Rekam Jejak Muslim Uyghur, Bagaimanakah Indonesia Seharusnya Bersikap?

Rapat Pimpinan Wilayah Kalimantan Timur & Utara
December 26, 2018
Waspada Pelecehan Seksual !
January 13, 2019

Oleh :

Aditya Ferry (Ketua Umum KAMMI Samarinda)

 

Beberapa tahun belakangan ini, kabar duka kembali menyelimuti umat muslim di belahan dunia. Mulai dari konflik berkepanjangan Palestina dengan Zionis Israel, penderitaan muslim di Yaman yang menderita kelaparan massal, muslim Rohingya yang mengalami genosida dan kini penindasan muslim Uyghur oleh Pemerintah Cina yang berdomisili di daerah Xinjiang.

Topik pembicaraan muslim Uyghur kembali viral menjadi trending topik semenjak diskriminasi umat muslim semakin merajalela. Tentu hal tersebut membuat netizen mengutuk perlakuan bengis Pemerintahan Cina, Bahkan sampai saat ini sebagian kelompok di Indonesia juga mengkritik sikap Pemerintah Joko Widodo yang dianggap cari aman dan mengabaikan muslim Uyghur yang tertindas.

Prof.Mahfud MD, meminta Pemerintah Indonesia jangan hanya menyatakan sikap prihatin atas kasus tersebut. Menurutnya, Pemerintah harus berani mengutus tim khusus untuk bicara resmi terhadap Pemerintah Cina. Entah mengapa kejadian muslim Uyghur seperti mendapatkan perlakuan yang berbeda dalam menyikapinya, tidak seperti perlakukan yang diberikan kepada kasus muslim Palestina dan Rohingya beberapa waktu lalu.

Namun apakah kita sudah tahu, bagaimana sejarah dan rekam jejak muslim Uyghur ?

Nama Uyghur pertama kali muncul di dalam prasasti Orkhun Kok Turk pada sebuah naskah di abad pertengahan Arab-Persia. Uyghur menjadi koneksi antara peradaban Romawi dan budaya di Asia Tengah dan Timur. Hal ini menjadikan karakter masyarakat Uyghur yang kosmopolitan dengan toleransi hidup sesama suku dan ras. Saat pengaruh Islam di kawasan Timur Tengah tumbuh kuat, suku Uyghur mulai memeluk Islam secara bertahap setelah konversi penguasa Satuq Boghra Khan pada 960 Masehi silam.

Muslim Uyghur kerap mendapatkan diskriminasi yang telah ada sejak 2014 lalu. Dimulai dengan adanya penahanan paksa di kamp khusus untuk menjalani program re-edukasi. Namun proses yang di klaim sebagai re-edukasi justru menyiksa muslim Uyghur baik secara psikis, fisik dan didoktrin untuk meninggalkan agama Islam. World Uyghur Congress melaporkan bahwa para tahanan ditawan tanpa dakwaan dan dipaksa meneriakkan slogan Partai Komunis.

Perlakuan Pemerintah Cina yang jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) menimbulkan kecaman dari umat muslim di seluruh belahan dunia. Indonesia yang juga merupakan negara dengan umat muslim terbesar, sudah sepantasnya peduli dan mengambil langkah tegas untuk membantu saudara-saudara kita di Uyghur dengan mendesak pemerintah melakukan diplomasi dan membangun perabadan sesuai dengan amanat UUD 1945.

Politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif menjadi instrument untuk melakukan diplomasi dan memutus rantai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Penindasan dan diskriminasi muslim Uyghur sudah menjadi rahasia umum yang berlangsung lama. Bahkan laporan Lembaga Swadaya Masyarakat Hak Asasi Manusia (LSM HAM) dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperkuat bukti kekerasan tersebut.

Sebagai umat muslim sudah selayaknya kita bergerak. Jangan pura-pura diam dan buta tuli pada penindasan yang dialami oleh muslim Uyghur! Indonesia harus menjalankan mandat konstitusional yang ikut melaksanaakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. The world will never be peaceful when there are crimes and injustices that make moeslem suffer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung