“Konsep Kesebangunan Sebuah Ummat”

Maknai, Lalu Tentukan Pilihanmu Menjadi Aktivis !
March 10, 2018
SYARAT LOMBA KAMMI KALTIM-KALTARA UNTUK MILAD KAMMI KE-20
March 25, 2018

Sejarah akan terus berulang. Suatu peristiwa-peristiwa yang telah berlalu, masa-masa yang lampau, maka akan berulang lagi. Ada baiknya kita juga selalu membuat teori-teori modern tapi kita juga perlu membaca literatur-literatur-litratur klasik. Kalau katanya Ibnu Khaldun dalam bukunya itu (buku Muqaddimah), beliau menjelaskan tentang konsepsi apa itu kekuasaan dan politik, -mungkin dulu kalau Karl Mark sempat membaca buku Muqoddimahnya Ibnu Khaldun itu, mungkin beliau tidak komunis. Mungkin masuk Islam- di buku beliau itu juga menyebutkan tentang bagaimana konsep Islam melihat pemikiran, bagaimana islam melihat solialisme. Mungkin karena Karl Mark belum punya literatur yang cukup menjawab terkait dengan bagaimana konsepsi Islam terkait dengan membangun manusia, ya akhirnya jadi sosialisme gitu. Kalo dari teori kristen kan agak jauh mengenai prinsip gereja dan sosialisme.

Ada yang menarik sebelum kita diskusi lebih jauh, Kata Ibnu Khaldun dalam bukunya itu, bahwa salah satu pendorong utama konsep kekuasaan adalah prinsip ash-shobiyah. Jadi prinsip bagaimana punya kesamaan, kesamaan rasa, kesamaan suku misalnya, kesamaan prinsip, kesamaan dalam hal-hal yang terkait dengan tujuan hidup ini. Karena waktu beliau nulis buku Muqoddimah itu, Islam sudah sempat mengalami masa-masa kejayaan, Kejayaan Andalusia, setah itu Andalusia runtuh dan sebagainya. Jadi sebenarnya sangat pas sekali dengan teori-teori yang ada.

Jadi slah satu terbentuknya kekuasaan katau kata Ibnu Khaldun itu adalah adanya ash-shobiyah. Dalam konteks sekarang ya itu memang benar. Kalau hari ini misalnya satu entitas komunitas tertentu tidak punya semangat ash-shobiyah, tidak mempunyai suatu hal bersama yang sangat kuat, ya nggak akan pernah berkuasa. Coba antum hari ini lihat orang-orang atau komuntas-komunitas yang berkuasa. Kenapa dia bisa memenagkan calon, kenapa dia bisa memenagkan pertarungan di tingkat level pilkada, pilpres misalnya, salah satu cirinya adalah karena dia punya semangat kelompoknya yang tinggi.

Bedanya politik Islam dan politik kontemporer yang dipelopori oleh Niccolo Marchiavelli, bedaya adalah ada sisi kemanusiaan. Kalau di Islam itu melihat politik adalah bagaimana selain merebut kekuasaan juga ada sisi kemanusiaannya. Makanya ketika kita berperang, maupun ketika Rasulullah berperang dengan sahabatnya itu, makannya prisip-prinsip kemanusiaan dijunjung lebih tinggi. Tapi beda dengan konsep politik barat pada hari ini, yang dipelopori oleh Niccolo Marchiavelli dalam bukunya yang terkenal itu, Sang Peguasa, karena mereka menghalalkan segala cara. Nah itu mungkin juga hari ini ada di kita, di bangsa kita hari ini, menghalalkan segala cara. Karena prinsip Islam tidak sepert itu, dalam konsep yang jelas. Nah ini yang membedakan  Islam melihat politik dengan kekuasaan dengan barat melihat politik dan kekuasaaan. Bedanya adalah sisi kemanusiaan tadi. Bedanya adalah bingkai, bingkainya adalah bagamana tujuan itu disesuaikan dengan kehendak dari Allah swt,. Kalau bahasa sekarang itu, bagaimana memanusiakan manusia.

Nah, itu yang di masyarakat kita yang tidak sampai. Bahwa politik itu bukan hal yang baik, tapi hal yang buruk.  Makanya orang jadi salah satu cirinya adalah mereka antipati terhadap politik, ya akhirnya tidak memilih. Akhirnya orang-orang itu saja yang mempunya kekuatan uang saja yang bisa menang. Makanya, perlu juga temen-temen di KAMMI mendorong suatu gerakan politik yang saya pikir mampu memberi pencerahan baru bagi ummat. Alhamdulillah pasca 212 itu luar biasa, tapi saya kira itu masih kurang. Perlu ada pendorong lagi dari teman-teman terkait dengan konteks penjelasan bahwa politik itu adalah hal yang baik. Meskipun dalam kenyataannya transaksionalnya kentara sekali,

Tapi kita perlu mendorong itu, perlu mencoba cara-cara barulah melihat politik ini, lebih enjoy, lebih tidak menegangkan. Saya kira bisa digagas oleh teman-teman, dengan melihat kejenuhan kita hari ini ya. Jadi klao teman-teman melihat pilpres, cuma 2 calon (Jokowi dan Prabowo), itu suatu yang tidak menarik sekali. Perlu cara-cara barulah dari teman-teman menyiapkan itu.

Selanjutnya Ibnu Khaldun juga menyampaikan, dalam buku Muqaddimah itu terkait dengan terbentuknya suatu negara. Dalam risetnya Ibnu Khaldun itu, Karena beliau tidak hanya sebagai penulis, tapi juga beliau praktek, praktisi langsung. Pernah juga menjadi sekertaris kabinet kalau bahasa sekarang itu. Beliau melihat bahwa negara terbentuk dalam 5 tahap.

  1. Tahap pembentukan negara.

Di mana prinsip ash-shobiyah tadi itu muncul. Jadi kalo tidak ada prinsip ashobiyah, negara itu tidak terbentuk. Makanya kenapa ketika kita lihat bangsa Mongol, bangsa tar-tar pada waktu itu bisa mengalahkan salah satu khalifah terbesar kita, khalifah di Irak. Ya salah satunya karena prinsip ash-shobiyah yang dimiliki oleh para bangsa Mongol tadi. Sehingga mampu bereksapansi ke mana-mana. Apabila hari ini komunitas tidak memiliki prinsip seperti itu, akan berat. Jadi kalau mau berkuasa itu harus punya prinsip itu dulu. Ya memang di satu sisi ash-shobiyah tidak baik karena lebih mementingkan kelompok misalnya. Tapi di satu sisi ketika kita berbicara tentang politik, tentang kekuasaan, maka itu harus ada. Ketika ada suatu kepentingan besar yang mempunyai dominasi kuat terhadap potensi dalam pemerintahan, jika punya ash-shobiyah yang hebat, pasti akan memimpin.  Antum lihatlah di kepemimpinan pasca khalifah. Pasca khalifah runtuh kan ada beberapa kerajaan-kerajaan yang besar

  1. Tahap pemusatan kekuasaan. Pada tahap ini prinsip ash-shobiyah mulai ditinggalkan.
  2. Tahap kekosongan. Pada tahap ini negara dalam tahap puncak kekuasaan. Negara mulai stabil dan perangkat-perangkatnya mulai disiapkan.
  3. Tahap kemunduran atau kemalasan. Pada tahap ini merasa hebat. Contohnya adalah ketika dinasti besar Islam yang bisa diruntuhkan oleh dinasti lain.
  4. Masa foya-foya. Pada masa ini terjadi masa kemunduran.

Di sini kita memahami ketika ingin berkuasa, kita mesti memikirkan tahapan-tahapan di atas. Seperti yang dilakukan Erdogan saat jadi Wali Kota Ankara: mulai belajar berkuasa, bukan hanya oposisi saja. Poinnya: bagaimana peran Islam ditampilkan dalam perpolitikan. Salah satu poin penting: “Tsabat” (keteguhan hati), keimanan diperkuat. Sesholeh apapun kita kalau masuk politik, bisa menjadi “debu”. Dengan tagline Muslim Negarawan, seharusnya bagaimana kita menjadi solusi di manapun, dengan landasan keimanan tadi.

Kalau kita lihat pilgub ini, wilayah pertarungan bebas: Berau, Kukar, Paser. Daerah lain cenderung telah menentukan pilihannya. Kalau teman-teman KAMMI bisa, garap peta demografi (pemilih) agar punya basis data.

Karena merubah masyarakat dengan cara cepat yaitu dengan kekuasaan

Taklim Pengurus ke-8

Jum’at, 9 Maret 2019

@Sekre PW

#KAMMIKALTIMKALTARA

#BAHAGIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung