Pemuda Islam Milenial

Rupiah Melemah KAMMI tuntut Pemerintah tegas dalam menangani perekonomian
September 6, 2018
Kecam Tindakan Represif Aparat KAMMI Kaltimtara menyatakan Sikap
September 22, 2018

Let’s Do It, Pemuda Islam Milenial !”

Oleh : Tri Lestari Handayani ( Staf Departemen Pembinaan Kader)

Tepat dua hari lalu, umat islam tiba di Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1440 H yang bertepatan dengan hari Selasa, 11 September 2018 masehi. Berbeda dengan momen tiap 1 Januari di negeri ini, tahun baru islam jauh dari perayaan massal yang membuat setiap kita ngeh, “Oh, ini Tahun Baru ya”. Jangankan ditunggu-tunggu, bahkan barangkali masih ada sebagian umat islam yang hanya menikmati tanggal merah sebagai hari rehat nasional dari seabrek rutinitas harian yang melelahkan, tanpa tahu mengapa Selasa lalu dijadikan sebagai hari libur nasional.

Hampir 15 abad yang lalu, seorang manusia mulia bernama Muhammad SAW diangkat sebagai Rasul penyampai risalah kenabian dan membawa umat menuju jalan terang di bawah panji islam. Bermula dari Mekkah hingga ke Madinah, islam disebarkan lewat dakwah Rasul dan para sahabat yang mulia. Perjalanan dari Mekkah ke Madinah di masa itulah yang diabadikan sebagai awal mula penetapan Tahun Hijriyah bagi umat islam. Ya, sefenomenal itulah Tahun Baru Islam jika kita membaca sejarah perjalanan agama mulia ini.

Jika dulu peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah menandai dimulainya ekspansi islam dari penegakan akidah menuju penegakan daulah (negara/pemerintahan), bagaimana dengan momentum 1 Muharram di masa sekarang? Penting kah? Toh, islam di negeri ini sudah baik-baik saja? Kenapa harus repot-repot nyiptain momentum baru buat agama kita?

Pertanyaan itu penulis pikir perlu disampaikan kepada generasi muda islam yang populasinya terhitung dominan di negeri ini (termasuk penulis sendiri). Indonesia merupakan negara dengan umat islam terbesar di dunia dengan persentase mencapai 80 persen atau sekitar 2 juta penduduk beragama islam dari total 260 juta-an penduduk di Indonesia. Pada tahun 2020-an, penduduk dengan usia produktif kisaran usia 16-30 tahunan bahkan mencapai 30 persen. Itu artinya, pemuda islam mencapai jumlah yang fantastis 2-3 tahun kedepan. Lalu, dengan kuantitas sebesar itu, apa dan bagaimana pemuda islam mampu memberikan kontribusinya untuk bangsa ini?

Dalam buku “Generasi Phi” karya Dr. Muhammad Faisal (founder Youth Laboratory Indonesia), masyarakat yang lahir kisaran tahun 90-an sampai sekarang memiliki effort tersendiri dalam menciptakan perubahan bagi bangsa. Disebut sebagai generasi milenial, anak-anak muda yang saat ini berada di rentang usia 17-20 tahunan punya karakter khas yang membedakan ia dengan generasi sebelumnya (lahir di tahun 80-an ke bawah). Mereka adalah manusia yang selalu ingin berbeda dari orang kebanyakan (outlier), punya tingkat skeptis yang tinggi, kesadaran sosial berupa kecenderungan membentuk komunitas-komunitas yang juga besar. Berangkat dari itu, diyakini bahwa generasi milenial mampu menghasilkan karya yang belum pernah dihasilkan oleh generasi sebelumnya. Generasi milenial punya kekhasan dalam menggunakan teknologi karena dilahirkan sebagai native citizen di era teknologi. Tidak heran generasi milenial begitu lihai memanfaatkan teknologi itu sendiri. Begitu banyak produk start up yang merupakan hasil belajar otodidak generasi milenial. Pasar online, jasa online, sosial media community, dan banyak hal lain sudah menjadi makanan sehari-hari generasi milenial. Lalu, apa hubungannya dengan kontribusi pemuda islam terhadap kemajuan bangsa ini?

Populasi pemuda islam yang mencapai klimaks di beberapa tahun belakangan haruslah dibarengi dengan pencapaian kualitas diri pemuda islam. Keterbukaan arus informasi dan teknologi yang tidak bisa di-filter dengan baik dan benar hanya akan menjadi racun bagi tubuh pemuda islam. Alih-alih mendebatkan dampak negatif yang akan diterima, akan jauh lebih baik jika energi yang ada kita alihkan untuk memikirkan bagaimana caranya agar berbagai tools dapat mendukung satu sama lain sehingga terwujud kontribusi maksimal dari pemuda islam untuk kemajuan bangsa.

Berfokus pada tiga hal yakni, generasi milenial, islam dan kontribusi bagi bangsa, mari melihat dengan kacamata objektif. Keterpurukan islam bukanlah sesuatu yang harus terus kita ratapi setiap saat, melainkan jadi dorongan untuk terus melakukan ikhtiar perbaikan. Sektor ekonomi, sosial budaya, politik, hukum, pendidikan, bahkan kesehatan, tak satupun yang berjalan tanpa masalah di negeri ini. Baru-baru ini seantero negeri dihebohkan dengan rupiah yang mencapai angka Rp 15.000 per 1 Dollar. Tak ketinggalan polemik #2019GantiPresiden selalu menjadi trending topic bagi peminat politik hingga terkadang menyebabkan konflik horizontal yang bertentangan dengan identitas negeri kita “bhinneka tunggal ika”. Pun soal fenomena “Masuk Pak Eko” atau “Keke Challenge” yang mendadak viral di sosial media tanpa sebab manfaat yang jelas.

Mengapa semua hal di atas penulis kaitkan dengan keterpurukan islam? Jelas karena umat islam sepenuhnya bertanggung jawab atas berbagai kekacauan yang terjadi di negeri ini. Sebagai khalifah di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah : 30), umat islam telah gagal dalam menjalankan amanah yang Allah titipkan. Bukankah kita sebagai pemuda islam seharusnya menjadi pelaku utama dalam upaya-upaya untuk bangkit dari keterpurukan ini?

Penulis membagi upaya itu dalam beberapa langkah. Pertama, mengenali diri sebaik mungkin. Kedua, membangun basis massa yang kuat. Ketiga, menyibukkan diri dengan kebermanfaatan sesuai passion. Keempat, bersiap menjadi next leader di berbagai sektor.

Pertama, mengenali diri sebaik mungkin. Jika kita mengenal siapa diri kita, berarti kita telah melakukan lebih dari setengah perjalanan untuk memberdayakan potensi diri. Kita tidak akan mampu mengenali diri, sebelum kita mengenal siapa Tuhan kita. Allah SWT adalah satu-satunya zat yang berhak disembah dan dimintai pertolongan. Islam memberi kita jalan mengenal Allah setidaknya dengan dua cara, yakni melalui ayat kauliyah dan kauniyah. Berdasar pada firman Allah dalam Qur’an, manusia mampu menyadari keberadaan Allah sebagai zat yang mengatur keberjalanan alam semesta. Q.S. Al Ikhlas (1-4), An Nisa’ (136), dan Al Hasyr (22-24) menjelaskan sifat-sifat ketuhanan Allah SWT yang tidak dapat didebat oleh manusia manapun. Pun berdasarkan keagungan Allah dalam penciptaan berbagai fenomena alam, tergambar jelas bagaimana Allah menunjukkan keberadaannya. Terpisahnya air laut dan air tawar yang tidak akan bercampur sampai kapanpun, langit yang menjadi atap bagi kita tanpa ada tiang penyangganya, bahkan peristiwa kelahiran dan kematian semuanya menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Tuhan, Rabb kita. Memaknai keberadaan Allah berarti memahami hakikat diri kita. Dalam Q.S. Adz Dzariyat ayat 56, “dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Jelas bukan? Hakikat keberadaan kita di muka bumi ini adalah sebagai hamba-Nya. Memaksimalkan segala nikmat yang Allah beri semata-mata untuk beribadah. Ibadah harus dimaknai sebagai segala bentuk aktivitas yang mendatangkan kebaikan dan keridhoan dari Allah SWT.

Kedua, membangun basis massa. Bukankah sapu lidi akan lebih cepat membersihkan kotoran jika yang banyak dijadikan satu? Begitu pula yang islam ajarkan. Ukhuwah, silaturahim, jaringan. “Kejahatan terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”, begitu pesan sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Allah jauh lebih menyukai amal dari barisan yang rapat seperti shaf shalat dibandingkan amal yang infirodhi (sendiri-sendiri). Perbedaan golongan, ormas, organisasi, apalagi sekedar perbedaan tokoh panutan, tidak seharusnya melemahkan persatuan dan kesatuan pemuda islam di seluruh pelosok negeri. Justru perbedaan warna bunga akan menjadikan sebuah taman terlihat lebih hidup dan indah bukan? Begitulah seharusnya kita sebagai pemuda islam memaknai perbedaan. Menjauhkan sekat-sekat duniawi demi kesatuan akidah yang kita miliki, islam. Bila pemuda islam bersatu, akan lebih mudah menjadi motor penggerak perbaikan umat. Bersatu dalam kebaikan untuk menyuarakan kritikan cinta jika pemerintah melakukan kesalahan. Bersatu dalam meringankan beban masyarakat bila terjadi bencana alam. Bersatu dalam memperbaiki kualitas manusia negeri ini lewat pendidikan karakter dan melatih kepemimpinan. Rindu masa-masa ketika reformasi lahir di negeri ini, seluruh pemuda di nusantara bersatu demi satu tujuan, mengembalikan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Ketiga, menyibukkan diri dalam kebermanfaatan sesuai passion. Generasi milenial adalah generasi yang sibuk dengan mengkaryakan diri sesuai minat. Itu sebabnya lebih banyak bermunculan komunitas sosial yang berfokus pada minat beberapa tahun belakangan. Ada komunitas bikers, komunitas literasi, komunitas pecinta lingkungan, komunitas pengajar muda, komunitas vlog dan lain-lain. Semua itu sebagai bentuk unjuk diri bahwa generasi milenial mampu mengembangkan minat sekaligus menebar manfaat untuk sekitar. Betapa banyak komunitas yang ibarat menjadi tulang punggung cadangan bagi pemerintah? Komunitas berbasis pendidikan misalnya, mampu menjangkau anak-anak negeri yang masih memiliki hak memperoleh pendidikan namun tak mampu mengakses sekolah karena permasalahan finansial maupun geografis. Atau komunitas pecinta lingkungan yang secara rutin mengkampanyekan hidup bersih sekaligus bekerja nyata membersihkan lingkungan tanpa harus menunggu petugas dari Dinas Kebersihan melakukan pekerjaannya. Tak ketinggalan pula komunitas-komunitas sosial yang menyelamatkan begitu banyak masyarakat Indonesia yang tuna wisma, pengemis yang kelaparan atau anak terlantar yang mungkin belum sempat terlirik oleh Dinas Sosial. Begitulah, menjadi bagian penyebab kebahagiaan orang lain adalah identitas sejati yang seharusnya ditunjukkan oleh pemuda islam dimanapun dan kapanpun berada, terutama kita yang mengaku generasi milenial muslim.

Keempat, menyiapkan diri sebagai next leader di berbagai sektor. Tanpa amal ilmu akan sia-sia, tanpa ilmu amal akan berubah jadi petaka. Islam menempatkan ilmu sebagai prioritas utama. Menjadi profesional sesuai bidang atau disiplin ilmu kita adalah keharusan. Jika hari ini begitu banyak orang-orang tidak becus dalam menjalankan amanah, itu menjadi bagian tanggung jawab pemuda islam untuk memutus rantai bencana dan mengubahnya dengan tangan-tangan kita. Mari menjadi pendidik, ekonom, diplomat, hakim, dokter, ataupun camat yang profesional dan rabbani. Memahami dengan baik permasalahan dan mempersiapkan diri sebagai problem solver. Keberadaan kita dinanti, ketiadaan kita dirindukan.

Momentum tahun baru islam ini adalah momentum terbaik untuk bermuhasabah dan titik balik transformasi diri menjadi pemuda islam milenial penuh pesona. Memaksimalkan daya yang kita miliki untuk sebesar-besar kebaikan umat. Semangat bermanfaat, jayakan Indonesia 2045 !

Muslimah Milenial,

Tari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung