“Pemilu 2019, Millenial Mau Apa?”

Tambang Bukan Warisan untuk Anak Kita, tetapi Ancaman
December 14, 2018
Rapat Pimpinan Wilayah Kalimantan Timur & Utara
December 26, 2018

[NGOPI BARENG]

“Pemilu 2019, Millenial Mau Apa?”

Sabtu malam, 22 Desember 2018 berlokasi di Kafe Ruang Teduh Samarinda, pengurus wilayah KAMMI Kaltimtara menyelenggarakan diskusi publik bertajuk NGOPI dan mengangkat tema “Pemilu 2019, Millenial Mau Apa?”. Tema ini diangkat mengingat pentingnya peran generasi muda dalam mensukseskan kontestasi terbesar  demokrasi Indonesia tiap 5 tahun yakni pileg dan pilpres.

Diskusi ini menghadirkan beberapa pembicara yang mewakili kalangan akademisi, aleg, caleg dan juga kader KAMMI. Hadir K.H. Aus Hidayat Nur anggota DPR RI fraksi PKS, Hj. Siti Qomariah selaku calon anggota DPD RI, Farid Nurrahman pengajar di Institut Teknik Kalimantan (ITK), Samsul Alam mantan ketua PW KAMMI Kaltimtara 2015-2017, Nurul Fatimah Khasbullah yang saat ini mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia, Nirmalasari caleg DPRD provinsi Kaltim dari Hanura, dan Ahmad Eka Bayu yang juga merupakan caleg DPRD provinsi Kaltim dari Partai Keadilan Sejahtera.

Pembahasan yang “renyah” membuat agenda ini diminati oleh banyak masyarakat Samarinda terutama kaula muda. Terbukti, agenda dipadati peserta yang didominasi kalangan millenial. Walau ada juga peserta ‘pra millenial’ yang turut hadir meramaikan acara.

Diskusi dimulai dengan menggelontorkan isu dan permasalahan yang terjadi di Kaltim. Kang Aus memulai dengan data yang membuat hati kita tercabik sebagai masyarakat Kaltim. Dari total 841 kelurahan yang ada di Kaltim, sekitar 80% masih berstatus daerah tertinggal. Bahkan 295 kelurahan/desa masuk kategori sangat tertinggal. Ini menempatkan Kaltim sebagai provinsi yang kaya SDA namun jauh dari kriteria sejahtera.

Selain daerah tertinggal, pendidikan Kaltim juga ternyata masih ‘tertinggal’. Mengapa? Ibu Siti Qomariah yang saat ini merupakan anggota DPRD Provinsi Kaltim komisi 4 (pendidikan dan kesejahteraan) menyampaikan, pada kenyataannya saat ini anggaran pendidikan dari pemerintah belumlah mencapai 20% sebagaimana yang diamanatkan undang-undang. Bahkan pendidikan belum masuk dalam list sektor prioritas pemerintah periode ini. Prioritas justru mengarah ke sektor infrastruktur dan pertanian dalam arti luas.

Mengenai sektor infrastruktur, narasumber yang merupakan alumni fakultas teknik dan sekarang aktif mengajar di ITK, bang Farid Nurrahman menyampaikan, anggaran infrastruktur tiap tahun mencapai nominal 2000 triliun. Tetapi anggaran yang tidak kecil tersebut bahkan belum mampu dimanfaatkan dengan baik. Banyak pembangunan yang tidak sesuai harapan dari segi efektivitas dan kualitas. Contohnya bandara APT Pranoto yang baru saja diresmikan Presiden Jokowi bulan lalu, saat ini bagian plafonnya sudah terlepas.

Berlanjut pada sektor ekonomi dan ESDM daerah Kaltim yang juga tidak terlepas dari infrastruktur. Kak Samsul Alam menyayangkan kepada pemerintah dalam penyampaiannya, mengenai pembangunan jalan tol yang akan dilakukan untuk menghubungkan Samarinda dan Balikpapan. Kabarnya jika tol ini beroperasi, pengguna jalan tol akan dikenakan biaya 100 ribu sebagai tarif untuk sekali lewat. Maka jika biasanya biaya travel Samarinda-Balikpapan untuk 1 mobil 350-400 ribu rupiah, akan bertambah sampai 450-500 ribu rupiah. Pembangunan yang seharusnya mampu membantu perekonomian daerah dalam hal akses distribusi produsen ke pasar, justru membuat cost semakin tinggi dan kurang efektif dalam pelaksanaan. Fenomena kontradiktif, pembangunan infrastruktur justru menghambat geliat ekonomi daerah.

Banyaknya permasalahan yang terjadi di atas sudah seharusnya menemui solusi agar tak berkutat di jalan buntu. Maka diskusi ini juga coba menghadirkan gagasan-gagasan segar dari caleg millenial untuk memberi solusi yang efektif dan efisien terhadap permasalahan Kaltim.

Dibuka oleh mbak Nurul Fatimah, beliau menyampaikan poin penting yang harus menjadi tumpuan utama perhatian kita terhadap pendidikan yaitu pendidikan harus mampu mengantarkan generasi muda kepada lapangan kerja atau menciptakan lapangan kerja. SMK yang seharusnya menjadi pusat pendidikan keterampilan nyatanya hari ini tak berjalan maksimal.
Bahkan lulusan SMK di negeri ini masih belum terhitung mampu dan siap bersaing di dunia kerja. Maka, harus ada harmonisasi antara pendidikan dan kebutuhan lapangan kedepan. Dan ini tentu menjadi tugas bersama agar pendidikan benar-benar mampu menghadirkan manusia terdidik, bukan robot pekerja. Di samping membahas pendidikan, beliau juga menyampaikan terkait isu perempuan. Mbak Nurul menyampaikan bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual diharapkan segera bisa disahkan untuk meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan.

Caleg selanjutnya yang menyampaikan ide dan gagasannya yaitu Pak Ahmad Eka Bayu. Beliau memaparkan bahwa sektor ekonomi Kaltim bisa dimaksimalkan dengan jalan memberdayakan masyarakat sebagai entrepreneur. Anggaran ekonomi kedepan harus lebih difokuskan pada sektor pelatihan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena persaingan global menuntut kita untuk terus dinamis dalam mengelola ekonomi kerakyatan.

Terakhir, mbak Nirmalasari memaparkan gagasan terkait sektor pariwisata yang juga memiliki keterkaitan erat terhadap perbaikan ekonomi daerah. Kaltim punya banyak sekali potensi pariwisata, namun minim dalam perawatan dan pengelolaan. Akhirnya sektor wisata terabaikan dan justru tidak mampu mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi daerah. Maka ia berharap, kelak ketika terpilih menjadi aleg akan berupaya memperbesar anggaran pariwisata sampai di angka 25 miliar. Agar sektor pariwisata Kaltim lebih mampu lagi untuk mendukung perekonomian.

Diskusi kemudian berlanjut dengan dialog bersama peserta yang pada intinya memiliki keresahan yang sama agar kemajuan Kaltim itu nyata. Baik dari sektor lingkungan, ESDM, infrastruktur, pendidikan, pariwisata, maupun ekonomi. Semuanya sepakat bahwa millenial harus mengambil peran sebagai pelaku-pelaku perbaikan di berbagai sektor dan bergerak bersama untuk kemajuan Kaltim.

Sebagai penutup, semua pembicara berkesimpulan bahwa generasi millenial mampu membuat perubahan untuk Kaltim yang lebih baik setidaknya melalui beberapa hal.

Pertama, memilih caleg yang benar-benar memiliki program jelas dan mampu menjadi solusi atas permasalahan Kaltim.
Kedua, millenial harus memiliki pola pikir “semakin banyak aleg millenial yang terpilih, akan semakin terbuka peluang program-program kongkrit yang sesuai kebutuhan millenial”. Bukan untuk tujuan ego semata, tapi karena millenial percaya bahwa generasinya mampu menghadirkan solusi terbaik menjawab keresahan masyarakat.
Ketiga, millenial bisa memaksimalkan perkembangan teknologi untuk terus berkarya dan menyebarkan kebaikan lewat media, terutama sosial media. Buatlah kampanye-kampanye positif yang sifatnya mencerdaskan. Misal, bagaimana sosmed mampu menggerakkan pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan yang dianggap kurang tepat setelah diviralkan oleh generasi millenial lewat jempol-jempol kreatifnya. Bagaimana mencerdaskan masyarakat berkenaan dengan pemilu sehat dan damai. Dan banyak hal lainnya.
Terakhir dan paling penting, millenial harus selalu menjaga idealisme dan kekritisannya. Jangan mau dibungkam hanya karena uang, apalagi sekedar eksistensi. Pergunakan waktu yang ada untuk menajamkan akal dan menyehatkan jiwa, agar terpelihara ruh-ruh anak muda yang terus berkontribusi untuk kemajuan bangsanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung