MEMAKNAI PERJALANAN

Notulensi Jaulah Kewirausahaan
February 22, 2018
Notulensi Diskusi ILMUAN (Ikatan Silaturahim Muslimah Negarawan)
March 2, 2018

MEMAKNAI PERJALANAN

Duduk sejenak, lihatlah lebih dekat!

 

Nur Ahlina Hanifah

(Kader KAMMI)

 

Perjalanan yang dimaksud dalam judul di atas memiliki arti yang luas. Tidak hanya sekadar perjalanan berpindah tempat, tapi juga perjalanan berpindah waktu, berpindah peran, dan lainnya. Perjalanan ini kadang menyibukkan kita. Membuat pandangan dan pikiran kita dipenuhi dengan banyak hal. Apalagi kita perlu menyeimbangkan antara urusan dunia dan urusan akhirat yang merupakan tugas kita sebagai seorang khalifah dan seorang hamba yang harus patuh pada segala perintah dan larangan Tuhannya.

Dengan begitu banyak kesibukan yang kita lakukan, kita dituntut untuk melaluinya dengan tepat waktu dan proses yang maksimal. Deadline-deadline yang diberikan sudah tidak terhitung lagi. Jadwal agenda, hasil rapat, notulensi diskusi, dan sebagainya begitu saja memenuhi setiap lembar buku catatan kita. Hingga tanpa disadari, kita sudah sampai di halaman terakhir.

Sampai di titik ini, mungkin kita telah melalui banyak hal. Hal positif yang memberikan manfaat pun hal negatif yang meninggalkan bekas luka. Di balik semua perjalanan yang sudah kita lalui, di balik semua tempat yang sudah kita jajaki, di balik semua peran yang sudah kita mainkan, apa hikmah yang bisa kita ambil di sana? Apa makna yang menjadikan semua perjalanan itu berwarna?

Tanpa sadar, selama disibukkan dengan perjalanan ini, terkadang kita justru malah kehilangan makna. Hal ini akhirnya membuat kita bertanya-tanya di tengah perjalanan, untuk apa saya di sini? Untuk apa saya melakukan ini? Apakah saya harus sampai ke tujuan atau cukup berhenti di sini? Pertanyaan yang bertubi-tubi ini dapat membuat perjalanan menjadi melelahkan tidak hanya dari segi fisik, tapi juga psikologis. Keraguan yang tadinya jauh, kini mendekat dan menetap. Tidak hanya keraguan pada diri sendiri yang muncul, tapi keraguan pada organisasi, keraguan pada amanah, dan lain-lain.

Pentingnya memaknai perjalanan adalah cara kita untuk lebih memaknai tujuan, peran, dan posisi kita saat ini. Hal ini juga berlaku pada kader KAMMI. Kader KAMMI tidak hanya sekadar tahu mengenai filosofi gerakan, ahli dalam strategi, dan berkawan dengan debu jalanan. Tapi, kita perlu memaknai semuanya. Filosofi tidak hanya sekadar diketahui, tapi juga dimaknai. Dimulai dari visi, “Wadah Perjuangan Permanen yang Akan Melahirkan Kader-kader Pemimpin Dalam Upaya Mewujudkan Bangsa dan Negara Indonesia yang Islami.”

Visi yang tercantum tidak hanya sekadar sebuah narasi atau sebuah formalitas yang harus dipenuhi oleh organisasi. Visi dalam KBBI yang berarti “pandangan atau wawasan ke depan”, harus benar-benar kita letakkan 5 cm di hadapan kita. Narasi itulah yang akan menjadi masa depan kita, yang menggelorakan semangat kita untuk ber-KAMMI. Jika kita bisa memaknai visi ini, kita tidak akan lagi hadir dalamagenda KAMMI atau mengikuti jenjang kaderisasi hanya karena ajakan atau titah dari seseorang.

Dengan makna, hal-hal yang kita lakukan akan muncul karena kesadaran. Dengan makna, perjalanan yang kita lalui lebih berwarna dan tidak berlalu begitu saja. Makna juga dapat menimbulkan berbagai rasa lainnya, seperti rasa syukur dan rasa cinta. Makna juga dapat meng-upgrade  keyakinan dan semangat perjuangan. Sama halnya dengan tulisan ini. Jika tidak dimaknai, hanya akan menjadi penghias dalam sosial media. Cepat atau lambat, tulisan ini akan berlalu tanpa memberikan pengaruh apa-apa. Mari duduk sejenak dan lihatlah lebih dekat bahwa KAMMI membutuhkan cinta dengan kritik, konsekuensi, dan makna!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung