Menjaga Komitmen

Mencoba Memandangmu dari Sudut yang Berbeda
October 20, 2018
Merdeka atau Mati
November 10, 2018

Jangan biarkan komitmen kita melayu membiru dimakan waktu

Oleh : Vicky Renaldy (Staf Departemen Kebijakan Publik)

Baper, Mager, laper dan caper. Empat kata yang bisa menggambarkan pemuda indonesia zaman now. Namun tidak semua pemuda memiliki karakter yang terdefinisi dalam kata-kata tadi, akan tetapi secara umum sebagian  tergambar dengan empat kata itu.

Tiduran di kasur, bermain gawai (baca:gadget) seharian, berselancar di jejaring sosial, bergaming-ria dengan teman dunia maya, janjian dengan teman untuk hangout dan sebagainya. Rutinitas yang lumrah bagi generasi milineal. sebut saja zona nyaman bagi mereka. Tidak ada yang salah dengan aktivitas tersebut. Namun jika dikerjakan dengan porsi yang berlebihan dan menjadi kebiasaan, banyak waktu akan terbuang sia-sia.

Adapun pemuda yang jarang terlibat dalam aktivitas-aktivitas sosial. Contohnya seperti kegiatan bersih-bersih desa, kegiatan organisasi di sekolah atau kampus, dan kegiatan lainnya yang  beinteraksi langsung dengan masyarakat. Kegiatan-kegiatan semacam ini jarang diminati karena dirasa mengganggu zona-zona nyaman mereka. Padahal yang nyaman belum tentu aman. Sukses di masa depan tidak mungkin dicapai kalau kita doyannya tiduran, mageran, baperan, kalau caperan ke camer gak apa sekali-sekali *eh

Konsep Zona nyaman ini terbentuk dari karakater Individualis yang tertanam  pada pemuda sekarang. Pemikiran yang mengutamakan pribadinya saja. Jika tidak menghasilkan keuntungan untuk diri sendiri, maka akan dikesampingkan. Penyebab tumbuhnya pemikiran itu paling massif berasal dari kecanggihan media komunikasi. Pemuda terjebak pada ruang-ruang maya. Seakan-akan tak lagi terhubung dengan dunia nyata. Kondisi ini secara tidak langsung berdampak memudarkan hakikat pemuda yang sesungguhnya.

Tan malaka pernah berkata : “idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Jika pernyataan ini kita hubungkan dengan kondisi pemuda sekarang. Maka, bisa dikatakan pemuda menjadi orang-orang yang “miskin”. Sebagian besar Pemuda zaman now kehilangan harta paling berharganya yaitu idealisme. Sebab lunturnya idealisme, karena ego lebih diutamakan untuk kepentingan diri sendiri saja tanpa peduli lingkungan sekitar. Dalam hal ini, bukan adanya kepentingan tertentu yang hendak dicapai dan diwujudkan, melainkan mementingkan diri agar tetap pada zona nyaman tanpa ada upaya melakukan lompatan-lompatan potensi diri.

Padahal jika berkaca pada masa lalu, tepatnya tahun 1928,  pemuda-pemudi indonesia memiliki keinginan yang luar biasa dalam mengembangkan skill dan potensi diri. Bahkan mereka tuntas dalam memikirkan kebutuhan diri, beralih memikirkan untuk mengembangkan potensi bangsa. Setelah melalui proses berpikir dan diskusi yang panjang, akhirnya pemuda-pemudi indonesia mencetuskan sebuah konsep ideal. Mereka telah mewujudkan momen sakral yang menyejarah. Potensi bangsa hanya bisa dikembangkan jika seluruh bangsa bersatu. Maka pada tanggal 28 oktober 2018, dipimpin oleh Soegondo djojopoepito, mereka berikrar bahwa Pemuda Indonesia hanya memiliki satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa yaitu Indonesia. Di hari itu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda, yang menjadi masterpiece dari zaman itu.

Esensi dari masterpiece pemuda tahun 1928 bukanlah sekadar janji. Bukan janji yang diucapkan oleh Soegondo muda seorang. Bukan juga janji pemuda pada masa itu saja. Namun ini merupakan komitmen sepanjang masa para pemuda indonesia. Selama NKRI masih ada, selama itu pula komitmen ini harus terjaga. Sebagai pemuda yang lahir dari tanah Indonesia, menjadi tuntutan bagi kita untuk menjaga komitmen ini agar tidak melayu membiru dimakan waktu. Setiap janji wajib ditepati.

Memenuhi komitmen tersebut jelas tidak cukup dengan menguploadnya dalam bentuk ucapan pada media sosial saja. Harus ada langkah nyata dan tegas terhadapnya. Salah satunya dengan mulainya merobohkan zona-zona nyaman yang melalaikan. Membenahi diri dalam memanajemen aktivitas harian. Bermain dan bersantai  masih diperbolehkan selama tidak melewati batas. Porsi-porsi kegiatan untuk pengembangan potensi diri juga mulai dipertimbangkan dan diagendakan dalam aktivitas harian. Sudah saatnya pemuda Indonesia keluar dari hari-hari yang tersia-siakan menuju hari-hari yang produktif.

Setelahnya tuntas mengembangkan diri, selanjutnya adalah berusaha mengembangkan potensi bangsa. Nusantara menunggu pemuda tuk menyapanya dengan solusi yang merata sampai ke pelosok desa. Bekerja profesional dalam setiap agenda. Tidak hanya menghebatkan diri sendiri, namun juga menghebatkan orang sekitar. Mengajak dalam aktivitas-aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat. Mengurangi hedonisme atau berfoya-foya. Meninggalkan pesimisme karena menjadi parasit perusak semangat. Poin terpentingnya adalah berusaha mengingatkan kembali tentang komitmen kita bersama. Sebuah komitmen ideal seorang pemuda bahwa kita satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa yaitu Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung