Belajar Literasi dari Kehidupan Kartini & QS. Al-Alaq

Menyelami 20 Tahun Identitas KAMMI dalam Bingkai Pergulatan Reformasi
April 18, 2018
Labirin Gerakan Post Reformasi
May 10, 2018

oleh: Endah Sri Lestari, S.S.
(Kepala Dept. Pemberdayaan Perempuan KAMMI Kaltimtara

Al-Qur’an sebagai rujukan pertama umat Islam menjadikan kita selalu mengkaji setiap ayat didalamnya. Wahyu pertama yang Allah turunkan menjadi referensi dalam tulisan ini. Ketika Allah menurunkan ayat pertama dalam QS. Al-Alaq : 1-5, tentu mengandung makna penting didalamnya. Tentu ayat pertama yang turun merupakan intisari dari mempelajari Islam itu sendiri. Seperti yang kita pahami bahwa ayat pertama yang turun mengajarkan kita untuk membaca. Dengan membaca kita akan mengetahui segala sesuatu dari ketidaktahuan. Itulah salah satu isyarat mengapa Allah menciptakan akal untuk manusia. Dengan membaca, kita menggunakan akal kita untuk berpikir, mengkaji, mengamati, dan sebagainya untuk memahami kehidupan ini. Justru ketika kita tidak membaca, akal yang Allah ciptakan justru membuat kita tidak memahami hakikat penciptaan manusia itu sendiri.

            Dalam mempelajari nilai-nilai dalam QS. Al-Alaq, kita akan menemukan satu sosok perempuan di zaman  penjajahan Belanda di Indonesia yang perlu kita kaji dan mengambil nilai positif dalam kehidupannya. Dialah RA. Kartini yang telah mendobrak budaya patriarki dalam tradisi jawa kuno. Budaya patriarki telah membelenggu kaum perempuan yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasan atas perempuan dalam segala aspek tanpa memperhatikan hak perempuan itu sendiri. Perempuan dipandang makhluk yang lemah dan tidak  memiliki hak yang sama dengan laki-laki hingga perempuan termarginalkan dalam kehidupan. Pada masa kartini, perempuan khususnya mereka yang berasal dari keluarga bangsawan, hanya memiliki satu tujuan dalam hidup yaitu menjadi Raden Ayu yaitu menikah dan mengabdikan diri pada pria yang menjadi suami mereka.

            Kartini memiliki pemikiran dan melakukan perubahan yang tidak dilakukan oleh perempuan di zamannya. Dia telah dipingit sejak umur 12 tahun hingga membuatnya tidak memiliki kebebasan untuk berinteraksi dengan orang diluar rumahnya. Kartini adalah anak dari bupati Jepara yang membuatnya harus mengikuti tradisi kehidupan bangsawan saat itu. Ayahnya menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun sebab menurut kebiasaan ketika itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk ‘dipingit’. Kartini harus dipingit sejak umur 12 tahun hingga ada laki-laki yang melamarnya dan mengabdikan diri pada suaminya.

            Dalam pingitan, Kartini terkungkung secara fisik dalam rumah tetapi tidak dengan pemikirannya. Pemikirannya hidup dan berkembang dari aktivitasnya membaca. Hal ini tercantum dalam QS. Al-Alaq ayat pertama yang berbunyi Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” Wahyu pertama yang turun ini mengajarkan kita untuk membaca seperti yang dilakukan oleh kartini dan terbukti ia memiliki pemikiran yang maju dalam menghadapi kehidupannya. Walaupun, kartini belum memahami Al-Qur’an saat itu, tetapi kehidupannya menggambarkan makna dari ayat tersebut. Kartini seakan menjadikan seluruh kehidupannya hanya untuk membaca. Bahkan ia juga mengajak adik-adik perempuannya mengikuti jejaknya. Dari membaca ia terbebas dari budaya patriarki yang mengekang pemikirannya. “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” (RA. Kartini)

            Ayat kedua berbicara lebih spesifik, Khalaqal insaana min ‘alaq, ”menciptakan manusia dari segumpal darah.” Di ayat ini berbicara tentang hakikat penciptaan manusia yaitu dari segumpal darah. Dari kehidupan kartini, kita akan belajar bagaimana kartini memahami bahwa penciptaan manusia yaitu laki-laki dan perempuan itu sama. Kartini mulai memahami kedudukan perempuan dari aktivitasnya membaca buku-buku Eropa. Kartini berpikir bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam kehidupan. Perempuan memiliki hak untuk bersekolah, bekerja hingga mengabdikan diri untuk masyarakat. Tidak seperti yang ia dapatkan dalam budaya jawa kuno dimana perempuan hanya dirumah saja mengurusi urusan rumah tangga. Hal ini tidak meninggalkan kodratnya sebagai perempuan. Kartini tetap menjalankan tugas perempuan di rumah yaitu memasak, menjahit, dll. Dari membaca, kartini membuka gerbang dari keterbatasannya sebagai perempuan saat itu. “Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan dan kebutuhan kita sebagai kaum perempuan serta harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki – laki “. (RA. Kartini)

            Ayat ketiga yang berbunyi Iqra’ wa rabbukal akram “Membacalah, dan Tuhan engkau itu adalah Maha Mulia”. Ayat ini mengulang perintah membaca. Namun, ada dimensi lain didalamnya yaitu tentang kemuliaan Tuhan. Tujuan kita membaca adalah memahami bahwa kita adalah makhluk Allah yang berada dalam kekuasaan Allah. Dalam kehidupan Kartini, Kartini mulai mempelajari Islam ketika mengetahui arti dari QS. Al-Fatihah dari Kyai Sholeh Darat. Ia tertarik untuk mempelajari Al-Qur’an yang berisi tentang firman Allah lebih banyak lagi. Walaupun sebelum pertemuan itu, banyak kutipan kata-kata Kartini yang merupakan kritiknya terhadap Islam karena ia tidak dapat memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca. Saat itu belum ada terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Jawa hingga tidak ada yang mengetahui arti dari ayat yang mereka baca kecuali ahli agama saat itu. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902 (2 tahun sebelum Kartini meninggal), Kartini menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

            Ayat pertama sampai ayat ketiga mengajarkan kita untuk membaca, berbeda halnya dengan ayat keempat yang mengajarkan kita untuk menulis. Ayat keempat berbunyi Alladzi ‘Allama bil Qalam, Yang mengajarkan Manusia dengan Pena”. Dalam ayat ini, kita disadarkan bahwa kita tidak membaca sebagai aktivitas individual, tetapi juga aktivitas social yaitu dengan menggunakan pena (menulis). Membaca adalah gerbang untuk menyerap segala ilmu, sedangkan menulis adalah sarana untuk mengabadikan segala ilmu yang didapat dari aktivitas membaca. Hingga dari aktivitas menulis, kita akan menularkan ide-ide pikiran ke dalam kata-kata yang dituliskan dengan pena. Kartini terkenal dengan berbagai gagasannya yang dituliskan dalam surat-suratnya kepada sahabatnya di Belanda. Begitu banyak gagasan inspiratif yang ditulis oleh Kartini. Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini itu diterbitkan pada tahun 1911. Menulis adalah berjuang. Itu salah satu semangat yang saya pegang. Menulis membuat kita abadi. Dan dengan menulis kita bisa mengubah dunia. (Asma Nadia untuk perjuangan Kartini)

            Ayat kelima menjadi kesimpulan dari ayat pertama hingga keempat. Allamal Insaana Maa Lam Ya’lam, “Mengajarkan manusia apa-apa yang tak diketahuinya”. Inti dari aktivitas membaca dan menulis adalah mengajarkan manusia dari ketidaktahuan manusia itu sendiri. Makna pengajaran menjadi pelengkap dari aktivitas membaca dan menulis dengan selalu menjadi selalu menjadi pembelajar dalam kehidupan ini. Kartini menjadi sosok pribadi perempuan yang selalu belajar bahkan dalam pingitan. Ia selalu mengamalkan dan mengajarkan apa yang ia ketahui. Bahkan satu cita-cita terbesarnya adalah mendirikan sekolah perempuan bahkan menjadi syarat ia menerima lamaran suaminya saat itu. Ia ingin mendirikan sekolah bagi perempuan, karena ia memahami bahwa perempuan harus cerdas layaknya laki-laki yang diberi kebebasan mendapat pendidikan. ”Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya. Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool (Agustus 1901)”.

            Dari kehidupan Kartini dan QS. Al-Alaq, kita akan belajar tentang literasi yang terdiri dari aktivitas membaca, menulis dan pengajaran. Islam mengajarkan dalam wahyu yang pertama hingga kelima untuk membaca untuk membuka gerbang ilmu, menulis untuk mengabadikan ide dan pengajaran untuk menyebar apa yang kita pahami dari membaca dan menulis. Dari kehidupan Kartini, kita juga memahami bagaimana Kartini menjadi sosok figur yang telah mengamalkan nilai – nilai dalam QS. Al-Alaq: 1-5 tersebut. Hingga Kartini telah mengubah Indonesia bahkan dunia khususnya Belanda dari tulisan-tulisannya. Dari tulisan pula yang menjadikan Kartini dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Sebagai muslim kita senantiasa menjadi pembelajar sejati dan salah satu sosok yang perlu kita pelajari adalah ibu kita Kartini dari budaya literasinya dan perjuangannya untuk kaum perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung