Dari Banua Untuk Bersama Menatap Secercah Harapan Lombok Yang Bangkit

Release Aksi Solidaritas
November 29, 2018
Kunjungan KAMMI ke KPU KALTIM
December 2, 2018

Ditulis Oleh

Habibah Nurhayati, S.Pd (MRI ACT Kalimantan Selatan)

Assalamu’alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh..

Malam itu tepatnya tanggal 10 September 2018 pesawat yang ku tumpangi akhirnya landing di Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin. Hari sangat dingin namun bercampur asap kabut karena wilayah Kalimantan yang sedang dilanda kabut asap. Ya, kabut asap merupakan masalah tiap tahun yang melanda di Kalimantan. Tapi pikiranku masih terngiang akan para pengungsi di Lombok setelah sepuluh hari menjadi relawan kemanusiaan dan gempa susulan yang setiap hari aku rasakan selama tahap pertama berada disana. Bencana kabut asap yang melanda di Kalimantan tidak sebanding dengan masalah mereka para pengungsi gempa Lombok. Aku mengambil bagasiku dan memesan travel untuk kepulanganku menuju rumah. Sesampai dirumah aku langsung istirahat dan  memikirkan tugas pekerjaanku yang menumpuk sebagai seorang guru di SMP Negeri. Pagi hari saya bekerja seperti biasa namun pikiranku menanar jauh terbayangkan nasib para pengungsi gempa Lombok, dimana anak-anak terpaksa harus tidak mandi dan tidak sekolah, wajah yang tak nampak ceria di hari-harinya serta menyaksikan kerusakannya yang membuat mata sembab menahan pilu. Sedangkan di sekolah anak-anak dapat bermain ria pasalnya saya kesana masa pasca bencana.

Ingin sekali segera ke Lombok menjadi relawan menolong korban bencana gempa bumi. Naluri kemanusiaanku terpanggil. Pengalaman jadi relawan beberapa bencana alam menggugah kepedulian. Melalui group Whatsapp informasi perkembangan kondisi korban dan kerusakan di Lombok terus diinformasikan oleh relawan ACT yang memang menerjunkan ratusan relawan ke Lombok. Sejak gempa 29 Juli 2018 di daerah Gunung Rinjani, Lombok Timur, ACT sudah mengirimkan tim relawan membantu korban.

Sebagai anggota MRI Kalimantan Selatan aku segera mengkontak pengurus ACT Kalsel apakah saya bisa untuk diberangkatkan ke Lombok menjadi relawan kemanusiaan di Lombok. Akhirnya tanggal 17 September 2018, melalui ikhtiar dan tekad yang kuat, aku bisa ke Lombok bersama MRI ACT Kalimantan Selatan. Ya, Penugasan ke Lombok oleh lembaga ACT yang selama ini aku mengabdi di bidang kemanusiaan menjadi tantangan tersendiri buat aku, mendapatkan tugas sebagai sebagai trauma healing, infant feending in emergency dan admin.

Kedatanganku di Lombok sebagai relawan kali ini cukup menantang dari kunjungan pertamaku. Pasalnya, dimana sebelumnya aku bertugas menjadi relawan hanya bertugas d di Kec. Kayangan Kab. Lombok Utara dengan konsentrasi di trauma healing anak-anak. Hingga kali ini, bersama MRI ACT Kalsel, aku mengunjungi ke seluruh penjuru Lombok, karena tuntutan tugas yang membuatku harus mobilitas kesana sini. Namun tentu hal itu tidak menyurutkan niat & semangatku dalam berbagi meskipun lelah dirasa cukup menyerang, dan sedikit terobati dengan indahnya alam yang masih alami serta kearifan lokal & keramahan masyarakatnya, menjadi hiburan tersendiri ditengah menjalani tugas kemanusiaan di semua daerah Lombok.

Tidak terbayangkan, sebagai admin yang memantau distrubusi air bersih, aku berkelana secara langsung mengelilingi beberapa tempat di Lombok menyaksikan kerusakan hebat dari gempa tersebur, hingga setiap sudut selalu di suguhi pemandangan reruntuhan bangunan, seperti kota mati.. Parah sekali. Belum lagi rumah-rumah di perbukitan dan kampung yang jauh dari jalan utama yang tidak tersentuh bantuan, semakin menambah sesak hati ini melihatnya. Beberapa daerah yang krisis air bersih, seperti Kec Sambelia dan Kec. Sembalun di Kab. Lomok Timur, juga Kec. Bayan, Kec Kayangan, Kec. Gunung Sari, Kec. Tanjung, Kec.  Gangga, Kec. Pemenang, di Kab. Lombok Utara yang sangat memprihatinkan. Bahkan dari beberapa warga yang aku temui dan aku wawancara mereka terpaksa sampai tidak mandi selama sepekan.  Bisa dibayangkan hampir semua wilayah Lombok krisis akan air bersih dan hal itu bisa memicu terjadinya penyakit menular seperti diare, muntaber dan penyakit kulit / kelamin.

Hari-demi hari dilalui dalam proses distribusi air. Jalanan berkelok, terjal dan sempit sudah jadi tantangan tiap hari. Belum lagi jika didepan jalan ada mobil tank air yang sama besarnya terpaksa mengalah meski tank kami penuh muatan air. Dalam kegiatan tersebut, aku sempat bertemu dengan salah seorang kepala desa di Kec. Sambelia, Kab.Lombok Timur, yang mengatakan bahwa pusat gempa 6,4 SR Tanggal 29 Juli 2018 gempa pertama di Lombok sangat kuat dirasakan oleh warga. Siang hari kami distribusi air dan aku mewawancarai beliau. Yang jadi kecemasan atau ketakutan warga saat ini yaitu tatkala saat musim hujan tiba. Mereka bingung dimanakah nanti tempat berlindung dari hujan ? Dimanakah nanti tempat berlindung tatkala hujan datang membasahi perkakas mereka, sedangkan tenda darurat terkadang tak mampu untuk menampungnya & hunian sementara yang belum di kerjakan pemerintah ?

Selain distribusi air, aku juga terlibat sebagai ketua coordinator sebuah kegiatan dari MRI ACT Kalsel  yang bernama infant feending in emergency. Sebuah tugas dimana saat hari masih malu-malu menampakkan sinar mataharinya, aku harus pergi kepasar yang dekat dengan mess posko ACT. Kemudian masak bahan makanan yang telah didapatkan untuk dimasak 100 porsi per hari. Lalu didistribusikan ke semua kecamatan yang ada di Lombok, sekaligus sosialisasi terkait pemenuhan gizi seimbang pasca bencana dengan pekerjaan yang mengejar waktu. Dan aku bersama tim menyebutnya ini dengan nama “kegiatan posyandu”. Sungguh terharu bukan main, ketika melihat para anak-anak, balita, serta ibu-ibu sangat antusias, senang dan penuh harap. Seketika rasa capek yang mendera tubuh ini hilang seketika saat melihat senyum keceriaan yang terukir dari wajah polos anak-anak uang menjadi peserta, sekaligus menambah semangat ku dalam memberikan sosialisasinya.

Selain itu juga, aku bertugas di bagian trauma healing yang aku lakukan di beberapa sekolah. Seperti contoh ketika pertama kali mengisi pembelajaran di sekolah dibawah tenda kemendikbud. benar-benar tak terkira luar biasa panasnya kala itu. Terlebih jika para siswa dikumpulkan semuanya, dan mereka tetap antusias dan senang belajar di bawah tenda meskipun panas mendera hingga keringat ku bercucuran. Salah satu anak didik yang saya temui, namanya Arif mengatakan, senang dengan sekolah yang telah diaktifkan kembali setelah sebulan lamanya mereka tidak bersekolah. Terlebih banyak para relawan dari luar kota yang masuk dan memberikan pelajaran yang berbeda menjadi penyemangat bahwa ia dan teman-temannya tidak sendirian menghadapi bencana.

Pengalaman di lapangan selama menjadi relawan bencana sungguh pengalaman luar biasa yang tidak akan mungkin aku lupakan, dimana dalam kondisi apapun dan dimanapun dituntut serba bias dan harus sigap kondisi apapun. Sangat banyak mendapatkan pelajaran dari gempa Lombok terutama rasa mensyukuri kenikmatan hidup yang Allah berikan padaku saat ini. Pun juga relawan harus belajar & mengetahui tentang penanganan bencana alam. Dari bencana alam gempa Lombok ini merupakan guru terbaik. Indonesia yang daerahnya merupakan wilayah yang dikeliling bencana, khususnya gempa. Pemahaman tentang mitigasi bencana juga perlu di sosialisasikan agar nantinya masyarakat bisa tanggap dalam bencana dan mengurangi jatuhnya korban. Pelajaran dari gempa Lombok harus direkam sebaik mungkin. Menjadi pelajaran bagi kita dipenanganan bencana yang lain dan untuk anak cucu kita kedepannya.

Dan terakhir sebagai bagian dari penutup cerita inspiratif pengalaman aku ini dalam dunia relawan kemanusiaan, memang menjadi relawan itu tidaklah semudah yang dibayangkan sebelumnya. Terlebih bertugas relawan di bencana alam yang serba kekurangan dan ala kadarnya, sangat minim sarana & prasarana, serta menuntut untuk tidak boleh mengeluh. Belum lagi kita harus meninggalkan zona nyaman kita dan keluarga yang kita cintai hanya untuk sebuah pekerjaan kemanusiaan, membantu orang lain yang sedang membutuhkan untuk bangkit kembali dari keterpurukan & kesedihan, namun bekerja dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun dengan beragam resikonya. Memang berat, namun aku ketika aku merasa mengeluh dalam tugas, aku mencoba memaksa diriku untuk harus kuat demi mereka. Urusan tugas relawan itu di bayar atau tidak, di hargai atau tidak, aku tidak peduli karena ini atas nama kemanusiaan yang Allah perintahkan langsung melalaui Rasulullah untuk bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan juga, mungkin relawan itu tidak dibayar bukan karena ia tidak berharga, tetapi relawan tidak dibayar karena ia tidak ternilai harganya. Itulah yang terus memupuk semangat kemanusiaan dalam diriku sebagai muslimah & seorang pemuda yang bergerak atas nama tugas kemanusiaan. Selain itu aku juga ingin mengucapkan terimakasih kepada MRI ACT yang telah memberikan kesempatan masa mudaku yang luar biasa untuk terjun dalam dunia kerelawanan ini. Dan semoga melalui tulisan ini, bisa menggugah semangat para pembaca lainnya khususnya pemuda, aku mengajak, mari kita bersama-sama satukan langkah dalam tugas kemanusiaan, meringankan duka saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana, dimulai dari hal yang kecil, dimulai dari yang kamu bisa lakukan.

Wassalamu’alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh..

Banjarmasin, 17 Oktober 2018

Habibah Nurhayati. S,Pd

 Relawan MRI ACT Kalimantan Selatan

 Nomer Whatsapp        : 081255725706

Email                           : habibahanisa93@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung