Notulensi Diskusi Online “Budaya Literasi & Intelektualitas Perempuan KAMMI”

[STOP] TERROR !
May 18, 2018
[ Reformasi 2.0 ]
May 21, 2018

Pemantik : Alikta Hasnah Safitri  (Penulis Buku, Pengurus KAMMI Sholahuddin Al Ayyubi UNS 2011-2016)

Moderator : Endah Sri Lestari (Kepala Departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Kaltimtara)

Assalamu Alaikum warohmatullahi wabarakatuh,

Selamat malam sahabat keperempuanan KAMMI, terimakasih atas partisipasinya dalam Diskusi Online malam ini yang akan membahas terkait

BUDAYA LITERASI DAN INTELEKTUALITAS PEREMPUAN KAMMI

Alhamdulillahi rabbal ‘alamin, puji syukur atas nikmat Allah karena kita dapat bertemu sapa di ruang diskusi meskipun terbentang laut dan gunung, dan hanya bisa menatap layar hanphone masing-masing 😃, tapi semoga tidak mengurangi keberkahan lingkaran ilmu ini.

Sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad, Nabi agung yang menjadi suri tauladan kita. Semoga di Yaumil Akhir nanti kita diberi syafaat oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Aamiin Allhumma Aamiin.

Budaya Literasi dan Intelektualitas Perempuan KAMMI
(Prolog Diskusi Online Bidang Perempuan KAMMI Kaltim-Kaltara)

Perempuan dan Intelektualitas

Belum lama ini, saya membaca sebuah buku karya Annemarie Schimmel berjudul My Soul is A Woman: Aspek Feminin dalam Spiritualitas Islam. Buku ini membahas secara apik tentang peran perempuan (dalam kacamata Islam) lewat pembacaan dan eksplorasi pada banyak litratur karya para Sufi. Schimmel telah membuat sebuah kritik yang berkualitas terhadap para feminis Barat yang sejak lama mendiskreditkan peran perempuan dalam Islam. Lewat buku ini, Schimmel mengajak para pembacanya untuk merenungkan tentang kesetaraan perempuan, teladan Nabi tentang bagaimana memperlakukan perempuan, serta bagaimana Al-Qur’an memandang perempuan dan perannya dalam kehidupan.

Jauh hari sebelumnya, saya membaca novel karya Nawal el Saadawi (sastrawan Mesir) berjudul Perempuan di Titik Nol. Novel ini merupakan sebuah kritik sosial tentang kebobrokan sebuah masyarakat yang dikisahkan lewat Firdaus, perempuan pelacur yang tengah menunggu hukuman matinya di penjara. Novel ini, dengan apik memberikan pesan bagi saya tentang keharusan setiap perempuan untuk berjuang dan mendapatkan hak-haknya, juga kewajiban setiap manusia untuk menegakkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan bagi sesama, tanpa terkecuali.

Dua penulis perempuan tadi adalah sedikit contoh dari para pejuang literasi yang menggaungkan pesan pada dunia tentang peran perempuan dalam tatanan masyarakat dunia. Bagi saya, keduanya merupakan intelektual. Seorang intelektual, kata Edward W. Said (dalam bukunya yang berjudul Peran Intelektual) adalah “pencipta sebuah bahasa yang menyatakan yang benar kepada yang berkuasa.” Mengamini apa yang disampaikan Said, bagi saya pribadi (meminjam istilah Tan Malaka), seorang intelektual adalah mereka yang memiliki ketajaman pikir dan kehalusan rasa. Dengan pikirnya yang terasah tajam, ia mampu memetakan persoalan, menyampaikan kritik sekaligus alternatif solusi. Dengan kehalusan rasa yang ia miliki, ia akan menumbuhkan sikap welas asih dan keberpihakan pada mereka yang tertindas dan diperlakukan tidak adil.

Sosok perempuan Islam di Indonesia yang lekat dengan peran intelektualnya bisa kita teladani dari sosok Nyai Walidah, istri Kiai Ahmad Dahlan. Ketika masyarakat kala itu menganggap bahwa perempuan yang ke luar rumah untuk urusan publik adalah aib, Nyai Ahmad Dahlan mendobrak stigma tersebut dengan “blusukan” ke berbagai pelosok daerah untuk menyampaikan ceramah agama dan berbagai urusan publik yang berkaitan dengan organisasinya, ‘Aisiyah (sayap perempuan Muhammadiyyah, berdiri tahun 1922). Ide pembentukan ‘Aisiyah ini merupakan ide futuristik yang melampaui zamannya. Sebuah strategi sejarah dan kebudayaan yang hasilnya bisa kita lihat hari ini: 30% kuota perempuan sebagai anggota dewan, pembentukan sayap organisasi perempuan di organisasi mahasiswa (Bidang Perempuan KAMMI, contohnya), dll.

Perempuan dan Budaya Literasi

RA Kartini mungkin tak akan menyangka bahwa kumpulan surat-suratnya akan dibukukan dengan judul yang amat indah, Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menyebarkan pengaruh bagi emansipasi perempuan di negerinya. Soe Hok Gie mungkin tak akan menduga bahwa catatan hariannya menjadi buku Catatan Seorang Demonstran (bahkan di angkat ke layar lebar dengan namanya sebagai judul film). Ahmad Wahib barangkali akan bereaksi sama dengan kedua orang sebelumnya ketika tahu bahwa catatan hariannya diterbitkan dengan judul yang cukup kontroversial: Pergolakan Pemikiran Islam, dan menjadi sumber referensi sekaligus catatan sejarah bagi para penerusnya di organisasi. Ketiga tokoh ini meninggal dalam usia yang sangat muda, tetapi ketiganya meninggalkan catatan berharga yang menjadi pemandu dalam menyingkap tabir sejarah serta kunci hikmah dalam menjelajah masa depan.

Melalui tiga tokoh ini, kita belajar tentang pentingnya budaya literasi. Ketiganya menuliskan pembacaan yang mereka peroleh dari buku, hasil diskusi dan perdebatan yang mereka lakukan dengan rekan/sahabatnya, serta ide dan gagasan yang coba mereka aplikasikan secara riil dalam kehidupan nyata. Baca, diskusi, tulis nyatanya merupakan kunci aktivisme yang tak akan pernah mati.

Sebagai aktivis organisasi mahasiswa, kita tentu tak berharap bahwa beberapa puluh tahun dari sekarang, semangat aktivisme yang lahir saat masih menempuh studi di perguruan tinggi ternyata hanya menyisakan jejak digital berupa caption yang tak lebih dari 100 kata. Kita tentu menginginkan ide serta gagasan yang kita tawarkan pada organisasi, pemerintah, sistem, atau bahkan otokritik pada diri menjadi catatan panjang yang berbasis keilmuan yang dalam, pemikiran yang jernih, serta argumen yang matang. Hingga kelak, kita akan berbangga menyaksikan gagasan kita hidup dan menjadi warisan yang akan menyingkap tabir sejarah dan menjadi kunci hikmah dalam menjelajah masa depan.

Saat ini, kita perlu melakukan dinamisasi dalam melakukan proses penumbuhan budaya literasi dalam kehidupan organisasi. Sebab, pada kenyataannya tidak semua level organisasi memiliki perhatian yang seimbang dalam mengembangkan budaya literasi, kaderisasi, peran sosial kemasyarakatan, atau menjalankan peran politiknya di arena kampus. Titik keseimbangan diperlukan untuk menjaga agar semua peran ini dapat berjalan beriringan, bukan malah dibenturkan satu sama lain dengan ragam alasan. Kolaborasi strategis antar penanggung jawab program yang terencana serta komitmen yang teguh dari tiap personil yang terlibat menjadi gerbang pembuka menghidupkan budaya literasi dalam kehidupan berorganisasi.

Untuk hal ini, saya hanya ingin mengutip apa yang ditulis Hamka dalam bukunya, Pribadi Hebat. “Apakah yang disebut kewajiban dan apakah arti kewajiban yang sebenarnya? Kewajiban sejati adalah sesuatu yang diperintahkan oleh hati sendiri, bukan yang diperintahkan orang lain.”

Sebagai kawah candradimuka aktivis pergerakan mahasiswa, idealnya KAMMI mampu menjadi produsen ide dan gagasan yang akan menjadi solusi bagi permasalahan umat dan bangsa. Idealnya, sebagai wadah dari para akademisi yang tengah menempuh studi di kampus, KAMMI mampu melahirkan generasi penerus yang akan mengisi segala sektor kehidupan dengan berbekal keimanan yang teguh serta keilmuan mendalam yang teruji selama menjalani kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

Maka, yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah: sanggupkah kita menghidupkan rasa wajib dalam diri untuk senantiasa belajar sepanjang hayat, menghidupkan budaya membaca, diskusi dan menulis karena sadar betapa pentingnya menjaga ruh literasi sebagai motor penggerak peradaban?

Sesi Tanya Jawab

🎤Pertanyaan 1:

Dalam hal ide dan gagasan tentunya sbg kader KAMMI banyak sekali yg bisa di aplikatifkan dalam tulisan mba… Nah, namun dalam mengolah tulisan ini saya merasa cukup sulit dalam mengungkapkan kalimat yg lugas, punya kekhasan tersendiri, mudah dimengerti, efektif, dan berjiwa milenial. Gimana caranya supaya tulisan kita itu bisa bersubtansi tapi enak di baca gtu mba?

Jawaban

Saya rasa, setiap orang memiliki karakter khas dalam tulisannya. karakter khas ini dipengaruhi oleh berbagai hal, misal: genre buku yang kita baca, jenis tulisan yang kita sukai, diskusi atau obrolan yang kita lakukan dengan lingkungan pergaulan kita. Semua aspek tadi akan sangat berpengaruh terhadap apa yang kita tulis. Meskipun tidak terkesan milenial, tulisan Pak Yusuf Maulana (alumni KAMMI) sangat enak dibaca, karena kedalaman ilmu dan keluasan wawasan beliau. jadi, soal genre, sebenarnya hanya selera. yang terpenting adalah kita memulainya. dari hal kecil pun tak masalah, misal: notulensi diskusi, notulensi syuro. saya rasa, penting untuk kita mendokumentasikan dua hal tadi agar taurits yang kita wariskan pada generasi setelah kita tak terbatas pada LPJ, tetapi dinamika dan dialektika yang kompleks dalam diskusi/syuro tsb.

🎤Pertanyaan 2:

Memang literasi adalah salah satu media yg hari ini patut dijadikan pertimbangan membangun manifesta berfikir menggiring opini, dan rekayasa sosial. Gimana caranya membangunkan para perempuan milenial yg hobi buat caption untuk tertarik menulis dan sadar akan pentingnya literasi mba?

Jawaban

Mulai dari caption sudah bagus, kok. Konten tulisan di sosial media kan udah banyak berkembang ya sekarang. caption yang ringkas dan ngena akan lebih “laku” daripada tulisan-tulisan panjang. tapi, pertanyaan selanjutnya kan: seriously, sekedar caption? Kita bisa lebih lagi. Mereka yang hobi nulis caption itu udah punya semangat literasi lho, dukung terus dia agar selalu memberikan konten positif pada setiap unggahannya.

🎤 Pertanyaan 3:

Bagaimna caranya menghadapi stagnan saat menulis mba, kadang sering banget nulis tiba2 idenya habis atau gagasan menghilang gtu?

Jawaban

Kalau saya kehabisan ide saat menulis, yang saya lakukan adalah: memejamkan mata, menarik napas, membaca tulisan saya kembali, menemukan gagasan yang rumpang dan tidak utuh dalamm tulisan saya, mulai membaca referensi lain sebagai pembanding, kemudian menulis lagi.

🎤 Pertanyaan 4:

Peran perempuan dalam dunia sosial ini seperti apa dan sejauh mana? Dan intelektual yang bagaimana sih yang harus perempuan miliki dalam bersosial dan bermasyarakat. Salah satunya sebagai aktivis kampus. Menjadi kader kammi merupakan sebuah tantangan, karena dakwahnya lebih ke perpolitikan atau syiasih, nah di kampus saat pemira, kongres dan sebagainya dibutuhkan akhwat yang benar2 siap dan tangguh dalam semua kondisi. Jadi apa dan bagaimana menepatkan peran perempuan yang memiliki intelektualitas itu ? Dan bagaimana memberikan pemahaman kepada teman akhwat kita bahwa akhwat itu memiliki itu semua?

Jawaban

Peran kita sebagai manusia akan sangat bergantung dari status yang melekat pada diri kita. Saat kita masih jadi mahasiswa, peran intelektualitas kita tercermin dari kemampuan kita menguasai bidang studi yang telah kita pilih untuk kita dalami, menjadikan kemampuan akademik tsb sebagai pisau analisis dalam menyelesaikan problematika sosial yang kita temui di sekitar. Seorang mahasiswa hukum/sospol, misalnya memiliki peran intelektual untuk menganalisa (mengkritisi jika perlu) kebijakan kampus/pemerintah/dewan mahasiswa yang tidak sesui peruntukannya sesuai ketentuan hukum atau keterterimaan dari rakyat/mahasiswa. Mahasiswa keguruan, misalnya, memiliki peran intelektual untuk mengawal kebijakan pemerintah tentang pendidikan, turut andil memberikan pendidikan bagi masyarakat sekitar (lewat TPA, TPQ, les gratis, bimbingan pada anak jalanan, dll). Intelektual adl mereka yang dengan keilmuan yg dimiliki, memetakan persoalan, dan memberikan tawaran solusi secara riil.
Dalam kehidupan sosial masyarakat pasca kampus, kemampuan awal yang mesti dimiliki seorang intelektual adalah beradaptasi dan berbaur di lingkungann masyarakat sekitarnya.
Di kampus, saya rasa, setiap kader KAMMI punya kecenderungan tertentu. Setiap kader KAMMI, saya rasa, berhak untuk menentukan di jalur mana ia akan berjuang. Apakah itu di bidang sosial kemasyarakatan, dakwah keagamaan, perpolitikan kampus, atau bahkan di seni panggung/teater. Saya berharap, setiap kader KAMMI memiliki pilihan untuk menentukan apakah dirinya menjadi seorang generalis-spesialis (mengetahui ragam keilmuan, tetapi memiliki spesialisasi khusus sebagai ladang juangnya) atau menjadi spesialis-generalis (menjadi seorang yang secara khusus belajar keilmuan tertentu, tetapi membuka diri untuk setiap pengetahuan baru). Artinya, jangan membuat sekat antara literasi, politik, sosial, keagamaan. Semuanya saling berkaitan, berhubungan, dan apabila semua kuat, maka dakwah pun akan tegak kokoh.

🎤 Pertanyaan 5 :

Bagaiman cara untuk membangun budaya literasi di kammi khususnya tuk kader perempuan?

Jawaban

Nah, yang mesti kita lakukan ternyata satu: menjaga semangat itu hadir dalam diri kita sendiri. Mencoba hadirkan diskusi yang berkualitas dalam setiap forum halaqah, mencoba menulis setidaknya dua halaman esai pendek tentang apa yang akan di bahas dalam halaqah, mendokumentasikan diskusi yang kita lakukan dalam halaqah tadi dalam bentuk tulisan. Ini hal sederhana yang bisa kita mulai dari diri sendiri. Saya pernah mencobanya, terasa berat, tetapi menantang.
Di level organisasi, kita bisa membuat kolaborasi antar semua bidang terkait untk menghidupkan semangat literasi ini.
Misal, bidang kaderisasi punya manhaj buku yang harus dibaca oleh kader. Bidang kebijakan publik, menggelar diskusi buku tsb dan relevansinya dengan apa yang kita hadapi hari ini. Bidang perempuan mengadakan nonton dan diskusi bareng film yang memiliki kaitan dengan buku tsb, bidang media komunikasi informasi, membuat dokumentasi dan laporan yang ciamik pada publik, dll.

🎤 Pertanyaan 6:

Apakah semuanya harus dituliskan? Bahkan hal-hal teknis sekali pun? Khawatir dihari kemudian tulisan tersebut sebenarnya sesuatu yang tak perlu tersebar luas.. Pendapat mbak bagaimana?

Jawaban

Nggak perlu semua, kok. Semoga kita dibekali kebijaksanaan untuk menuliskan apa yang memang perlu untuk dituliskan, dan menyimpan apa yang selayaknya menjadi kerahasiaan.

🎤 Pertanyaan 7:

Bagaimana cara memberanikan diri/ meyakinkan diri untuk mempublikasikan tulisan kita?

Jawaban

Cukup dengan “memberanikan diri” saja. Berani untuk bertanggung jawab atas apa yang telah kita tulis dan sebarkan.

Penutup
Membaca memberi nutrisi bagi pikiran, berdiskusi mampu memberikan kritik yang memperkaya gagasan, menulis menjadi bingkai penguat argumentasi, dan implementasi menjadi bagian tak terpisahkan dari gagasan dan wacana yang terangkum dalam tulisan

Terima Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung