Kekerasan Terhadap Perempuan “Apa Peran Kita?”

Release Sarasehan Perempuan KAMMI 0.2
November 22, 2018
Release Aksi Solidaritas
November 29, 2018

Oleh : Maya Rahmanah

Berbicara masalah perempuan memang selalu menarik untuk menjadi bahan obrolan. Bahkan di Indonesia, negeri kita sendiri setiap hari berjatuhan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak tak heran setiap tahunnya angka kekerasan terhadap perempuan semakin merajalela. Sedih bukan?

Sebelum masuk pembahasan lebih dalam, tau gak sih apa saja bentuk – bentuk dari kekerasan terhadap perempuan ?
Oke, mari kita simak terlebih dahulu apa itu kekerasan terhadap perempuan? Kekerasan terhadap perempuan adalah Segala bentuk kekerasan berbasis gender yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi. (Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983).

Berdasarkan pasal 1 dan pasal 2 deklarasi PBB tersebut, maka kekerasan terhadap perempuan dapat digolongkan ke dalam beberapa bentuk, yaitu kekerasan fisik, seksual, psikologis, ekonomi dan perampasan kemerdekaan. Yang dimaksud dengan kekerasan terhadap perempuan dapat digolongkan ke dalam beberapa bentuk, yaitu kekerasan fisik, seksual, psikologis, ekonomi dan perampasan kemerdekaan.

Yang dimaksud dengan kekerasan-kekerasan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kekerasan fisik adalah setiap perbuatan yang menyebabkan rasa sakit, cedera, luka atau cacat pada tubuh seseorang dan atau menyebabkan kematian.
b. Kekerasan seksual adalah tiap-tiap perbuatan yang mencakup pelecehan seksual sampai kepada memaksa seseorang untuk melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau di saat korban tidak menghendaki; dan atau melakukan hubungan seksual dengan cara-cara tidak wajar atau tidak disukai korban; dan atau menjauhkan (mengisolasi) dari kebutuhan seksualnya.
c. Kekerasan psikologis adalah setiap perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan ketakutan,hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak berdaya pada seseorang.
d. Kekerasan ekonomi adalah tiap-tiap perbuatan yang membatasi seseorang untuk bekerja di dalam dan di luar rumah yang menghasilkan uang dan barang, membiarkan korban bekerja untuk dieksploitasi dan menelantarkan anggota keluarga.
e. Perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang adalah semua perbuatan yang menyebabkan terisolirnya seseorang dari lingkungan sosialnya.
kekerasan terhadap perempuan antara lain pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan phisik, dan psikis. (Mansoer Fakih)
Kekerasan dapat berupa perilaku verbal dan non verbal. Verbal yakni sumbernya dari lisan, berupa ucapan yang melecehkan, menjatuhkan, ancaman, ataupun segala bentuk ucapan yang tidak pantas. Kekeraan verbal ini memang tidak banyak mempengaruhi fisik maupun financial, akan tetapi pengaruhnya akan sangat besar pada kondisi psikis seseorang. Dimana pengobatan psikis lebih sulit dari fisik dan finansial. Jadi menjaga lisan itu memang benar sesuatu yang penting sekali. Karena lisan juga yang akan menjaga kita dari melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain.
Yang kedua, kekerasan non-verbal yakni merupakan kekerasan yang banyak bersinggungan dengan fisik. Bentuk kekrasan verbal ini seperti, tindakan kriminal, pukulan, bahkan sampai pada seksual. Kita sama – sama tau, bahwa islam sangat menghargai dan menghormati perempuan. Karena pada fitrahnya, perempuan memiliki sifat lemah lembut. Namun menjaga diri adalah sebuah kewajiban, bagaimanpun tubuh ini, raga ini, jiwa ini adalah amanah dari Allah yang perlu kita jaga.
Nah, akhir – akhir ini kasus kekerasan yang mencuat, dan menjadi kegelisahan bagi kita bersama terjadi di ranah pendidikan pada seorang perempuan yaitu : bu Baiq Nuril sebagai seorang guru honorer di SMA 7 Mataram dijerat dengan UU ITE karena merekam percakapan seksual dan Agni Seorang Mahasiswi UGM yang mengalami kekerasan seksual (pemerkosaan) di lokasi KKN. dimana hari ini belum ada tindak tegas dan penyelesaian yang menjadi prioritas bagi pemerintah. Baik secara perlindungan hukum maupun pemulihan terhadap korban.
Darurat ! tercatat kekerasan terhadap perempuan dari tahun 2017 dalam catahun 2018 mengalami peningkatan yaitu, sebesar 348.446 kasus naik sekitar 25 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2016) yaitu sebesar 259.150 kasus (Sumber : Catahun Komnas Perempuan). sedangkan kekerasan di Wilayah Kalimantan Timur dalam waktu 2 tahun terakhir pada tahun 2016 – 2017 juga mengalami peningkatan drastis yaitu, dari 499 kasus di tahun 2016 meningkat menjadi 655 kasus di tahun 2017. Darurat Kekerasan Pada Perempuan dan Anak tercatat 1.154 Kasus. (Sumber data: Simfoni DKP3A). Jumlah kasus tertinggi angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang secara umum paling banyak melaporkan, pringkat kedua disusul oleh kasus kekerasan seksual pada anak – anak dan di lanjutkan dengan kasus HAK asuh anak akibat perceraian.
Darurat ! Kekerasan di lingkungan terdekat kita ialah maraknya kasus pembuangan bayi secara cuma – cuma bahkan sampai menyebabkan kematian yang membuat kita resah. kejadian di daerah Samarinda tercatat Kekerasan Seksual terhadap perempuan dan anak pada Tahun 2015 – 2018 mengalami kejadian (pencabulan & pemerkosaan) pada perempuan usia 4 – 18 tahun terdapat 6 korban. tahun 2016 kekerasan seksual (pencabul dan pemerkosaan) terdapat 16 korban pada laki – laki usia 7 – 10 tahun terdapat 3 korban. Tahun 2017 Kekerasan Seksual pada perempuan dari usia 5 -18 tahun terdapat 11 korban. Pada laki – laki usia 5 – 11 th terdapat 8 kasus. Tahun 2018 Kekerasan Seksual pada perempuan usia 5 – 18 tahun terdapat 7 korban. Pada laki – laki usia 5 – 10 th terdapat 4 korban. (Sumber data: P2TP2A Prov. Kaltim)
Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak membuktikan bahwa pemerintah GAGAL dalam melindungi perempuan dan anak Indonesia.

Lalu dimana peran kita?
Tindakan pertama adalah perlunya kesadaran bagi individu – individu dan perbaikan diri yang mapan serta berkesinambungan. memproteksi diri sebagai bentuk pengingat bagi diri.
“Dan Janganlah mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah sesuatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Qs. Al – Isra : 32)
Mendekati saja sudah dilarang, apalagi kalau sampai dilakukan. Zina merupakan perbuatan dosa besar, jadi untuk para pelajar seperti kita harus berhati – hati. Dan tugas kita baik laki – laki maupun perempuan ialah menjaga pandangan dan kemaluan.
Yang ke dua, kita harus responsif atas segala hal yang merugikan perempuan, bisa dalam bentuk pengkawalan dan mengarahkan korban ke jalur yang tetap sasaran.
Yang ke tiga, dari sisi pergerakan sebagai seorang aktivis perempuan yang konsen terhadap permasalahan isu perempuan dan anak menyimak berbagai problematika kekerasan terhadap perempuan sudah seharusnya kita menjadi geram dan salah satu upayah tindakan yang bisa kita lakukan dalam mengakomondir segala aspirasi keluhan masyarakat yaitu dengan menuangkan dalam bentuk aksi nyata maka tetap pada tgl 25 November 2018 yang dimana merupakan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Para perempuan KAMMI menggelar Aksi SOLIDARITAS sebagai bentuk keperdulian terhadap kondisi Duka Indonesia yang dimana perempuan dan anak sedang tidak baik – baik saja. Hal ini membuktikan bahwa pergerakan aktivis perempuan tidak diam atas segara persoalan yang merusak negeri kita tercinta.
Kemudian point terakhir, perlu adanya kontribusi bersama dalam menyelamatkan segala bentuk kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Harus ada sinergitas baik di ranah pendidikan, publik, sosial, ekonomi, politik, dan kesehatan. Disini yang menjadi garis besar adalah edukasi sebagai upayah preventif dan penanggulangan karena sebagian korban terkadang tidak menyadari telah dijadikan pelecehan dan bisa juga korban sebenarnya tau namun tidak tahu tindakan apa yang harus ia lakukan, bisa juga korban mendapatkan ancaman dari pihak pelaku nah ini pentingnya kita mengedukasi para perempuan dan anak seluas – luasnya.
Beberapa faktor penyebabnya, terutama faktor budaya. Budaya masyarakat kita kan masih menempatkan perempuan lebih rendah posisinya dari pada laki-laki, bisa dilihat dari posisi pengambilan keputusan, jarang sekali bisa diambil perempuan, karena (laki-laki) yang menentukan akan kemana, mau apa, ini mempengaruhi cara pandang yang diskriminatif yang dapat mempengaruhi ketindakan (kekerasan). Yang kedua ialah faktor lingkungan stigma diskriminatif dari laki-laki kepada perempuan sebenarnya bisa dihilangkan, dengan cara pendekatan secara struktural dan berkelanjutan.”Maka perlu ada edukasi masyarakat dalam konsep yang luas. Bagaimana peran keluarga memberikan pendidikan, peran tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat selain pendidikan yang diberikan di institusi pendidikan. Ini semua punya peran kunci untuk memperbaiki budaya itu,” (KOMNAS Perempuan)
Motif dari tindakan kekerasan diantaranya :
1. Kondisi yang mendesak.
Ekonomi yang rendah sedangkan kebutuhan hidup perlu dipenuhi. Membuat seseorang nekad melakukan apapun demi mendapatkan uang. Sehingga melakukan tindakan kriminal kekerasan.
2. Ada kesempatan
Adapun pada kesempatan ini, korban yang menciptakan tanpa disadari, sehingga terjadinya kekerasan seperti contoh banyak kasus terjadi karena lemahnya kemampuan perempuan dalam mencegah dan memicu adanya kekerasan, misalnya memakai emas yg sangat menarik perhatian lalu di jambret, pakaian wanita yang sangat ketat dan sebagainya.
3. Memiliki kelainan jiwa
Tidak jarang beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan adalah mereka yang memiliki kelainan jiwa. Seperti psikopat (seneng melihat orang lain tersiksa), kleptomania (ingin memiliki barang milik orang lain. Eksibisonisme (memperlihatkan alat vital di hadapan orang lain), frettourisme (menggosokkan alat vital kepada orang lain yang tidak menginginkannya), dan lain – lain.
4. Traumatik
Traumatik juga dapat di memicu korban kekerasan memiliki kelainan jiwa karena kesalahan penanganan pada korban pecelehan seksual tidak tepatnya sasaran dalam pemulihan bagi korban sehingga secara psikologis memberikan efek yang tadinya korban berbalik menjadi pelaku kekerasan seksual. Nau’dzubillah. Korban yang mengalami kekerasan secara verbal berupa tekanan mental juga akan cenderung menjadi sosok yang berlaku keras terhadap orang lain, ataupun sebaliknya cenderung diam dan menutup diri dari lingkungan sosialnya.
5. Pergaulan bebas
Interaksi sosial yang terlalu bebas tanpa di kendalikan oleh hawa nafsu dan adab – adab dalam bergaulan dapat mengakibatkan kebobolan atau arus keberlangsungan sosial yang tidak sehat sehingga perlakukan yang tidak semestinya dilakukan mudah saja terjadi karena tidak adanya benteng aqidah dan akhlak yang kokoh.
6. Paparan pornografi
Pornografi merupakan konten seksual yang dimana era milenial sekarang segala arus media sosial mudah ditelusuri. Jika seseorang tidak memiliki filter bagi dirinya sangat mudah mengakses segala situs yang tersebar di media sosial. apalagi berupa segala iklan – iklan berbau pornografi sering muncul di layar HP android. Bagi penikmat pornografi sangat berbahaya karena akan memberikan pengaruh rangsangan pada otak yang mengakibatkan kerusakan, dan hal ini memicu pelaku untuk berbuat hal serupa kepada orang lain, hal ini perlu segera di tindak tegas dan di waspadai.
7. Keluarga yang tidak harmonis
Hubungan keluarga yang tidak harmonis terjadi karena konflik antar suami dan istri persoalan ini mulai terjadi ketika tidak singkronnya pemahaman satu sama lain, adanya komunikasi yang tidak sehat yang menjadi miss comunication dapat mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baik yang disadari maupun tanda di sadari.

Apa yang harus kita siapkan untuk menghindari dan menjaga diri dari perilaku kekerasan ?

1. Meningkatkan kewaspaan terhadap orang lain yang belum kita kenal seperti orang asing yang tiba – tiba mendekati kita tanpa ada sebab yang jelas.
2. Hati – hati terhadap motif modus seperti pura – pura minta pertolongan, setelah mendapati korban mendekat ternyata malah melakukan aksi seperi penjambretan, pemukulan, hypnotis, pencabulan, pelecehan, dll.
3. Hindari berada ditempat sepi sendirian, karena ini sangat beresiko. Segera berpindah tempat dan meminta pertolongan jika mendapati seseorang yang memperlihatkan gambar yang tidak senonoh atau bahkan sesuatu yang tidak pantas diperlihatkan dari miliknya sendiri.
4. Hindari berpenampilan yang berlebihan seperti menggunakan emas yang menarik perhatian, pakaian wanita yang ketat atau tidak menutupi anggota tubuh dengan sempurna. Berpakaian sewajarnya saja sebab berlebihan juga kurang baik bukan?
5. Belajar ilmu bela diri, sebagai bentuk pertahanan diri. Minimal menguasai teknik – teknik dasar dalam perlawanan jika suatu waktu ada penjahat yang menyerang kita. Tetapi jangan sampai teknik bela diri yang kita miliki malah akan membuat diri kita menjadi pelaku kekerasan.
6. Jika sudah terlanjur menjadi korban, jangan takut dan malu untuk melaporkan, minta damping dengan orang yang dapat kita percaya. Sebab jika dibiarkan akan menimbulkan dampak kerugian lainnya.
7. Pilihlah pergaulan dan lingkungan tempat tinggal yang kondusif dan aman untuk kita berkembang kearah yang positif.
8. Selalu berdoa kepada Allah SWT agar kita diberikan perlindungan dan selamatan dalam segala aktivitas kita serta berharap hanya kepada_Nya agar apapun yang kita lakukan mendatangkan keberkahan. Aamiin
Bahwa perempuan harus di lindungi bukan berarti harus menjadi pesaing dengan laki – laki. Tetapi bagaimana keberlangsungan hidup dapat menjadi tenteram dan damai, karena perempuan dan laki – laki memiliki hak yang sama di hadapan Tuhannya untuk menjadi sebaik – baik pemimpin dimuka bumi, beribadah, serta beramal sholeh di semua lini kehidupan dengan beriringan. Bagai sayap pada seekor burung jika sayap kirinya adalah laki – laki maka sayap kanannya adalah perempuan. Tidak akan bisa terbang dengan seimbang jika salah satu sayapnya terlukai. maka ketika perempuan di tindas hanya ada satu kata LAWAN! #LawanPelecehan
Mencegah lebih baik dari pada mengobati dalam kondisi apapun itu. jika terdapat hal – hal yang mengindikasi terhadap kekerasan janganlah didekati, selalu mawas diri dan sibukkanlah diri kita dengan hal – hal yang positif agar tidak ada waktu yang sia –sia yang kita lewati. Wallahu A’lam Bishowaf

Salam,
Kepala Departemen Pemberdayaan Perempuan PW KAMMI KALTIMTARA 2018 – 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung