Menyelami 20 Tahun Identitas KAMMI dalam Bingkai Pergulatan Reformasi

Pernyataan Sikap PW KAMMI Kaltimtara “Puisi Kontroversi Sukmawati”
April 2, 2018
Belajar Literasi dari Kehidupan Kartini & QS. Al-Alaq
April 21, 2018

Menyelami 20 Tahun Identitas KAMMI dalam Bingkai Pergulatan Reformasi
Oleh : Aditya Ferry Noor (Ketua Umum PD KAMMI Samarinda)

Genap pada usia 20 tahun, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) telah berkiprah menebarkan kontribusi terbaiknya untuk Indonesia. Dalam kesempatan pembukaan Mukernas yang bertepatan saat milad KAMMI pada 28 Maret 2018 lalu, ada beberapa hal yang disampaikan oleh ustad Mahfuz Shidiq selaku deklarator KAMMI sekaligus penulis buku berjudul KAMMI dan Pergulatan Reformasi. Lalu saya mengutip hasil diskusi bersama beliau dan disajikan kedalam tulisan ini.

KAMMI adalah organisasi ekstra kampus yang menjadi nahkoda dalam gerakan Reformasi. Apabila tidak ada KAMMI, Indonesia pun tidak akan pernah reformasi. KAMMI sebagai promotor arus baru yang mengusung jargon reformasi. Ditengah desakan arus gerakan kiri yang mengusung gerakan revolusi pada rezim saat itu, sehingga KAMMI membawa warna gerakan yang lebih soft ketimbang wacana dari gerakan kiri.

 

(Reformasi 1998)

Awal kelahiran KAMMI pada tahun 1998 ditandai dengan eskalasi gerakan parlemen jalanan lebih dari 11 titik kota-kota besar. Sehingga tidak ada kota yang aksinya tidak dicover KAMMI. Sebelum kelahiran KAMMI, selama 20 tahun ADK berfokus pada reorientasi paham agama Islam modernisme dan agak berjarak pada aktivitas sosial politik.

Lalu mulai kapankah issue sosial politik dikembangkan ? Bangkitnya kesadaran ADK untuk menyikapi issue sosial politik dimulai pada tahun 1994. Pada akhirnya tahun 1995 lah menjadi implementasinya. Sehingga ADK tidak hanya berfokus pada masalah agama, tetapi juga harus terjun kedalam peran sosial politik. Karena pada tahun 1995 tanda-tanda krisis moneter di Indonesia sudah muncul. Dan ternyata krisis lebih cepat terjadi di tahun 1997 dan sistematis.

Hingga akhirnya, ADK saat itu dipaksa untuk berperan terjun kedalam perpolitikan. Pada tahun 1996-1997, ADK mulai konsisten menyikapi permasalahan politik di Indonesia. Dan pada 29 Maret 1998 KAMMI di deklarasikan menjadi bentuk keseriusannya terjun ke dalam gerakan sosial politik.

Sebelum nama KAMMI tercetus, Dr. Suriadi lebih dulu menawarkan identitas gerakan dengan nama ALIMIN (Aliansi Mahasiswa Muslim Indonesia). Seakan kurang ideal, lalu ustad Mahfuz pun merespon dengan tawaran nama gerakan sebagai KAMMI.Menurut beliau, esensi KAMMI sebagai respon gerakan melalui aksi nyata. KAMMI lahir memang untuk beraksi, bukan sekedar kelompok diskusi. Mengapa menggunakan makna kesatuan ? Karena KAMMI bukan gerakan sporadis, tetapi harus tertata. Jadi diberi nama Kesatuan.

Lebih dalam daripada itu, basis sosial melalui ADK menjadi identitas ideologis Mahasiswa Muslim yang sangat penting dikolaborasikan untuk menyiapkan kader pembawa kemasalahatan umat dimasa depan. Dan KAMMI termanifestasikan dari gerakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) sebelumnya. Karena diharapkan nanti, spirit perlawanan Orba oleh KAMI di tahun 60an dapat dihidupkan kembali oleh KAMMI di tahun 98.

Melalui kiprah awalnya, KAMMI pun berhasil membuat titik pergulatan besar. Pertama, saat tekanan politik semakin besar, KAMMI melalukan aksi demonstrasi pertamanya pada tanggal 9 April 1998. Selama 11 hari kelahirannya, KAMMI mampu membuat gelombang demonstrasi di 11 kota berbeda. Kedua, eksistensinya gerakan KAMMI yang leading dan outstanding ditengah lesunya gerakan ekstra kampus. Dan KAMMI memaikan posisi strategis menjadi trigger (pemicu) bangkitnya gerakan lain.

Ketiga, performa KAMMI sebagai kelompok aksi demokratik andal yang visioner, konsisten dan moderat. Sehingga menjadikan Islam sebagai warna keperibadian anggotanya, tidak sekedar Islam simbolik. Karena gerakan-gerakan Islam pada saat itu lebih menampilkan eksistensi sebagai gerakan simbolik bukan sebagai gerakan aksi demokratik. Harusnya gerakan digunakan sebagai power yang bertujuan untuk mengelola negara.

KAMMI mampu menjadi organisasi ekstra kampus yang menyatukan antara aktivis dakwah dan penggiat demonstrasi. Sehingga tidak ada pembelahan entitas antara ADK dengan gerakan sosial politik. KAMMI saat itu mampu memadukan keduanya.

Penyatuan tersebut dinilai efektif untuk menjadikan peran KAMMI sebagai The Universal Opposition (Stephen P. Huntington) sebagai postulatnya. Karena KAMMI menyadari, merupakan keanehan apabila ada gerakan yang menjadi underbow rezim.

Apabila kita pernah membaca kisah Jalud, Talut dan Nabi Daud as. Singkatnya, kisah Jalud sebagai penguasa dzalim yang berhasil ditaklukkan oleh pasukan Talut. Tetapi Nabi Daud as. yang langsung membunuh Jalud. Setelah Talut meninggal, Nabi Daud lah yang menggantikan Talut sebagai raja. Nabi Daud merupakan representasi pemuda progressif revolusioner. Kehadiran KAMMI selama 20 tahun dianalogikan seperti perjalanan Nabi Daud as. Berawal dari pemuda, hingga kini KAMMI mampu menjadi jembatan sejarah dalam mengantarkan capaian kepemimpinan diberbagai lapisan.

Sebagai organisasi yang telah dewasa secara biologis. Penting bagi KAMMI untuk mengevaluasi momentum 20 tahun Reformasi Indonesia. Pertanyaannya, apakah capaian tersebut sudah sesuai dengan cita-cita KAMMI ? Dan jangan besar kepala dulu ketika KAMMI belum mampu didefinisikan sebagai gambar baru Indonesia.

Tahun 2030 akan terjadi perubahan geo politik besar di asia pasifik. Karena dapat menjadi pusaran konflik, hal ini sangat berdampak terhadap Indonesia. Indonesia akan terimbas masalah ketimbang kecipratan manfaat. Alhasil apa yang ditulis oleh P.W Singer dan August Cole melalui Ghostfleet bukanlah utopis.

Solusinya, harus ada elaborasi antara KAMMI dan KA KAMMI. Terutama bergerak dalam shifting issue-issue strategis. KA KAMMI harus menstimulus KAMMI menghadapi issue. Dan sebaliknya KAMMI rajin melakukan konsolidasi dengan KA KAMMI untuk menciptakan solusi. Secara strategis, peran alumni KAMMI sebagai penyambung sejarah dengan kepengurusan saat ini. Hasilnya, KAMMI mampu berperan secara horizontal dan vertikal untuk memproyeksikan potensi kader-kadernya.

Karena apabila dicermati, kondisi secara nasional pemimpin Indonesia saat ini tidak mau berfikir strategis. Sering kali berfikir hal kecil tetapi tidak pernah berfikir besar. Sedangkan permasalahan utama bangsa ini disebabkan oleh konspirasi negara lain. Indonesia dengan mudahnya diatur oleh bangsa lain. Bagaimana mungkin mencapai kemerdekaan yang hakiki apabila bangsa ini tidak dibiasakan untuk berfikir besar dan strategis ?

 

Pergulatan reformasi terus berjalan. Bahkan misi setelah ini adalah reformasi pemikiran. Secara perlahan tapi pasti, kader KAMMI didorong untuk memainkan paradigma (cara berfikir). Menjadi negarawan jelas tidak bisa berfikir sempit. Idealnya KAMMI harus terbiasa untuk membuka diri terhadap perbedaan dan membuat pemutakhiran diri yang diiringi usaha perbaikan untuk Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung