BAYANG-BAYANG PILGUB KALTIM 2018

Peran Perempuan di Era Teknologi Sebagai Kontribusi Abad 21 Untuk Mewujudkan Indonesia yang Madani
July 12, 2018
Menyambut, Melanjutkan Hingga Membekas (Babak Estafet Dakwah)
July 14, 2018

(Minggu, 26/11) kammikaltimkaltara.com SAMARINDA – Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) yang mengangkat tema Sinergisitas Kerja Bersama KAMMI Kaltim Kaltara untuk Jayakan Indonesia 2045. Agenda besar KAMMI ini menghadirkan beberapa delegasi dari daerah Kaltim-Kaltara. Sebayak 10 orang dari Samarinda, 4 orang dari Balikpapan, 1 orang dari Bontang, 3 orang dari Kukar, 1 orang dari Paser. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu pembahasan program kerja dan grand design perbidang dan evaluasi perjalanan PW, PD, PK Kammi khusus serta pembahasan MOU. Kegiatan yang berlangsung di Gedung LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan).

            Selain itu, masih dalam rangkaian Rapimwil, malam harinya dilanjutkan dengan Dispub (Diskusi Publik) Diskusi Mahasiswa dan Rakyat  (SUARA) yang bertempat di  Kantor Gubernur, Ruang Ruhui Rahayu lantai satu. Acara diskusi publik berlangsung pukul 18.30 Wita ini menghadirkan narasumber ; Prof. Dr. H. M. Jafar Haruna, M.S. (anggota Komisi 1 DPRD Kaltim), Dr. Hj. Meiliana (Asisten 1 Gubernur Kaltim), Muhammad Taufik, S.Sos, M.Si. (Ketua KPU Kaltim), Dr. Jamil, S.Pd, M.AP (Akademisi), Yuli Fitrianto, S.Sos. (Pengamat Politik Kaltim).

            Diskusi dibuka dengan menyannyikan lagu Indonesia raya secara bersama-sama, dan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Kammi Kaltim Kaltara.

Prof.  Jafar Haruna, memberikan pandangannya terkait Kaltim, Uni Eropa memberikan penghargaam kepada KPU di seluruh Indonesia dan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kalimantan Timur mendapat rangking pertama dari segi pemerataan, peserta dan calon, yang mencapai 80 persen partisipasi publik. Lanjut beliau partisipasi politik saat ini, tidak seantusias dahulu.

            Kebuntuan komunikasi politik yang terjadi di partai politik saat ini di Kaltim, kalau dihitung setiap partai politik seharusnya bisa mengusung empat calon. Tapi sampai hari ini hanya Pak Jaang yang siap menjadi calon dalam tantangan politisi/pejabat publik. Ada kesalahan apa sebenarnya di partai politik, pertanyaan ditujukan moderator kepada Prof Jafar.

            Beliau menanggapi, dari pertai demokrat sudah sangat siap, menyiapkan calonnya yaitu Syahrie Jaang. Sekalipun saat ini kondisi DPRD Kaltim, Partai Demokrat hanya memperoleh empat kursi sedangkan persyaratan untuk mencalonkan gubernur minimal memiliki sebelas kursi. Selama ini, partai demokrat sudah berkomunikasi dengan partai lain untuk berkoalisi dengan siapapun juga, untuk mencapai persyaratan tersebut. Kalau toh muncul, calon A, calon, B, calon C, atau yang mendampingi Syahrie Jaang, itu memang komunikasi politik mereka lakukan terhadap seluruh warga negara Indonesia ini yang ber-KTP Kaltim. Karena salah satu persyaratannya, harus memiliki KTP Kalimantan Timur. Lanjut beliau, saat ini sudah cukup longgar, karena KTP saat ini sudah KTP Nasional. Jadi, sekalipun KTPnya di Aceh sana, boleh saja. Dari awal beliau mengatakan bahwa, dari Pertai Demokrat tidak memiliki bayang-bayang, sudah rill. Seandainya pilgub dilaksanakan hari ini atau besok, mungkin Syahri Jaang yang kuasai bangsa ini, tutupnya.

            Berbeda dengan Prof. Jafar, ini tanggapan Pak Jamil selaku akademisi melihat kondisi saat ini, yang begitu cair, terlalu dimanmis, akhirnya bangku pilgub ini kemana-mana. Beliau sangat mengapresiasi perhelatan dikusi yang dilakukan KAMMI. Menurutnya sangat bagus, semoga bisa terus di laksanakan.

            Sebagai akademisi, perguruan tinggi memang harus turut andil dalam pelaksanaan ini. Bisa melaksanakan kebijakan politik melalui pembelajaran dan kegiatan mahasiswa. Jika  melihat tema yang diangkat, Bayang-Bayang Masa Depan Kaltim, menurutnya kita harus tegas dalam hal ini, karena kesejahteraan masyarakat Kaltim siapa yang bisa mengarahkan ke sana. Oleh karena itu, untuk mencapai masa depan Kaltim, perlu partisipasi  seluruh elemen msyrkt, salah satunya mahasiswa yang mengambil peran dan mengawal untuk pencapaiannya.

            Terkait hal ini, sebetulnya ada komunikasi yang kurang bagus, dimana-mana orang mudah sekali memasangkan siapa dengan siapa. Karena katanya, semua elemen masyarakat boleh saja mengajuka, sementara masalah seleksi urusan panitia. Publik harus memahami hal ini, dan saat ini berbeda sekali dengan tahun lalu, banyak sekali baliho bertebaran justru di lakukan oleh pejabat karir. Malah, calon-calon dari partai politik tidak muncul. Justru kalau ada even seperti ini, para calon itu harus siap untuk muncul di publik, dan memperlihatkan untuk tampil agar masyarakat melihat kapasitas, kapabilitas, kompetensinya, loyalitasnya, pengalamannya dan sebagainya. Barangkali nanti, Unmul bisa minta kepada BEM untuk mengundang semua calon-calon itu dan berhadapan dengan para akademisi.

            Selama ini (maaf), banyak kesalahan yang terjadi dari partai politik. Ketika melakukan seleksi lewat rekruitmen politik terlalu dini yang tidak diharapkan, setelah menjadi calon, dan didorong ke publik untuk diperkenalkan kepada masyarakat sedangkan, belum tentu masyarakat menghendaki hal itu. Calon independen juga perlu waktu untuk menyelesaikan administrasi itu, barangkali ada yang bagus. Penting untuk diingat bahwa fungsi-fungsi partai politik harus di jalankan, baik itu fungsi edukasi, fungsi sosialisasi, recruitmen, medan tropika, dan dalam hal ini diharapkan mahasiswa mengawal partai politik. Partai politik dan gabungan parpol harus melakukan seleksi terhadap calon yang bisa tampil sebagai kontestan dan membawa Kaltim menjadi lebih baik (kesejahteraan masyarakat). Kita harus berfikir possitif dan kritis terhadap permasalahan yang ada. Terlalu banyak orang yang lama berkuasa, akan berpotensi melakukan penyalahguankan kekuasan, namun tidak semua seperti itu. Barang kali ada masyarakat kita yang berpotensi, bisa kita beri panggung. Maka hal ini perlu juga masyarakat perhatikan.

            Lain lagi dengan pendapat Pak Yuli Fitrianto selaku pengamat politik Kaltim, menurutnya, jika bicara calon dari Partai Demokrat itu menarik sebenarnya, kalau diperhatikan di awal-awal ada deklarasi Jari, setelah itu kita dengar lagi bahwa Pak Syahrie Jaang berpasangan denga Kapolda, dalam satu minggu ini balihonya sendiri-sendiri. Calon yang lain juga menarik, seperti Cak Ros dan Awang Ferdi yang sampai sekarang belum deklarasi juga. Sebenarnya ada ketakutan luar biasa dari para calon, ada belenggu yang menjadi penghalang untuk mereka melakukan deklarasi, menurut beliau.

            Menanggapi pendapat Pak Jamil, Prof. Jafar menyampaikan apabila sseorang berkuasa terlalu lama, itu akan menimbulkan efek negatif uuntuk kekuasaan berikutnya. Menjadi walikota Samarinda adalah lingkup yang kecil, tapi sekarang ranah kita adalah lingkup yang basar, yaitu Provinsi Kaltim. Sebagai manusia biasa, walikota pasti memiliki keinginan mensejahterakan Kaltim dengan kondisi Kaltim saat ini. Beliau juga menanggapi Pak Yuli terkait berdeklarasi jari, itu adalah komunikasi politik yang di bangun Partai Demokrat dan Syahri Jaang kepada semua unsur. Kegiatan politisi setiap detik bisa saja berubah.

            Pertanyaan selanjutnya diajukan kepada Ibu Meliana sampai saat ini belum ada Calon Gubernur yang menawarkan visinya pasca Pak Awang. Menurutnya, kita tidak usah berbicara bayang-bayang, langsung saja yang mau jadi pemimpin itu yang bagaimana? Figur pemimin yang cocok nanti, yang transformatif, leadership, sosok pemimpin yang memiliki inovasi untuk membangun daerahnya. Banyak figur, seperti Bapak Ridwan Kamil, dan Ibu Risma.             Contoh saja Pak Ridwan Kamil yang membuat 150 aplikasinya, salah satunya e-budgedking, dan lain-lain. Seperti Ibu Risma yang berani, mau turun ke bawah, suka atau tidak suka, pemimpin ke depan itu yang memiliki inovasi yang banyak, dan model-model seperti mereka. Pemimpin ke depan itu harus berani, bisa kita lihat juga Pak Kadrie, yang mau, berani, integritas, tidak ada sangkut paut hukum, clean and clear. Pemimpin tanpa inovasi tidak akan menjadi pemimpin, karena inovasi tiulah yang mempunyai target kerjanya.     Sistem dipemerintahan sudah bagus, dan kemauan serta ketegasanlah yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin. Beliau juga melanjutkan, perlu untuk membangun komunikasi, baik itu di level bawah, karena kita banyak miss comunication, salah satunya demo. Maka komunikasikan dengan baik,  selain itu mempunyai loby yang kuat.

            Selain itu, terkait pembangunan di Kaltim dan melihat Samarinda saat ini yang menjadi ibu kota serta representasi Kalimantan Timur, pembangunan samarinda itu secara langsung juga akan melihat pembangunan Kaltim secara keseluruhan. Menurut Pak Sugeng, yang menjabat di Pemda, dan berkiprah di Samarinda selama 33 tahun, beliau  banyak memotret yang terjadi dalam perjalanan kehidupan kesehariannya. Di Samarinda, secara konteks sudah jauh ke depan. Dua puluh tahun LPJP saat ini sudah memposisikan diri mejadi kekuatan terbesar di Kalimantan. Kepemimpinan hingga Pak Syahri Jaang sudah mengedepankan dan mempersiapkan Samarinda menjadi kota metropolitan yang berwawasan luas.

            Namun, lagi-lagi karena di daerah-daerah  penghasilannya Sumber Daya Alam, selalu tergantung dengan pendanaan pusat, selain itu program kita selama dua tahun yang kurang baik itu juga menjadi keterlambatan pembangunan di Samarinda. Kalau APBD dua tahun lalu sebesar 4,4 triliun, saat ini utk 2018 hanya 2,030 triliun. Untuk belanja pegawai saja sudah menghabiskn 800 milyar, 1,2 milyar untuk pembangunan yang terdiri dari pembelajaan rutin OPD, sedangkan belanja wajib yang diamanatkan UUD hanya 371 milyar. Tidak lebih dari 14 juta 50 milyar ini, sulit untuk memenuhi presentasi dari msyrakat untuk menjadikan kota Samarinda maju dan pesat. Sedangkan luas Samarinda 718 meter persegi dengan uang segitu, agak sulit untuk memprioritaskan mana yang lebih dulu. Menurutnya hal itu tidak menghambat komunikasi, dalam penyusunan perencanaan yang diamanahkan UUD bahwa peranan itu pendekatannya melalui, demokrasi, partisipasi, politik, semua berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung