mengaktivasi logika berpikirnya. Terdapat, 2 faktor utama pada fase pencarian identitas ini, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal, terutama bersamaan dengan fase genital, yaitu dimana impuls-impuls yang didapat seorang manusia pada seluruh fase pra-genital akan teraktivasi kembali oleh dinamika masa remaja. Alam bawah sadar manusia telah menyimpan setiap impuls yang tertanam pada masa pendidikan perilaku di awal kehidupan. Hal ini akan terealisasi pada bentuk ekspresi seksual manusia berupa penempatan identitas perilaku seksual sesuai jenis kelamin dan orientasi seksual pada lawan jenis.

Faktor eksternal merupakan peranan lingkungan sosial terhadap seorang individu. Masa pencarian jati diri akan membuat manusia berusaha mencari sosok yang paling sesuai dengan dirinya dan pola pikirnya pada lingkungan masyarakat. Sosok ini akan menjadi contoh bagi diri manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Oleh karenanya, bila lingkungan dimana ia berkembang dalam rangka pencarian jati diri ialah lingkungan yang tidak menerapkan nilai-nilai moral, etika, dan agama yang baik, maka akan berpengaruh pula dalam pembentukan jati dirinya.

Fakta membuktikan bahwa pelaku LGBT memiliki pergaulan yang tidak menerapkan pedoman berkehidupan secara benar. Hal ini pun semakin ditunjang bila ada hubungan yang longgar antara pelaku LGBT dan keluarga, maka nilai-nilai moral apapun yang ditanam sejak masa awal kehidupan rentan tergeser bahkan hilang. Tidak kuatnya penanaman nilai moral manusiawi ini akan membuka kesempatan yang selebar-lebarnya pada penyaluran kebutuhan seksual yang tidak tepat.

Dikarenakan aktivasi biologis libido yang berada pada puncaknya, manusia pada masa dewasa muda akan mengeksplorasi identitas seksual mereka. Rasa ingin tahu yang besar terhadap kebutuhan seksualitas di dalam diri manusia akan membuat manusia mencoba berbagai macam hal baru. Dalam sisi negatif efek lingkungan sosial misalnya, banyak dari para remaja yang mencoba menonton film porno, parahnya lagi kebiasaan ini berlanjut hingga masa dewasa. Sementara, film porno adalah media yang paling strategis untuk menanamkan pola pikir berorientasi pada LGBT maupun kelinan seksual lainnya.

Semakin muda usia seorang manusia mencoba menyalurkan kebutuhan seksualnya, maka akan semakin berbahaya pada perkembangan psikoseksual itu sendiri. Karena pada tahap ini logika berpikir manusia belum matang sehingga penanaman moral belum sepenuhnya terealisasi dengan baik. Para manusia muda hanya mengetahui dampak ‘kesenangan’ dan ‘kepuasan’ pada diri mereka tanpa mengerti masalah apa yang akan terjadi di masa datang. Hal ini yang merupakan awal dari apa yang kita ketahui sebagai addiksi seksual. Addiksi seksual adalah kecanduan seseorang pada penyaluran kebutuhan seksual yang salah baik itu dalam orientasi heterogen ataupun LGBT. Pada tahap kehidupan selanjutnya, bila pola penyaluran kebutuhan seksual ini tidak diperbaiki, maka akan terus berlanjut hingga membentuk karakter pribadi permanen pada manusia di masa dewasanya.

Tahap Pengontrolan

Tahapan pengontrolan berlaku pada keseluruhan fase perkembangan psikoseksual hingga akhir masa kehidupan manusia. Tahap pengontrolan adalah tahapan dimana manusia mampu mengontrol perilaku kehidupannya dalam batasan aturan berkehidupan. Pada tahap pengontrolan berlaku analogi mesin roda gigi yang di bahas di awal tulisan ini. Panduan prosedur operasional dalam menjalankan kehidupan menjadi satu-satunya kunci untuk menjaga keseimbangan sistem kehidupan.

Pengembalian ajaran agama sesuai dengan kitab dan perujukan kepada para ulama haruslah menjadi penegasan kembali penerapan berkehidupan secara individu dewasa dengan nilai spiritual. Peningkatan kesadaran masyarakat akan sanksi-sanksi sosial akan kembali memberikan nilai-nilai moral pada posisi yang vital dalam kehidupan manusia. Pembentukan kebijakan terutama dalam kehidupan kenegaraan akan sangat mampu memberikan batasan ruang gerak bagi setiap ‘produk gagal’ dari perkembangan psikoseksual untuk memberikan pengaruh kegagalan yang sama pada generasi berikutnya.

Inilah tahapan terpenting yang harusnya kita sadari. Bukan tidak mungkin, bila kita mampu menerapkan tahap pengontrolan ini dengan baik, kita dapat mencegah terbentuknya generasi yang gagal dalam mengenali identitas seksual dirinya dan kita dapat membendung bahkan meluruskan ekspresi seksual yang telah terlanjur salah pada para pelaku LGBT maupun masalah seksual lainnya.

Ketiga tahapan terhadap kebutuhan seksualitas yang saya jabarkan dalam tulisan ini diharapkan mampu membuka cakrawala berpikir kita tentang takdir manusia sebagai individu dengan identitas seksual. Bahwa tidak ada pertentangan antara identifikasi seksual biologis manusia dengan perkembangan psikologis seksual manusia. Semua fenomena yang terjadi adalah bentuk ‘kelainan’ akibat kegagalan pengajaran atau pendidikan pengenalan identitas seksual selama periode perkembangan psikoseksual hingga bentuk penyalurannya.

Maka segala bentuk argumentasi dan pembelaan agar diberikannya kebebasan bagi perkembangan orientasi LGBT adalah suatu kesalahan besar yang akan merusak keseimbangan sistem kehidupan. Bukan hanya dari segi pelestarian keturunan, tapi dari keseluruhan dampak yang akan terjadi di masa datang. Sebagai generasi masa kini dan sebagai calon pemberi konstribusi pada generasi yang akan datang kita harus mencegah terjadinya kesalahan yang sama di masa datang.

Judul tulisan ini menunjukkan korelasi antara liberalisasi dan biasnya toleransi sebagai pemegang kontribusi terbesar bagi fenomena LGBT. Hal ini merujuk pada fakta yang terjadi di hampir seluruh belahan dunia dan ‘kabarnya’ juga Indonesia. Legalisasi pernikahan sejenis di Amerika Serikat pada tahun 2015 memicu aktivasi pergerakan-pergerakan komunitas LGBT di seluruh dunia untuk turut menuntut legalisasi yang sama di masing-masing negaranya. Terbukti, berbagai macam aksi massa seperti demo, parade festival, hingga diskusi terbuka digelar oleh komunitas LGBT di seluruh dunia. Padahal sebenarnya, beberapa negara di dunia telah melegalkan pernikahan sejenis lebih dulu sebelum Amerika Serikat. Fakta ini membuktikan bahwa Amerika Serikat memang merupakan ‘The Top Role Model of Liberalism’.

Indonesia adalah negeri dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi pada kehidupan masyarakatnya. Lima agama besar dunia hidup bersama dengan keamanan dalam menjalankan kepercayaannya masing-masing. Penerapan toleransi ini juga berlaku pada interaksi ribuan suku yang berbeda di seluruh Indonesia. Bahasa, budaya, dan tradisi yang berbeda mampu selaras dengan adanya nilai toleransi ini.

Sayangnya efek globalisasi dunia, tahap demi tahap, mengajarkan generasi terkini Indonesia tentang paham liberalisme. Pemahaman liberal ini mampu membuat nilai toleransi yang tertanam pada mayoritas bangsa Indonesia bergeser maknanya dan berbatas tipis dengan ketidakperdulian individualisme. Hal ini dapat menyebabkan lunturnya penerapan kehidupan berdasarkan ‘SOP’ kehidupan baik agama, nilai etika, dan mampu mempengaruhi kebijakan perundang-undangan. Kabar terbaru yang beredar di masyarakat, para anggota dewan perwakilan rakyat sedang membahas perundang-undangan terkait legalisasi pernikahan sejenis di Indonesia.

Mengesampingkan fakta benar atau tidaknya kabar yang beredar, kita, sebagai generasi bangsa Indonesia haruslah menyadari bahwa ideologi Indonesia adalah Pancasila. Viral lini massa beberapa waktu lalu atas slogan ‘Saya Indonesia, Saya Pancasia’ haruslah benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga itu bukan hanya menjadi viralisme lini massa generasi ‘zaman now’.

Pancasila mencatutkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ pada urutan pertama, sehingga ini menegaskan landasan kehidupan kenegaraan di Indonesia berlandaskan pedoman ketuhanan, atau secara jelasnya, pedoman agama. Maka kita dapat menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang beragama, olehnya setiap kebijakan baik perundang-undangan atau kebijakan sosial haruslah sesuai dengan aturan-aturan agama. Merujuk pada hal ini, tidak ada satu kitab agama pun yang memperbolehkan atau memberikan ruang gerak pada seluruh pelaku maupun aktivitas orientasi LGBT.

Sebagai generasi penerus kehidupan bangsa dan generasi harapan perbaikan dunia, selayaknya kita mampu untuk mengembalikan makna toleransi pada posisi yang benar. Toleransi adalah bentuk penghargaan pada setiap perbedaan gaya pengaplikasian pedoman kehidupan bukan pada penerapan kehidupan bebas. Maka penamajaman keperdulian adalah hal penting yang harus kembali di tekankan pada masyarakat. Peribahasa ‘Ala Bisa Karena Biasa’ adalah analog yang tepat dalam fakta pergeseran makna toleransi ini.

Jangan pernah menganggap sebuah kelainan orientasi seksual adalah hal yang ‘biasa’ pada masa kini karena itu dapat menjadi peluang ia akan ‘bisa’ paten di masa depan. Perjuangkan jangan sampai pergeseran makna toleransi mampu mempengaruhi kebijakan perundang-undangan negara bahkan melunturkan nilai-nilai agama. Masa depan Indonesia ada pada generasi kita. Bila hari ini kita diam, bila hari ini kita masih saja tidak perduli, kelak kehancuran kehidupan itu kita temui. Perbaikan sejak hari ini, lindungi generasi masa nanti !

Samarinda, Februari 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung