Labirin Gerakan Post Reformasi

Belajar Literasi dari Kehidupan Kartini & QS. Al-Alaq
April 21, 2018
Peringati Nakba Palestina, Aliansi Masyarakat Selamatkan Al-Aqsa Kaltim Gelar Aksi Damai
May 12, 2018

Samarinda – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) terlahir pada tanggal 29 Maret 1998. Gerakan ini lahir dengan semangat responsif terhadap permasalahan bangsa saat itu.

Hingga kini, setiap kadernya mewarisi keyakinan bahwa KAMMI adalah gerakan pembaharu yang menjadi antitesa jenuhnya gerakan mahasiswa yang nyaris buntu.

Ide dan gagasan pembaharu yang dinantikan mentok dalam koridor keyakinan pada filosofi gerakan. Setiap kadernya rontok sebelum berkembang memahami untuk apa filosofi organisasinya diciptakan.

Era 90’an adalah klimaks dari jenuhnya rakyat atas kekuasaan yang mengendalikan opini secara absolut. Setiap suara sumbang yang bertentangan akan menjadi target operasi pembungkaman. Tragis.

Tak heran maka saat itu ketika massa demonstrasi dianggap sebagai pahlawan dan pemberani. Mempertaruhkan nyawa demi bersuara melawan tirani.

Tak sedikit mereka hilang bahkan hingga kini sekedar kabar jasadnya pun tak pulang. Hal ini menjadi resiko yang harus dibayar demi satu cita-cita. Menang.

Pasca reformasi gelombang kemerdekaan opini mendapatkan garansi. Argumentasi berhadap-hadapan di sana-sini. Aksi demonstrasi semakin marak terjadi. Hingga proyek NKK/BKK seperti bereinkarnasi.

Gerakan mahasiswa dibuat mandul sebelum mekar. Mentalnya dileburkan oleh materi. Pandangannya dibuat kabur dalam memahami prestasi. Belum lagi generasi milenial yang harus dilayani dengan event-event beranggaran tinggi.

Hal ini tak bisa dibiarkan terus-terusan terjadi. 20 tahun reformasi tak elok rasanya dirayakan dengan nostalgia heroisme tanpa membawa substansi. Terjebak rutinitas adalah akar masalah yang harus segera diatasi di sela kenyataan nahkoda harus segera diganti 12 bulan sekali.

Bagaimana mungkin memperbincangkan narasi tanpa evaluasi kritis dan nalar gerakan yang sehat. Sementara sense of crisis dan sense of belonging mahasiswa terhadap bangsanya terus-terusan dikikis.

Apa yang kita banggakan dari reformasi ? Jika saat itu ekskalasi membangun kekuatan masa nyaris dieksploitasi media hanya dari aksi demonstrasi ?

Sementara saat ini ? Sikap skeptis mahasiswa justru hadir dan ditujukan kepada para pelopor gerakan. Inisiator gerakan yang mengejawantahkan sifat kritis melalui kritik kerap kali dituding partisan dan berpihak.

Inilah era post reformasi. Gerakan seolah terbelah menjadi dua kutub yang saling berhadapan. Padahal ini hanya upaya devide et impera. Lagu lama dengan aransemen baru sementara si penyanyi tak berubah. Antek kapitalis yang haus kuasa.

Alternatif perjuangan telah terpaparkan dengan komprehensif dalam filosofi gerakan KAMMI. Hanya saja para pendahulu tak merincikan to do list yang menjadi ladang pahala bagi kita. Generasi pemikul beban selanjutnya.

Alternatif perjuangan pun harus dimunculkan. Tidak hanya sekedar membumikan poros ekonomi politik alternatif yang kita ketahui idealnya harus dimiliki oleh rakyat.

Alternatif perjuangan terdeteksi pada paradigma dan karakter gerakan dari KAMMI itu sendiri. Perjuangan KAMMI sebagai organisasi dakwah sekaligus tempat bernaung para orator ulung, tak boleh stagnan sampai disitu.

Sementara masih ada kekuatan ekonomi politik tirani yang harus dilawan dengan aspek sosio independen. Serta kekuatan intelektual profetik yang mampu menjawab tantangan zaman.

Generasi milenial tak selalu harus dimanjakan. Benar kita perlu menyambutnya dengan suka cita lengkap dengan sumber daya teknologinya. Namun mereka berhak mengetahui dengan apa sebaiknya mereka melanjutkan cita-cita kemerdekaan maupun substansi perjuangan dari reformasi itu sendiri.

Gerakan politik ekstraparlementer harus kembali dievaluasi. Mempertahankan pondasi sembari memperkaya narasi melalui peningkatan kualitas literasi dalam menjalankan fungsi advokasi.

Perjuangan belum selesai, kita punya alternatif perjuangan melalui berbagai gerakan yang konstitusional dan juga mengasyikkan. Jangan lupakan bahwa selain sebagai agen perubahan, pengendali sosial hingga cadangan pemimpin masa depan, kita masih memiliki 2 fungsi yang kerapkali terabaikan.

Mahasiswa adalah penjaga nilai (Guardian of Value) sekaligus gerakan yang berkekuatan moral (Moral Force). Hal inilah yang hilang dari peredaran.

Mari kenali platform organisasi untuk berjuang agar paham kemana kita akan bergerak dan apa yang akan kita capai. Jangan lelah untuk memperbahrui semangat, sebab jika kemauan itu tiada maka kita akan kehilangan segalanya.

Bergeraklah. Buat bangga Indonesia karena masih ada pemuda seperti anda.

Sampai jumpa di persimpangan jalan.

*

Samarinda, 9 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung