Notulensi Diskusi ILMUAN (Ikatan Silaturahim Muslimah Negarawan)

MEMAKNAI PERJALANAN
March 2, 2018
Merajut Pembangunan Karya Anak Bangsa
March 2, 2018

Notulensi Diskusi

ILMUAN(Ikatan Silaturahim Muslimah Negarawan)

Senin, 5 Februari 2018 Pukul 16.30 – 18.00 WITa
Pemateri : Tri Lestari Handayani (Staff Bidang PP KAMMI Samarinda)

Moderator : Ria Rahayu (Staff Departemen Keperempuanan KAMMI UNMUL)

KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman

@Halaman Auditorium Universitas Mulawarman

 

 

  1. Prolog :

LGBT akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di telinga kita , beberapa pekan lalu Indonesia di Gemparkan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi yang “katanya” mendukung LGBT , Mahkamah Konstitusi yang merupakan The Interpreter Of The Konstitution and The Final Interpreter Of the Konstitusion dan juga sebagai The Protektion Of  Uman rigth dalam putusannya No 48/PUU-14/2016 perkara Uji Materil Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pasal 284 agar mengatur tentang perzinahan di luar pernikahan, pasal 285 tentang hubungan sesama jenis dan pasal 292 tentang menghilangkan batas umur , namun Uji materil ini di tolak dan menimbulkan makna Multi Tafsir yang sangat berbahaa, segelintir orang mengartikan bahwa Mahkamah Konstitusi Melegalkan LGBT di indonesia , padahal sebenarnya makna menolak uji materil bukan berarti mengamini kehadiran LGBT, tindakan Mahkamah Konstitusi bukan Melegalkan , tapi menolak perluasan tafsir 3 pasal di KUHP dan pembentukan aturan pun bukan Ranah atau kewenangan dari Mahkamah Kostitusi . Baru – baru ini indonesia di gemparkan lagi oleh mosi “ 5 Fraksi DPR setuju LGBT , timbullah kekhawatiran , khawatir hal ini secara legal di atur dan di akui , takut karena dapat mengancam moral generasi, dan ngeri karena hal ini secara terang dan jelas mengundang adzab ALLAH di negara Ketuhanan seperti INDONESIA karena DPR memiliki peran dan fungsi sebagai pembentuk kebijakan, hal inilah yang mendasari Perempuan KAMMI segera bergerak untuk membahas masa depan bangsa yang sekarang sedang terancam, memaksa perempuan selaku golongan mayoritas untuk mengambil sikap tegas terhadap 5 Fraksi DRP yang “katanya” setuju LGBT .

  1. Materi :

Perlu kita sepakati di awal bahwa LGBT merupakan penyakit kelainan seksual, dan sejatinya penyakit maka bisa di sembuhkan melalui beberapa proses penyembuhan, salah satunya rehabilitasi . Indonesia sendiri sudah terjangkit sebanyak 3% dari total jumlah penduduk yaitu sebanyak 7 Juta masyarakat Indonesia memiliki kelainan seksual ( LGBT ) , di Amerika selaku negara yang menganut konsep Liberal, hal ini di legalkan , tidak lain dan tidak bukan hal ini di peruntukkan untuk mencegah ledakan penduduk disana dengan menggunakan konsep Rekayasan Sosial ( Social Enginering ) hal inilah yang di jadikan kiblat oleh oknum-oknum yang pro LGBT dengan mengatas namakan Hak Asasi Manusi, padalah jika di pandang dari sisi filosofi Pancasila, negara amerika tidak bisa di jadikan kiblat karena negara Indonesia merupakan negara Ketuhanan sebagaimana yang termaktub di Pancasila sila pertama, selaku negara ketuhanan, tidak ada satu agamapun yang mengaminkan LGBT, ketika kita mengkomparasikan Negara, di Karabia sebanyak 40% korban yang terjangkit HIV akibat dari prilaku menyimpang ( LGBT )ini membuktikan bahwa dari sisi kesehatan , hal inipun sangat merugikan pelakunya sendiri. Hal ini juga bertentangan dengan norma agama, norma Hukum dan dari sisi legalitas, indonesia yang merupakan negara hukum yang menganut asas legalitas yang mengharuskan setiap tindakan, perbuatan dan kebijakan harus berdasarkan hukum tertulis atau hukum postif , sedangkan tidak ada satu aturanpun yang mengatur atau mengamini LGBT di indonesia, hal ini mengintruksikan pada seluruh rakyat indonesia bahwa LGBT adalah perbuatan yang tidak di kehendaki oleh negara Indonesia.

Nasib bangsa kita di masa depan di tentukan oleh tindakan kita hari ini, bukan hanya penggerak kebaikan saja yang bergerak, penggerak keburukan pun telah bergerak, baru baru ini telah berlangsung Konferensi Internasional LGBT yang di lakukan secara terstruktur dan masif , hal ini memaksa kita untuk segera bergerak melakukan penyelamatan generasi , maka bentuk sikap kita adalah :

  1. Melakukan tindakan prefentif atau pencegahan melalui edukasi dan pecerdasan
  2. Membentuk kajian yang menyeluruh
  3. Penanganan khusus untuk mengembalikan pelaku LGBT ke kodratnya seperti semula
  4. Menjaga nafas lembaga yang kontra terhadap LGBT yang mengadvokasi secara hukum seperti AILA agar selalu bernafas untuk memperjuangkan.
  5. Penggalangan dukungan dan memperbesar gerakan agar mendapatkan kekuatan untuk menekan kebijakan yang tidak di kehendaki rakyat

“ Solus populy supremalex : kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi”

 

                                                                                                         

Presented By :

Departemen Keperempuanan KAMMI UNMUL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung