Merdeka atau Mati

Menjaga Komitmen
October 28, 2018
Release Sarasehan Perempuan KAMMI 0.1
November 20, 2018

••Hari Pahlawan Nasional••

Oleh : Armila Ari Santi (Kebijakan Publik KAMMI Berau)

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan pernah kita menyerah kepada siapapun juga !

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting tetapi saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu.

Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ketangan kita sebab Allah selalu berada dipihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar …!
Allahu Akbar…!
Allahu Akbar…!
MERDEKA !!!

[Bung Tomo]

Mengenang Hari Pahlawan Nasional (10 November 1945) membuat ingatan kita menjurus pada salah satu peristiwa besar sepanjang sejarah revolusi Indonesia.

Berawal dari pengibaran bendera merah putih biru oleh Belanda yang kemudian menyulut kemarahan rakyat Surabaya karena hal itu dianggap sebagai sikap yang tidak mengindahkan kemerdekaan Indonesia, hingga saat tentara sekutu mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mallaby yang tanpa mengindahkan kenyataan bahwa Indonesia sudah merdeka, mereka memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk meyerahkan senjata. Hal ini membuat situasi semakin kusut. Bagi Indonesia, pilihannya menyerahkan senjata dengan merendahkan diri atau melawan.

Sampai saat meninggalnya Jenderal Mallaby yang kemudian memicu pertempuran besar yang berlansung selama lima hari lima malam dan membuat sekutu menderita kerugian amat banyak.

Berkat pidato Bung Tomo yang diteriakkan di corong Radio Pemberontak, rakyat Surabaya mendapat bantuan dari rakyat sekitarnya untuk mempertahankan kedaulatan kota Surabaya.

Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940-an.

————————
Jika membaca realitas sejarah ditetapkannya Hari Pahlawan, kita menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekuatan yang besar.

Pasukan sekutu yang telah memenangkan Perang Dunia II, dapat ditaklukkan oleh rakyat Indonesia hanya dalam beberapa hari.
Segenap rakyat larut dalam perjuangan, tidak ada perbedaan golongan, agama apalagi politik. Mereka bersatu, bahu membahu untuk mempertahan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

Hari ini mungkin kita tidak lagi dihadapkan pada peperangan bersenjata. Namun perang idealisme sungguh tak terelakkan dan benar-benar terjadi di negeri kita.

Untuk itu melalui momentum Hari Pahlawan ini, marilah kita gelorakan semangat kepahlawanan dengan dilandasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang tinggi serta kita rapatkan barisan membangun negeri untuk mewujudkan Kejayaan Indonesia !!

Merdeka!!
“Selamat Hari Pahlawan Nasional yang ke-73”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung