Menyambung Nafas, Katanya

Menyambut, Melanjutkan Hingga Membekas (Babak Estafet Dakwah)
July 14, 2018
[Press Release Samarinda Darurat Keamanan] – KAMMI Samarinda
July 17, 2018

Oleh : Puji Astuti

(Koordinator Kepemanduan KAMMI Kaltimtara)

Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi

Keikhlasan yang “naif” Nabi Ibrahim yang rela -demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (Q.S. Ibrahim: 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi turunan fikrah yang militan

Sepenggal kutipan dari buku “Pilar-Pilar Asasi” karya Ustazd Rahmat Abdullah yang baru kupinjam di Perpustakaan KAMMI Daerah Samarinda. “Alhamdulillah, beruntung aku meminjamnya, benakku”.

Dua hari ini aku disibukkan oleh suatu hal yang tak pernah habis dibahas walau usia telah habis batas. Itulah pengkaderan. Entah, selalu ada hal menarik jika berbicara tentang kader. Itulah uniknya mengelola “manusia” yang katanya salah satu ciri-cirinya adalah peka terhadap rangsangan, jika ingat pelajaran “ciri-ciri” makhluk hidup saat SD. Apakah jika sudah tidak peka, disebut bukan makhluk hidup? Entahlah…

Mengapa harus mengkader?
Agar ada penerus di pengurusan selanjutnya… Sungguh jawaban yang benar tapi kurang tepat.
Ideologisasi gerakan harus benar-benar sampai ke benak generasi penerus. Jika kemudian banyak kader yang siap jadi pengurus, itu adalah bonus. Kita tidak ingin menghasilkan kader jiplakan senior belaka, yang kata-katanya persis tak ada beda, hanya beretorika tanpa sarat makna.

Pekerjaan ini bukan pekerjaan instan, hanya mencetak AB1, AB2, AB3, dan kemudian jadi alumni. Perjalanannya sangat panjang. Ibarat penjelajahan dalam Pramuka, ada pos-pos tertentu yang harus dilewati. Bukan hanya dilewati, tapi diselesaikan dengan baik dan benar segala proses yang ada dalam setiap pos tersebut.

Itulah proses yang mempunyai tujuan dan hasil tertentu. Tugas kita adalah bagimana berjuang menyelesaikan proses itu dengan menyelesaikan segala tantangan yang ada dalam setiap posnya. Bukannya malah melewatkan pos agar cepat sampai ke tujuan. Alhasil, menjadi kader yang instan secara “prematur” yang perlu perawatan ekstra dan perhatian lebih melebihi kader “normal”.

Energi yang seharusnya digunakan untuk melaksanakan proses yang ada, habis digunakan untuk melakukan perbaikan dan perawatan ke-ideal-an seorang kader. Malangnya si “idealisme” yang banyak di-improvisasi untuk memperindah tampangnya, suaranya dan tingkah lakunya demi menutupi kekurangannya.

Lama kelamaan, terbiasa dengan tampilan improvisasi yang indah, tanpa tahu nada dasar sebuah idealisme. Jika kesalahan dibiarkan melenceng 1 derajat saja dari sumbu utamanya, maka jangan salahkan jika kesalahan semakin jauh dari jalur kebenaran apabila dibiarkan dalam waktu yang cukup lama. Memang tak sadar, karena hanya melenceng sedikit saja. semakin lama baru sadar jika jauh meninggalkan.

Sebenarnya tulisan ini hanya berpesan pada pribadi. Betapa pentingnya kader menjalani semua rangkaian kaderisasi yang telah disiapkan. MK Khos yang rutin, MK Klasikal yang rajin serta Dauroh Marhalah yang paling penting.
Semua saling berkaitan, Dauroh Marhalah, MK Khos, MK Klasikal dan Sertifikasi.

Keikhlasan seorang pemandu
Yang tak pernah ragu
Tak apa sekali-kali gagu
Yang penting mau belajar dan berguru

Ingatlah baiat
Yang selalu melekat
Walaupun raga tak ingat
Tapi telah terikat begitu erat

Menyambung Nafas Gerakan
Pemandu KAMMI
Awal 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung