Krisis Ibu idaman

Instruktur dan Wajah Bangsa ke Depan
January 13, 2019
RAKORWIL KA KAMMI KALTIM 2019
January 27, 2019

Oleh

Jumarni (Staf Departemen Media PW KAMMI Kaltimtara)

Menjadi seorang ibu tidaklah main-main, tetapi sayangnya banyak perempuan yang tidak berpikir demikian. Masih banyak perempuan yang belum merasa pentingnya menjadi seorang ibu sungguhan. Istilah inteleknya menjadi ibu yang ‘profesional’, bukan ibu yang amatiran.

Kasus seorang pasangan muda, sang ibu yang membuang anaknya beberapa waktu lalu. Harusnya, kalau status ibu bukanlah sekedar status, tetapi sebuah alur kehidupan yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Kemudian, kekerasan yang menimpa anak, yang dilakukan anggota keluarga, terkhusus ibu kandung, cenderung meningkat dari tahun ketahunnya (data: KPAI). Ini yang didata dan terlaporkan belum yang tidak terdata. Dan kita ketahui, ini adalah Puncak gunung es, artinya jumlah rill yang bisa jadi lebih berlipat. Dari jumlah itu, 56% pelakunya adalah ibu, dan ini menunjukkan peningkatan yang memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa negeri ini mengalami krisis ibu idaman anak.

56% persen pelaku kekerasan anak dalam keluarga adalah ibu kandung mereka.

Asbab dari kejadian itu saya kategorikan menjadi tiga bagian yang pertama, perekonomian dan realitas hidup, Semakin rendah perekonomian, kemudian tekanan hidup terus bertambah.
Kedua, tidak memiliki kompetensi sebagai ibu, tidak sedikit perempuan muda yang ketika menikah tidak mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Bukan soalan nikah muda yang salah, tetapi kesiapan psikologis dan bekal sang calon ini perlu dipersiapkan sedini mungkin.
Ketiga mengenai rasa syukur dan bersabar. Ketika mampu untuk bersabar dan bersyukur, bagaimanapun keadaannya seharusnya bayi tersebut tidak dibuang, seharusnya sebagai ibu memiliki hati nurani akan hal ini, karena bayi tersebut merupakan darah dagingnya sendiri.

Krisis ibu ini tidak dapat dibiarkan berlanjut. Kondisi ideal memang hanya bisa didapat apabila masyarakat dalam naungan kehidupan yang humanis/manusiawi.

Pertama, harus adanya kesadaran diri bahwa menjadi seorang ibu adalah amanah dari Allah SWT, ada tanggung jawab besar dihadapan Allah pada pundak kaum ibu dalam pengasuhan anak, sejak pernikahan hingga mereka dewasa. Menjadikan peran itu adalah amanah bukan sebagai kontrak sosial, sehingga ketika hadirnya buah hati atas dasar sadar ataupun tidak sadar, maupun atas dasar mau atau tidak hal ini tidak akan terjadi selanjutnya karena adanya rasa takut akan penjagaan dan pertanggung jawaban kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kedua, mempelajari pengetahuan islam baik mengenai hukum” keibuan, peran istri, kehamilan, melahirkan, penyusuan dan pengasuhan, dsb.
Dengan demikian, saat menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, kaum perempuan memiliki panduan yang benar dan mudah untuk dijalankan sesuai dengan tuntutan Yang Maha Esa.
Ketiga, meningkatkan keterampiran teknis sebagai Seorang ibu seperti, cara berkomunikasi, bermain, memberikan hadiah, dan teguran yang sesuai porsi anak-anak.

Allah telah lama memuliakan manusia, terlebih perempuan. Dan hakikat perempuan adalah madrasah pertama dan sebaik-baiknya guru bagi anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung