Muslim Negarawan, Kejayaan Indonesia

Inspirasi Untuk Memotivasi
August 9, 2018
Narasi Literasi Negeri
August 20, 2018

Oleh : Denny Prayogo (Ketua Umum KAMMI Kaltim Kaltara 2018/2019)

Besok 17 Agustus , segenap rakyat dan berbagai elemen bangsa Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-73. Momentum tahunan ini diharapkan memicu bangsa untuk meraih kemerdekaan diberbagai bidang dan kalangan, agar kemerdekaan ini dirasakan di berbagai lapisan masyarakat.

Hari ini pun, tak perlu diragukan lagi bahwa dunia internasional sudah mengakui kemerdekaan Indonesia secara konstitusional.

Indonesia memang telah merdeka sejak 73 tahun yang lalu. Namun kemerdekaan itu harus ditingkatkan agar yang merasa belum sepenuhnya merdeka bisa merasakan arti merdeka, mendorong kemerdekaan yang bersifat lahir, batin, fisik, dan mental.

Menjelang pemilihan umum 2019, rakyat disibukkan dengan menghadapi berbagai kampanye dan mencari pemimpin yang tepat untuk Indonesia periode 2019-2024.

Setidaknya ada 14 partai politik yang tergabung dan siap beradu gagasan untuk merebut hati rakyat memenangkan kursi legislatif. Belasan kandidat yang menyatakan kesiapan memimpin bangsa di 2019, baik dari kalangan purnawirawan jendral, independen, partai politik, tokoh ormas dan kaum muda. Sebuah prestasi bangsa ini jika masih ada orang-orang yang siap dan berani mengambil tangggung jawab besar menjadi pemimpin.

Sebagai bangsa yang besar, kita dihadapkan dengan yang besar pula, pemimpin yang berkarir dan berjiwa besar yang dibutuhkan untuk men-drive Indonesia menuju kejayaan dan kemakmuran.

Ia pemimpin yang mencari jalan dan alur, menyelaraskan berbagai kepentingan menjadi kepentingan bangsa, yang memperdayakan kekuatan kelompok menjadi kekuatan bersama, dia yang mempunyai karakter dan keberanian, kepercayaan diri dan keyakinan, dan dia yang memiliki kapasitas serta memiliki pemahaman yang mendalam atas problematika bangsa ini.

Dalam kondisi inilah rakyat dihadapkan pada suatu pilihan, siapa yang mumpuni membawa bangsa keluar segala keterbatasan.

Hajatan setiap 5 tahun ini, rakyat seolah seperti raja yang diposisiskan sangat terhormat dan terbujuk, namun kerap kesamaan tekad yang jujur antara rakyat dan elit penguasa semakin dirasakan. Pasca reformasi ’98 mobilisasi kesadaran itu makin memperbesar dan menjadi bola salju perubahan.

Kita harus bersyukur atas banyak kemajuan yang ada dengan tetap konsisten dan terus melanjutkan agenda reformasi. Meski disadari momentum reformasi ternyata belum cukup untuk membawa perubahan keseluruhan.
Kegamangan terasa dengan keinginan sebagian rakyat ingin kembali ke masa lalu, yang lebih punya harapan kesejahtraan meski hilangnya kebebasan berpendapat.

Krisis pangan menjadi indikator pertama bagi ketidakberhasilan orde reformasi yang memberi keutuhan mendasar bagi rakyat. Beberapa kali pemerintah harus melakukan ekspor. Begitu pula keironisan energi, negeri ini menyimpan kekayaan yang besar, dalam perut buminya namun gagal menyediakan energy yang cukup dan terjangkau bagi rakyatnya, beberapa kali harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan di era reformasi.

Sejak pemerintahan Gus dur, Megawati, SBY, Hingga yang sekarang Jokowi. Alasan klasik selalu muncul ke permukaan _”menyesuaikan harga dunia”_ namun bagaimana laporan investigasi beberapa media yang menilai adanya kebocoran biaya produksi, kesalahan manajamen, korupsi serta mafia minyak. Tentulah setiap orang banyak yang mengangap ada yang salah dalam mengelola dan memanfaatkan kekayaan negeri ini.

Kita juga dihadapi dengan krisis keuangan melonjaknya harga dollar yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, belum lagi melonjaknya hutang negara yang hingga saat ini mencapai Rp 4.800 triliun.

Krisis di berbagai bidang telah menyita energi dan kepercayaan diri pemimpin dan rakyat yang dapat mengarah pada kemunduran. Dibutuhkan keberanian berlebih dan upaya menghitung kembali kekuatan untuk bangkit.

Yakinlah, Indonesia adalah bangsa yang besar, dengan sejarah panjang memperjuangkan, merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Inilah bangsa yang benar-benar memperjuangkan kemerdekaannya dari awal. Menurut beberapa pengamat, hanya Indonesia dan Vietnam di Asia Tenggara yang merebut kemerdekaan dengan sempurna dari penjajah, bukan hadiah ataupun konsensus. Kemerdekaan yang sempurna inilah yang harus terus dikobarkan dan diwariskan pada setiap generasi bangsa.

Maka kita memerlukan pemimpin yang mampu membawa perubahan, yang bersiap memikul tanggung jawab besar mengelola krisis menjadi potensi dan kekuatan kebangkitan.

Muslim Negarawan adalah tawaran KAMMI tentang model kepemimpinan tangguh yang memiliki ciri :
Pertama, spiritual yang mendalam. Pemimpin mewakili ideologi mayoritas rakyatnya. Sehingga pengetahuan dan implementasi ajaran Islam dalam diri seorang pemimpin menjadi kekuatan yang dapat dijadikan teladan bagi rakyat. Tidak peduli bentuk negara yang dijalankan, bahkan yang paling liberal sekalipun, agama tetap menjadi barometer moral untuk menjadi pemimpin.

Kedua, idealis dan konsisten. Syarat penting meraih kepemimpinan adalah konsistensi pada idealisme dan garis perjuangan yang senantiasa berpihak pada rakyat. Idealis dan konsisten tercermin sebagai kredibilitas moral seorang pemimpin yang terus diperhatikan publik. Inilah yang kemudian menjadi penilaian rakyat sebelum menjatuhkan pilihan pada calon pemimpinnya.

Ketiga, ilmu yang luas dan pemikiran yang mapan. Pemimpin harus lebih dari rakyatnya pada sisi intelektualitas dan wawasan. Intelektualitas dapat dinilai dari kualifikasi akademis dan kepakarannya, serta perhatiannya terhadap satu masalah secara mendalam, misalnya ekonomi, teknologi, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Sedangkan wawasan yang luas menuntut pemimpin harus generalis, memahami berbagai hal untuk mengambil keputusan dan tindakan.

Keempat, terlibat langsung dalam pemecahan masalah umat dan bangsa. Setiap pemimpin akan dinilai track record-nya dalam pemecahan masalah di setiap level kepemimpinannya. Pemimpin puncak harus mengambil keputusan setiap saat dengan berbagai variasi masalah yang melatarinya, dan hampir semuanya pelik dan dilemmatis. Karena itu seorang pemimpin harus berpengalaman dalam banyak model pengambilan keputusan, percaya diri, berkarakter dan berani.

Kelima, menjadi perekat berbagai komponen demi kemajuan bangsa. Kapasitas diplomasi dan jaringan harus teruji bagi setiap pemimpin dan calon pemimpin. Pemimpin adalah refresentasi satu atau beberapa kelompok yang sekaligus harus mengelola berbagai kelompok masyarakat dengan perspektif yang beragam. Dia harus menguasai nilai budaya lokal dan global, namun juga memiliki fleksibilitas dan kecerdasan dalam memimpin.

Kelima hal tersebut tidak boleh berhenti pada konsep yang idealis, haruslah membumi dalam langkah-langkah nyata secara menyeluruh yang mendorong multiplier effect kemajuan.

Kita membutuhkan skenario masa depan Indonesia yang berangkat dari ide besar, pelaku perubahan, kesamaan visi, dan sumber daya. Blueprint itu harus dirangkai secara sistematis dan dapat direalisasikan. Pemimpin perubahan harus berani membangun strategi opensif dengan menyusun peta dunia baru yang dicita-citakan menuju tatanan dunia yang diinginkan, lebih beradab. Jika hal ini bisa dikerjakan dalam rangkaian sistematis untuk tujuan kebaikan bersama, maka akan menuai hasil yang gemilang.

Suatu negara bisa memilih warga negara yang diinginkan, sebaliknya seorang bisa memilih kewarganegaraan mana yang dinginkan. Semua berdasarkan uang, negara menginginkan warga yang kaya dan teratur, manusia menginginkan kebebasan dan fasilitas.

Maka, memposisikan semangat nasionalisme sekedar dalam perspektif cinta tanah air dan bangsa tidak cukup, hal ini akan terus mengalami pergeseran makna, bahkan mendorong redefinisi tentang konsep nasionalisme baru. Perubahan perspektif masyarakat dunia seperti ini harus dijawab dan menghasilkan kebijakan tepat yang mampu melingkupinya.
Banyak hal yang harus dijawab oleh siapapun pemimpin bangsa ini, dan siapapun yang berpikir dan bekerja di dalamnya. Kita membutuhkan breakthrough untuk meretaskan jalan menuju kejayaan Indonesia. Meskipun kita harus membayar mahal setiap kesempurnaan perjuangan, perfection has its price. Berhenti di satu tikungan pemilihan umum untuk selanjutnya merancang strategi dan bekerja membangkitkan Indonesia, menuju take off dan menjadi tiger of the world.

Salam,
Muslim Negarawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung