Maknai, Lalu Tentukan Pilihanmu Menjadi Aktivis !

International Women’s Day
March 8, 2018
“Konsep Kesebangunan Sebuah Ummat”
March 14, 2018

oleh: Yuli Wulandari

(Kepala Departemen Keperempuanan KAMMI Universitas Mulawarman)

 

Sunyi menemani lelahnya kaki dalam melangkah setiap langkah hari ini. Kusempatkan menoleh ke tarian air genangan yang menguasai tempat bersejarah itu. Terhampar luas dengan rumput hijau sebagai ciri khasnya. Rerumputan itu tak kuasa meninggi karena hampir tiap sore tertindis dengan semangatnya pejuang. Namun kini terlihat berbeda, tinggi rumput di halaman itu hampir mengungguli mata kaki ku. Sembari berjalan aku sempatkan untuk sedikit menoleh pada kenangan beberapa tahun yang lalu, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di kampus tercinta Universitas Mulawarman. Sangat teringat bahwa, lingkaran-lingkaran yang memenuhi halaman ajaib itu hampir setiap sore aku temui. Wajar jika aku sering pulang sore meski statusku masih mahasiswa baru ketika itu, karena diawal perkuliahan aku sangat diribetkan dengan laporan praktikum.

Pemandangan yang selalu sama dan terus mengundang banyak tanya didalam hati, pertanyaan yang muncul pada sosok polos seorang mahasiswa baru. Apakah mereka kurang kerjaan ? Atau mereka terlalu banyak waktu luangnya ? Pertanyaan – pertanyaan seperti itu seperti menghantui alam pikiran ku. Singkat cerita, semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu pun terjawab bahkan kini aku menjadi salah satu pelaku dari mahasiswa yang sering membuat lingkaran di halaman ajaib itu, hehehe.

Banyak ide dan gagasan luar biasa yang tercetus ketika segolongan mahasiswa yang katanya ‘tak punya kerjaan’ membuat lingkaran-lingkaran diskusi di tempat ajaib itu. Taklim pekananan bubuhan mushola, konsolidasi bubuhan BEM bahkan sampai aliansi dari organisasi-organisasi eksternal pun tak mau ketinggalan untuk ikut serta membuat halaman ajaib itu menjadi tak sunyi bahkan terkesan seperti ruang rapat mahasiswa. Hamparan terpal plus dengan suguhan gorengan dan kibaran bendera organisasi menjadi pemandangan biasa ‘ketika itu’.  Hal itu yang membuat ku semakin cinta terhadap kampus, karena jiwa tak biasa diam dalam diriku menemui tempatnya di kampus.

Aktivis… Ya aktivis mahasiswa itulah sebutan untuk mereka yang ingin mengembangkan diri lebih jauh, membuka wawasan sekaligus memahami dan mendalami realitas kehidupan yang ada di sekitarnya. Menjadi seorang aktivis, terkhusus sebagai aktivis perempuan adalah salah satu peran yang saya pilih dan jalani hingga saat ini selain sebagai seorang pembelajar yang mencari ilmu serta pengalaman di Perguruan Tinggi. Salah satu organisasi yang saya pilih untuk menemani perjuangan saya adalah KAMMI UNMUL.

Keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah dan tak beralasan, ketika saya dihadapkan dengan tuntutan untuk berkontribusi dan memberikan solusi dari banyaknya permasalahan terutama dari kaum saya. Saya pun mendapatkan tekanan yang luar biasa untuk segera menyelesaikan studi di kampus. Hmmm, dilematis memang. Saya bertanya dengan diri saya sendiri, saya mau wisuda tepat waktu atau wisuda diwaktu yang tepat ? Alasan terkuat saya untuk teguh menjadi seorang aktivis adalah merealisasikan hadits Rasulullah Saw yaitu “Khairunnas anfa’uhum linnas” “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini.

Kisah heroik seorang Ketua BEM UI yang nekat memberikan kartu kuning untuk Pak Jokowi diacara Dies Natalis ke-68 UI beberapa waktu yang lalu, harusnya membuat kita sadar betapa keberanian itu bukanlah hal yang mudah. Cap abadi seorang mahasiswa sebagai segolongan manusia yang akan memberikan perubahan dan solusipun akan selalu menghantui jika hingga detik ini kita sebagai mahasiswa tak tersadar akan dan mulai tergerusnya ideologi sebagai seorang aktivis. Permasalahan bangsa yang semakin membumbung, apakah menjadikan kita kekurangan narasi untuk bergerak ? Halaman ajaib yang saya katakan sebelumnya pun kini tak seperti dahulu lagi. Jika dulu barisan rapat itu terdiri dari lingkaran-lingkaran mahasiswa melakukan diskusi, kini barisan rapat itu dihuni oleh pepohonan yang sekarang ditanam di halaman yang tak lagi ajaib itu.

Wahai saudara seperjuangan ! Bangunlah kita ! Bangkitlah kita ! Jangan gadaikan ideologi sebagai harta termahal yang kita miliki sebagai seorang mahasiswa. Lanjutkanlah perjuangan  ini, meskipun kita tak diijinkan terlebih dahulu untuk mengetahui hasilnya. Karena, Allah SWT hanya memerintahkan kita untuk terus berjuang tanpa memusingkan bagaimana hasil dari perjuangan itu. Jika almamater sebagai pakaian kebesaran hanya kita kenakan sebagai suatu kebangaan tanpa isi menjadi seorang mahasiswa, pantaslah jika Bangsa ini semakin sakit dan terluka.

Hidup Mahasiswa !

Hidup Perempuan Indonesia !

Hidup Rakyat Indonesia !

Biarkan saya mati mulia diatas jalan perjuangan ini”

(Yuli Wulandari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung