KAMMI & Tarakan

Merajut Pembangunan Karya Anak Bangsa
February 16, 2018
Notulensi Jaulah Kewirausahaan
February 22, 2018

(oleh : Sulthan Nur Hidayatullah, S.E.
(Ka. Departemen Pembinaan Kader KAMMI Kaltim Kaltara)

PENGANTAR

Bismillah. Atas tekad bersua dalam setiap nafas yang keluar berjuang dan yang terhirup dalam berfikir oleh gerakan KAMMI maka dibuatlah tulisan ber-edisi tentang “KAMMI dan Kaltim Kaltara part 2” yang part sebelumnya ialah tentang KAMMI & Kaltim Kaltara secara umum (baca: KAMMI & Kaltim Kaltara kammikaltimkaltara.com) . Membahas seluk beluk kondisi KAMMI di Kaltim Kaltara dan selanjutnya akan menjelaskan realita serta peluang KAMMI di setiap daerahnya berdasarkan peninjauan saya di lapangan. Tulisan ini bersifat sebuah opini ringan yang saya buat demi melengkapi khazanah pluralitas gerakan KAMMI di Kaltim dan Kaltara agar mudah di cerna oleh berjuta ghiroh dan melahapnya menjadi cinta atas kinerja KAMMI.

KAMMI & Tarakan

Salah satu gerak ‘harokatul tajnid’ di KAMMI ialah membuka lahan, dimana ada mahasiswa dan pemuda maka KAMMI harus memiliki tahapan mendirikan cabang-cabang dakwahnya disana. Secara logika, membuka lahan tentu membutuhkan pengorbanan yang sangat banyak, ibarat investor perusahaan maka ia harus mengeluarkan banyak modal terlebih dahulu dan tentu ini menguji mentalitas seorang manusia akan ketidak pastian. Namun, masa itu telah di lewati KAMMI tarakan 7 tahun yang lalu.

Mari mengenal KAMMI Komisariat Tarakan yang termasuk salah satu Komsat Daerah yang dibawahi oleh PW KAMMI Kaltim Kaltara. KAMMI Tarakan di dirikan pada 2010 silam, dengan menugaskan beberapa ‘alumni’ pasca kampus untuk membangun KAMMI di daerah tersebut. Awal gerakan dan rekruting ini begitu aktif, benarlah pepatah mengatakan “Jika iman sudah melekat, jihad terasa nikmat”, Dimanapun seorang kader dakwah di mutasi maka selalu hatinya tertaut untuk Allah. Tarakan merupakan salah satu daerah yang menjadi saksi bagaimana para Alumni KAMMI yang berkualiatas berdakwah tanpa perlu namanya di kenal oleh dunia.

“Ketika awal saya mengenal KAMMI begitu gencar para pendahulu saya dalam merekrut terutama dalam tahapan membina.” Begitulah pengakuan salah satu generasi awal rekruting di Tarakan, yang namanya baru tentu membutuhkan pengokohan dan salah satunya adalah pembinaan kader, basic masa ketika itu sangatlah sedikit sehingga dalam sambilan melakukan ‘harakatul amal’ memang perlu memenuhi kuantitas. Memang begitulah dakwah ini mengajarkan kita, ibarat sebiji buah yang di tanam dan menumbuhkan banyak buah di kemudian hari.

Setiap zaman akan berubah, dan setiap perubahan menciptakan medan-medan yang berbeda. Hari ini tentu berbeda dengan hari kemarin, KAMMI Tarakan di tahun 2017 hingga 2018 memiliki nilai kuantitas yang berbeda dari sebelumnya dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi KAMMI Tarakan yang harus ber-inovasi dalam menyambut kader dan memperdayakan kehadiran mereka karena 62 hal ini akan berpengaruh terhadap komitmen internal gerakan. Bilamana ada kader namun tidak diperdayakan makan munculah kebingun dari kader itu sendiri, begitu juga apabila ada kafer namun tak dibina maka akan mengguncang kondisi hati yang hari ini bahkan kita terus berlomba-lomba antara al haq dan bathil dalam memprovokasi raga dan jiwa manusia.

Pertanyaannya, bagaimana optimasi penyambutan kehadiran kader tersebut ?

Beginilah nafas gerakan pengkader, berbicara merekrut bukan sekedar membuka gerbang tanpa mempertahankan, ibarat tamu masuk ke rumah tapi tidak ada orang rumah, maka yang ada antara mereka keluar dari rumah itu tanpa apa-apa atau mengambil harta di rumah itu dan pergi. Dan ini menjadi PR tersendiri bagi pemangku jabatan dan para ideolog yang benar-benar menghadirkan dirinya pada Mahasiswa Tarakan dan dakwah KAMMI di Tarakan. Karena pada fitrahnya inovasi yang efektif itu hadir bilamana kita menjatuhkan diri di lapangan dan mampu menganalisanya tanpa mengadukannya dengan rasa pesimisme juga membanding dengan materialisme.

Tantangan rekruting dan ide ide gerakan yang tentu hadir di Kaltim Kaltara berbeda-beda, problem solvernya pun berbeda-beda. Tarakan termasuk memiliki kampus yang mahasiswanya hadir dari luar daerah tersebut dan  juga berkarakter pekerja sehingga kecintaannya pada Tarakan tentu berbeda dengan penghuni asli juga watak kuliah sambil bekerjaan menciptakan idealisme pada gerakan sedikit menurun, berbeda apabila mereka sudah memiliki pemahaman tersendiri yang membuat mencari ‘maisah’ tidak meruntuhkan idealismenya dalam berperan. Karena hal Maka KAMMI Tarakan memang akan berfikir dua kali bagaimana mengatur hal ini, baik dari segi membangun tujuan kepentingan sampai membangun kepentingan.

Sebagai penutup, dibalik hal hal dinamis yang terjadi pada dakwah KAMMI Tarakan maka adapula orang-orang yang terus berkorban, yang bahkan pengorbanan mereka benar-benar menempatkan sebagian dirinya untuk KAMMI. Itulah kenapa di tengah masih banyaknya kader yang apatis tentang dunia pengkaderan dan gerakan ini, KAMMI Tarakan masih berdiri sambil menyusun perkembangan geraknya kedepan. Walau mereka masih kesulitan dalam melakukan AKO (Analisa Kondisi Organisasi) tapi kehadiran mereka di lapangan akan menciptakan RPO (Rencana Pengembangan Organisasi).

Sulthan Nur Hidayatullah
(4 Februari 2018)

Teman diskusi hangat bersama Arman (Ketua KAMMI Tarakan 2017), Agustina (Ka. Kaderisasi KAMMI Tarakan 2017) & Kang Dullah (Mantan Ketua KAMMI Tarakan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung