Narasi Literasi Negeri

Muslim Negarawan, Kejayaan Indonesia
August 16, 2018
Press Release KAMMI KOMSAT UNMUL Sambut Mulawarman Muda 2018
August 22, 2018

Oleh : Kang Tendi Murti (penulis buku)

Tulisan ini akan sedikit serius dan memerlukan perhatian khusus, terutama untuk yang fokus di dunia literasi. Selesaikan bacaannya dan semoga Allah satukan kita.

Biismillah…

Impian saya selama ini ingin berguru ke penulis-penulis besar. Penulis yang tulisannya sudah ngasih inspirasi ke banyak orang.

Sewaktu bertemu dengan penulis seperti mba Asma Nadia, Oki Setiana Dewi, kang Abik, pak Isa Alamsyah, mas Ippho dan yang lainnya, ada getaran yang nggak bisa dibendung.

Saya membayangkan seandainya mereka menyatu dalam sebuah tempat lalu menginspirasi banyak orang, terbayang berapa juta orang yang terinspirasi dan berapa penulis yang terlahir wasilah dari penulis-penulis inspiratif tersebut.

“Kok ya mekso pisan kang narasi kang Tendi tentang tulisan melulu. Nggak bosen?” Jujur, saya iri sama peradaban Barat. Hahaha…

Terutama di bidang literasi.

Sekarang-sekarang ini kalau keluar kota, saya sering nginap di penginapan-penginapan murah ala backpacker yang kadang hanya cukup buat badan doang.😂

Bukan apa-apa, ada yang menarik dibandingkan di kamar hotel yang saya sendirian didalamnya. Penginapan-penginapan backpacker sering banget isinya justru orang-orang bule dari berbagai negara. Di Bandung saya kenal dengan beberapa orang gara-gara nginap di tempat seperti itu.

Kebiasaan mereka benar-benar saya amati. Ada beberapa hal yang unik, termasuk budaya baca.

Dimanapun dan kemanapun mereka pergi, selalu ada buku yang dibawa dan dibacanya.

Saya jadi ingat kawan saya uda Harland yang sekarang tinggal di USA. Doi bilang di Amerika baca buku itu udah jadi budaya. Mereka dikondisikan sejak kecil untuk membaca.

Dan benar, hasilnya, mereka bawa buku kemana-mana. Ini yang hilang dari kita.

Padahal, kalau dilihat ke belakang, Daulah Abbasiyah yang kita sebut-sebut sebagai The Golden Age nya Khilafah Islam, pencapaian-pencapaiannya luar biasa. Kenapa? Nggak lain, karena negara ini ditopang dengan budaya nulis sama baca.

5 abad mereka berkuasa dan di abad kelima itu ilmu pengetahuan menjadi puncak tertinggi kebudayaan, sebelum akhirnya budaya baca ini pindah ke barat karena perang Salib.

Sekarang, kata Taufik Ismail, Indonesia sedang terjangkit “TRAGEDI NOL BUKU!”

kalimat ini bikin hati ndregdeg. Serius ndregdeg. Seburam ini kah bangsa kita?😭

Padahal sejak zaman dulu Indonesia dikenal dengan berbagai macam tulisan keren.

– Kitab Negarakertagama ditulis oleh Prapanca nggak kalah keren dengan Kitab Raja-Raja yang ditulis oleh Ferdowsi Tousi dari Iran.

– Kitab Manik Maya ditulis oleh Raden Mas Ngabei Ronggo yang bercerita tentang perkembangan Islam di Pulau Jawa juga nggak kalah keren.

Literasi Indonesia kaya raya broooo…

Sayang hari ini kita sedang terjangkit tragedi NOL BUKU!

Sampai kapan “penyakit” akut ini akan terus nempel di Indonesia? Saya nggak tahu. Tapi satu hal, mari berbuat apa saja buat literasi Indonesia yang kita cintai ini.

Bodo amat masih amatiran, masih ecek-ecek, masih bloon. Yang penting terus bergerak terus belajar, terus berkontribusi. Sekecil apapun, yuk berkontribusi di dunia literasi.

Termasuk gaung #IndonesiaMenulis yang in syaa Allah akan segera kita mainkan. Sebuah visi besar untuk Indonesia. Dan ini nggak bisa KMO Indonesia sendirian yang jalan.

Elemen-elemen lain yang bergerak di bidang literasi harus bisa bersatu padu membangun sastra yang semakin terseok-seok kehilangan ruhnya.

Semua komunitas menulis harus menjadi elemen bersama mengangkat literasi Indonesia.

Penulis-penulis besar belajar untuk menurunkan egonya agar ilmu tersebar luas. Saya nggak tahu caranya gimana, tapi pasti ada jalannya.

Dan kita, sebagai elemen-elemen kecil, bismillah, mendukung gerakan ini.

In syaa Allah dalam waktu dekat saya akan mengabarkan gimana cara mainnya, gimana cara kontribusinya.

Semoga Allah ridho, semoga Allah berkahi pergerakan kita. Aamiin…

Terakhir, beberapa hal saya sepakat dengan pak Pram.

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tak menulis, Ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.”

Setuju? Share!

Dan gabung di Channel Telegram t.me/MenulisIndonesia

In syaa Allah di Channel tersebut kita bisa belajar banyak ke penulis-penulis nasional GRATIS!

Sekian,

Tendi Murti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung