MEMAKNAI PERJALANAN : Duduk Sejenak, Lihatlah Lebih Dekat!

[ Reformasi 2.0 ]
May 21, 2018
GERCEP Kaltim Gelar Sosialisasi Pemilih Pemula, Ini Materi Yang Disampaikan
May 28, 2018

oleh : Nur Ahlina Hanifah
(Ketua KPIS Samarinda)

Perjalanan yang dimaksud dalam judul di atas memiliki arti yang luas. Tidak hanya sekadar perjalanan berpindah tempat, tapi juga perjalanan berpindah waktu, berpindah peran, dan lainnya. Perjalanan ini kadang menyibukkan kita. Membuat pandangan dan pikiran kita dipenuhi dengan banyak hal. Apalagi kita perlu menyeimbangkan antara urusan dunia dan urusan akhirat yang merupakan tugas kita sebagai seorang khalifah dan seorang hamba yang harus patuh pada segala perintah dan larangan Tuhannya. Hal ini tersurat dalam firman Allah, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi”…” (QS. Al-Baqarah: 30)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Dengan begitu banyak kesibukan yang kita lakukan, kita dituntut untuk melaluinya dengan tepat waktu dan proses yang maksimal. Deadline-deadline yang diberikan sudah tidak terhitung lagi. Jadwal agenda, hasil rapat, notulensi diskusi, dan sebagainya begitu saja memenuhi setiap lembar buku catatan kita. Hingga tanpa disadari, kita sudah sampai di halaman terakhir.

Sampai di titik ini, mungkin kita telah melalui banyak hal. Hal positif yang memberikan manfaat pun hal negatif yang meninggalkan bekas luka. Di balik semua perjalanan yang sudah kita lalui, di balik semua tempat yang sudah kita jajaki, di balik semua peran yang sudah kita mainkan, apa hikmah yang bisa kita ambil di sana? Apa makna yang menjadikan semua perjalanan itu berwarna?

Tanpa sadar, selama disibukkan dengan perjalanan ini, terkadang kita justru malah kehilangan makna. Hal ini akhirnya membuat kita bertanya-tanya di tengah perjalanan, untuk apa saya di sini? Untuk apa saya melakukan ini? Apakah saya harus sampai ke tujuan atau cukup berhenti di sini? Pertanyaan yang bertubi-tubi ini dapat membuat perjalanan menjadi melelahkan tidak hanya dari segi fisik, tapi juga psikologis. Keraguan yang tadinya jauh, kini mendekat dan menetap. Tidak hanya keraguan pada diri sendiri yang muncul, tapi keraguan pada organisasi, keraguan pada amanah, dan lain-lain.

Pentingnya memaknai perjalanan adalah cara kita untuk lebih memaknai tujuan, peran, dan posisi kita saat ini. Hal ini juga berlaku pada kader KAMMI. Kader KAMMI tidak hanya sekadar tahu mengenai filosofi gerakan, ahli dalam strategi, dan berkawan dengan debu jalanan. Tapi, kita perlu memaknai semuanya. Filosofi tidak hanya sekadar diketahui, tapi juga dimaknai. Dimulai dari visi, “Wadah Perjuangan Permanen yang Akan Melahirkan Kader-kader Pemimpin Dalam Upaya Mewujudkan Bangsa dan Negara Indonesia yang Islami.”

Visi yang tercantum tidak hanya sekadar sebuah narasi atau sebuah formalitas yang harus dipenuhi oleh organisasi. Visi dalam KBBI yang berarti “pandangan atau wawasan ke depan”, harus benar-benar kita letakkan 5 cm di hadapan kita. Narasi itulah yang akan menjadi masa depan kita, yang menggelorakan semangat kita untuk ber-KAMMI. Jika kita bisa memaknai visi ini, kita tidak akan lagi hadir dalam agenda KAMMI atau mengikuti jenjang kaderisasi hanya karena ajakan atau titah dari seseorang.

Apalagi jika kita kaitkan dengan latar belakang KAMMI sebagai salah satu pihak pencetus reformasi Indonesia 1998. Darah yang mengalir dalam tubuh KAMMI merupakan darah perjuangan. KAMMI lahir, bertahan, dan terus berkembang sebagai antitesa kebathilan. Hal ini membuat KAMMI membutuhkan para penggerak yang menghadirkan diri dengan penuh kesadaran. Dengan makna, hal-hal yang kita lakukan akan muncul karena kesadaran. Dengan makna, perjalanan yang kita lalui lebih berwarna dan tidak berlalu begitu saja.

Makna juga melahirkan rasa syukur dan cinta. Makna dapat meng-upgrade  keyakinan dan semangat perjuangan. Sama halnya dengan tulisan ini. Jika tidak dimaknai, hanya akan menjadi penghias dalam sosial media. Cepat atau lambat, tulisan ini akan berlalu tanpa memberikan pengaruh apa-apa. Mari duduk sejenak dan lihatlah lebih dekat bahwa KAMMI membutuhkan cinta dengan kritik, konsekuensi, dan makna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung