[STOP] TERROR !

“Resolusi Untuk Menjayakan Indonesia Menuju Tahun 2045” “Pendidikan Awal Dari Segalanya”
May 16, 2018
Notulensi Diskusi Online “Budaya Literasi & Intelektualitas Perempuan KAMMI”
May 20, 2018

 

[STOP] TEROR !

oleh : Yuli Wulandari

(Kepala Bidang Keperempuanan KAMMI Universitas Mulawarman)

 

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(Q.S An-Nahl [16] : 125)

 

            Tertanggal, Minggu 13 Mei 2018, Indonesia kembali digemparkan dengan rentetan ledakan bom yang  terjadi di kota Surabaya. Sekitar pukul 06.30 WIB setelah jemaat di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel hendak melaksanakan ibadah, ledakan terjadi. Bunyi ledakan terdengar hingga sejauh 100 meter dari lokasi kejadian, alhasil warga yang  berada di sekitar gereja pun panik dan  berlarian untuk menyelamatkan diri. Selisih beberapa menit, tepatnya pukul 07.15 WIB ledakan kembali terjadi di gereja yang berbeda. Ledakan kedua terjadi di Gereja kristen Indonesia yang hanya berjarak kurang lebih 5,1 KM dari Gereja SMTB. Dalam suasana yang semakin kalut, kepanikan pun belum berakhir. Karena sekitar pukul 07.53 WIB, ledakan kembali terjadi di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya yang hanya berjarak kurang lebih 2,8 km dari lokasi ledakan di Gereja Kristen Indonesia. Hingga malam tiba, kabar ledakan bom di Jawa Timur terdengar lagi, kini terjadi di kota Sidoarjo pada pukul 21.15 WIB. Teror bom keempat tepatnya di sekitar kawasan Rusunawa  Wonocolo Sepanjang Sidoarjo. Semua kajadian teror bom yang terjadi dalam satu waktu ini telah menimbulkan korban meninggal dan luka-luka. Keesokkan harinya serangan bom kembali terjadi di Kota Surabaya, kali ini yang menjadi objek serangan adalah Kantor Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5).

            Ledakan yang terjadi dalam waktu yang hanya selisih menit dan hari di Jawa Timur lantas menjadikan Indonesia kembali tertampar dengan kejadian ini. Ternyata bangsa kita belum selesai dengan masalah terorisme yang selalu menjadi mimpi buruk, dan sewaktu-waktu akan kembali terulang. Tindakan keji yang baru terjadi ini tentu menambah panjang kasus terorisme yang telah terjadi di Indonesia. Pastinya kejadian ini membuat luka yang baru akan sembuh lantas kembali terluka lagi. Paham-paham radikal, menebar kebencian, dan menebar teror tentu tidak diajarkan oleh agama apapun terutama agama Islam. Seperti yang telah disampaiakan oleh Presiden Republik Indonesia dalam pidatonya yang disampaikan kepada publik menanggapi kasus peledakan bom di Surabaya yang baru terjadi, “ Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apapun. Semua ajaran agama menolak terorisme apapun alasannya” (Jokowi Dodo).

            Manusia membutuhkan perdamaian dan persatuan agar terciptanya kehidupan yang diinginkan. Namun, setiap persoalan yang muncul seakan-akan menjadikan semua seperti rancu ketika muncul istilah terorisme. Tidak ada satupun agama yang membenarkan aksi terorisme, termasuk Islam yang sangat menuntun umatnya agar menghindari aksi-aksi brutal seperti itu. Dalam setiap pemberitaan kita sering mendengar bahwa tindakan terorisme yang terjadi muncul sebagai aksi jihad fisabilillah, tentu hal ini sangat menyulut amarah dan kecewa bagi semua muslim. Karena, tudingan-tudingan tidak bertanggungjawab ini sengaja untuk digulirkan sebagai bentuk penyebararan virus Islamophobia di negeri ini. Sebagai umat muslim, kita harus menyakini bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Seperti yang tertulis dalam FirmanNya, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadaNya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Q.S Al-Anfal-61).

            Makna Jihad Fisabilillah yang sering disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dan tidak menginginkan bangsa ini bersatu dengan segala perbedaan yang dikandungnya tentu sangat disayangkan. Padahal jika ditelusuri lagi sejarahnya, peperangan di zaman Rasulullah Saw bukanlah ajaran terorisme. Menjalankan kehidupan berdasarkan aturan yang telah terkonsep dalam Islam dengan benar, seperti bekerja, menuntut ilmu, menjadi pemimpin yang baik juga merupakan bagian dari Jihad Fisabilillah. Tidak ada pesan radikal, kebencian, rasisme, dll yang selama ini dituduhkan. Maka dari itu sudah menjadi tanggungjawab bersama, kita sebagai warga negara yang harus turut serta membantu pemerintah untuk memerangi oknum-oknum di negeri ini yang dengan sengaja menebar teror.

            Tindakan terorisme yang baru-baru saja terjadi di negeri ini, tentu kedepannya kita tidak lagi mengharapkan terulang lagi. Apalagi ledakan bom yang  di surabaya dan sidoarjo lalu, terajdi diawal menjelang bulan suci ramadhan 1439 H. Semua awal dari kehidupan kita menginginkan seperti lembaran kertas putih, namun sedikit ternoda dengan noda kelam yang sengaja ditabur. Kita juga harus mendukung pemerintah untuk segera mengusut tuntas kasus-kasus terorisme di negeri ini baik yang barusan terjadi ataupun yang sudah lama berlalu, karena bukan tidak mungkin teror-teror yang lain akan menghantui jika kita membiarkan dan tidak mengusut dengan serius kasus terorisme ini. Cabut tuntas sampai ke akar-akarnya oknum-oknum yang menjadi dalang atas kejadian-kejadian menebar teror bagi bangsa ini. Karena, permasalahan ini adalah permasalahan bersama dan harus menjadi tugas bersama untuk menyelesaikannya.

            Sebagai warga negara tentulah sangat diharapkan agar kita bersikap tenang dan harus memperkuat tali persaudaraan antar umat untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. Meski kelompok radikal ISIS telah mengakui bahwa mereka bertanggungjawab atas ledakan bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo baru-baru ini, lantas kita tidak terpancing dengan hasutan mereka. Terutama bagi semua umat muslim di Indonesia, untuk tetap bersikap santun dan menjawab semua tudingan-tudingan tidak benar yang dilayangkan kepada mereka dengan akhlakul karimah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, meski dalam keadaan terhimpit dan dihujani dengan fitnah, kita sebagai seorang muslim lantas tidak tersulut emosinya dan tetap berbuat baik kepada siapapun. Bhineka tunggal ika harus terus diperjuangkan, karena itu adalah semboyan kita dalam berbangsa yang tidak hanya menjadi tali pengikat kemajemukan namun telah menjadi darah yang terus mengalir dalam tubuh bangsa ini.

“Sebagai manusia menjadi suatu kewajiban untuk terus berusaha dan berdoa, untuk hasil serahkan semua kepada Allah SWT. Persoalan penilaian manusia itu menjadi hak mutlak mereka, yang perlu diingat mereka hanya menjadi pelengkap hidup kita bukan yang menentukan hidup kita. Seberapa sempurna apapun diri kita berperilaku tetap saja kita akan terlihat pincang didepan mata manusia, yang mana mata manusia itu memiliki keterbatasan dalam memandang. So, tetap Istiqomah dalam proses kebaikan kita masing-masing. Karena waktu terus berjalan, tanpa mentoleransi masa lelah kita.”

(Senja Yuli)

 

MERDEKA !

HIDUP INDONESIA !

 

#LawanTerorisme

#IndonesiaBersatu

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung