Cikal Bakal International Women’s Day

Penyataan Sikap KAMMI Kaltimtara atas Penyerangan secara Brutal kepada Umat Muslim di Christchurch New Zealand
March 17, 2019
April Fools Day
April 4, 2019

     oleh : Selvi Oktavia ( Kepala Departemen Keperempuanan Komsat Unmul 2019)

Hari Wanita Internasional tepat pada tanggal 8 Maret, bahwa para aktivis pun ikut mengkampayekan dengan berbagai tagline yang berkaitan dengan perempuan.  Akan tetapi tahukah cikal bakal lahirnya Women’s Internasional Day? Sebagai pemuda kita memiliki peran penting dalam setiap perubahan sosial ditengah – tengah masyarakat, mempelajari dan memaknai sejarah adalah bagian dari sebuah perjuangan namun jangan sampai perjuangan kita hari ini hanya sekedar ikut – ikutan apalagi sekedar eksistensi diri. Mari merenung dan pahami hikmahnya bagi Indonesia yang menjunjung tinggi nilai – nilai persatuan dan keadlilan dalam bingkai kebhinekaan. Peringatan ini dimulai sejak 1909 di New York,  Amerika Serikat. Selang waktu antara 1908 dengan 1909, perempuan-perempuan New York menyuarakan haknya tentang kondisi pekerjaan yang dirasa tidak adil dan sejahtera,  hal ini berangkat dari  keresahan para buruh perempuan pabrik garmen di New York,  mereka melakukan aksi demonstrasi untuk memprotes kondisi tempat kerja yang tidak manusiawi serta pendapatan yang rendah.

Beralih ke tahun 1910 partai Sosialis Amerika  berkumpul untuk menyepakati hari perempuan, usulan ini disetujui oleh 100 perempuan dari 17 Negara,  namun pada tahun tersebut belum disepakati tanggal berapa tepatnya untuk memperingati hari perempuan tersebut.  Berlanjut ke tahun berikutnya, pada 19 Maret  sudah mulai di peringati oleh beberapa Negara seperti Austria, Swiss, Denmark dan Jerman,  lebih dari 1 juta perempuan dan laki-laki turut hadir merayakan. Dan pada selang waktu 1913 hingga 1914, Hari Perempuan Internasional digunakan untuk penolakan perang dunia I,  di Negara Eropa perempuan banyak menyuarakan tentang hal tersebut atau bisa disebut aksi solidaritas Perempuan. Pada tahun 1917 para perempuan Rusia memperingati hari perempuan internasional sebagai media untuk memprotes perang,  dengan berlandaskan perdamaian bahkan dijadikan sebagai hari libur nasional. Tahun 1917, kaum perempuan Rusia turun ke jalan lagi dan menyerukan “bread and peace” sebagai bentuk protes atas terbunuhnya dua juta tentara Rusia dalam perang.

     Empat hari kemudian, Tsar Rusia turun tahta dan pemerintah sementara mengakui hak perempuan untuk ikut serta dalam pemilu. Hari bersejarah tersebut jatuh pada tanggal 23 Februari di kalender Julian yang digunakan Rusia, atau 8 Maret pada kalender Masehi.  Salah satu faktor yang mendorong lahirnya Hari Perempuan Internasional ini juga berasal dari satu kejadian mengenaskan yang pernah menimpa buruh perempuan, pada sebuah kebakaran besar. Kejadian di Pabrik Triangle Shirtwaist tahun 1911 itu menewaskan setidaknya 123 nyawa buruh perempuan. Banyak upaya dan usaha yang dilakukan oleh perempuan,  hingga sampai pada tahun 1975, PBB meresmikan Hari Perempuan Internasional jatuh pada 8 Maret dengan penggunaan kalender Masehi.

       Sejak saat itulah hingga sekarang 8 Maret dikenal sebagai Hari Perempuan Internasional atau International Woman Day. Banyak kalangan perempuan,  instansi, lembaga ikut merayakan peringatan hari perempuan, satu diantaranya adalah Google. Siapa yang tak kenal dengan Google, perusahaan mesin pencari juga turut memperingati Hari Perempuan Internasional melalui Google Doodle, yang biasa kita lihat pada laman diatas pencarian. Yang menjadi menarik adalah yang menjadi tokoh perempuan pada Doodle, ada 13 perempuan yang di tampilkan pada Google Doodle

  1. Frida Kahlo

Seniman asal Meksiko tersebut dikenal lantaran potret dirinya dengan sapuan warna berani. Dikutip dari Kompas.com, Frida Kahlo oleh kaum Feminis disebut sebagai penggalaman dan wujud perempuan. Frida menuangankan tema rasa sakit fisik dan emosional pada kanfasnya, temasuk hubungannya dengan suami. Lahir pada 6 Juli 1907, Frida mengalami kecelakaan bus dan menjalani 30 operasi, selama pemulihan ia belajar melukis sendiri. Meninggal setahun setelah mengadakan pameran tunggal pertamanya di Meksiko pada tahun 1953. Penyebab kematian adalah emboli paru pada tahun 1954. “Kaki, untuk apa saya memerlukannya jika saya punya sayap untuk terbang?”.  Itulah kutipan dari Frida.

  1. . Dr. Mae Jemison

Perempuan kulit hitam pertama yang berpetualang ke luar angkasa, pada 12 September 1992. Berasal dari keluarga campuran Afrika dan Amerika, Mae Jemison bergabung dengan NASA sejak 4 Juni 1987. Selain itu Mae Jemison juga seorang ahli fisika, insinyur, pendidik dan pengusaha. “Jangan mau dibatasi oleh imajinasi orang lain yang terbatas.”

  1. Emma Herwegh

Seorang penulis surat jeman yang berpartisipasi dalam pemberontakan tahun 1848. “Jangan biarkan apa pun di dunia ini membelenggu selain kebenaran batin hakiki Anda.”

  1. Yoko Ono

Perempuan asal Jepang yang berprofesi sebagai seniman dan musikus. Pernah menikah dengan musisi John Lennon. “Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang Anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

  1. NL Beno Zephine

Seorang diplomat India yang bertugas pada layanan luar negeri dan 100 persen mengalami ganguan visual atau pengelihatan. “Kita terlalu berharga untuk membiarkan kekecewaan memasuki pikiran kita.”

  1. Mary Kom

Seorang petinju asal India dan pernah menjuarai Tinju Amatir Dunia sebanyak lima kali. Mary Kom juga menjadi satu-satunya petinju putri yang memenangkan sebuah medali dalam enam kejuaraan dunia. “Jangan katakan Anda lemah karena Anda adalah perempuan.”

  1. Clarice Lispector

Clarice Lispector adalah seorang penulis novel dan cerita pendek yang sudah terkenal di kancah internasional. “Saya lebih kuat dari pada yang saya bayangkan.”

  1. Zaha Hadid

Dikutip dari wanarch, Zaha Hadid adalah seorang arsitek Britania kelahiran Irak. Zaha lahir di keluarga muslim kelas atas pada 31 Oktober 1950. “Saya sangat mempercayai gagasan di masa depan.”

  1. Milicent Garrett Fawcett

Milicent merupakan seorang juru kampanye terkemuka yang memperjuangkan persamaan hak perempuan, dikutip dari biography online Jumat (8/2/2019). Selain itu ia juga membantu mendirikan Newnham College, Cambridge. Ia juga aktif dalam kegiatan politik membela hak-hak pekerja dan mengatasi hukum atas dasar pada moralitas ganda untuk laki-laki dan perempuan. “Keberanian menyeru keberanian di mana pun.”

  1. Marina Tsvetaeva

Dikutip dari laman Poetry Foundation, Marina Tsvetaeva adalah seorang penyair asal Rusia yang lahir di Moskow, Jumat (8/3/2019). Marina kehilangan ibunya saat berumur 14 tahun karena sakit TBC. Pada usia 18 tahun Marina telah menerbitkan koleksi puisi pertamanya, Evening Album. Ia dianggap sebagai penyair Rusia abad ke-20 yang terkenal. “Sayap hanya berarti kebebasan saat terpentang untuk terbang. Pada pundak seseorang, sayap adalah beban berat.”

  1. George Sand

Terlahir sebagai Armandine Aurore Lucille Dupin, George mengalami banyak kisah dari menjadi biara hingga mengenal alam lebih dekat. Dikutip dari Encyclopedia of World Biography, George telah mempelajari alam dan ilmu pengobatan yang dipraktekan kepada para petani, Jumat (8/3/2019). Ia juga mempelajari berbagai bacaaan filsuf dan mengembangkan hasrat untuk menulis karya-karya. Atas dorongan tutornya, ia mengenakan pakaian laki-laki dan mulai belajar berkuda disaat perempuan tidak diperbolehkan memakai pakaian laki-laki. “Masa depan bisa bangkit dengan cara yang lebih indah dari pada masa lalu.”

  1. San Mao

San Mao lahir di China Barat Daya pada 26 Maret 1943. Dikutip dari women of china, San Mao adalah anak yang cerdas dan kritis, Jumat (8/3/2019). San Mao menghabiskan banyak waktu mudanya dengan tinggal di Madrid, Sepanyol, dan beberapa wilayah di Amerika. San Mao sangat terkenal dengan tulisannya dan bahkan juga membuat film, namun sayang ia meninggal dengan gantung diri setelah difonis kangker. “Seseorang yang memiliki setidaknya sebuah mimpi memiliki alasan untuk menjadi kuat.”

  1. Chimamanda Adichie

Seorang berkebangsaan Nigeria yang menulis buku yang telah diterjemahkan ke 30 bahasa. Dikutip dari lama resminya Chimamanda.com, novelnya pernah memenangkan penghargaan Commonwealth Writers dan Hurston / Wright Legacy Award. Buku lainnya juga banyak merai penghargaan, bahkan ia telah diundang untuk berbicara di seluruh dunia. Ceramahnya di tahun 2012 “We Should All Be Feminists” telah memulai pembicaraan di seluruh dunia tentang feminisme, dan diterbitkan sebagai sebuah buku pada tahun 2014. “Saya penting. Saya sama pentingnya. Tanpa “Hanya jika”, tanpa “asalkan”, Saya penting. titik.”

Source:(TtibunWow.com/Ami)

      Terlepas dari prestasi dan karya tokoh-tokoh perempuan diatas,  yang  menjadi menarik dari penokohan tersebut adalah adanya pengangkatan ideologi Feminisme yang berasal dari beberapa quote perempuan diatas. Sejarah mencatat telah terjadi ketidak adilan terhadapa sebagian besar perempuan di Negara barat. Namun,  kebebesan yang disuarakan oleh kaum Feminisme adalah bukanlah seperti yang disuarakan perempuan pada 1 abad yang lalu.  Kebebasan perempuan terus berkembang dari zaman hingga ke zaman,  sehingga kebebasan perempuan terlihat seperti lepas dari kodrat perempuan itu sendiri.

        Walaupun peringatan Internasinal Women’s Day (IWD) ini sempat “hilang”, pada akhirnya hal ini berhasil kembali dihidupkan pada era 60-an yang berbarengan dengan bangkitnya feminisme. Feminisme adalah sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan. Secara luas pendefinisian feminisme adalah advokasi kesetaraan hak-hak perempuan dalam hal politik, sosial, dan ekonomi.

Gerakan feminis pada mulanya adalah  gerak sekelompok aktivis perempuan barat, yang kemudian lambat laun menjadi gelombang akademik di universitas-universitas, termasuk  negara-negara Islam, melalui program ”woman studies”.  Gerakan perempuan  telah mendapat “restu”  dari  Perserikatan Bangsa Bangsa perempuan dengan dikeluarkannya  CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women). Negara dan lembaga serta organisasi-organisasi di dunia terus mendukung gerakan-gerakan perempuan , walaupun  menurut Khan dukungan tersebut memiliki efek negatif bagi gerakan perempuan (baca-feminisme) karena aktivis perempuan telah kehilangan sudut pandang politik (political edge) dan juga untuk beberapa kasus telah kehilangan komitmennya. Meskipun demikian,  gerak kaum feminis di dunia Islam justru menunjukan tingkat agresivitas yang mengkhawatirkan. Dalam dua dekade terakhir ini perempuan pakistan telah menjadi target  gerakan feminis. Pada tahun 1975 pemerintah Pakistan  mendorong perempuan untuk mengikuti pemikiran feminisme, walaupun pada tahun 1977 ketika proses islamisasi dan militerisasi telah berhasil membendung pemikiran ini, tetapi pada tahun 1980, gerakan feminis kembali bermunculan di Pakistan secara signifikan.  Indonesia mengalami nasib serupa dengan Pakistan.  Kesetaraan gender disosialisasikan dengan gencar dan sistematis ke seluruh dunia melalui media, ormas, LSM, lembaga pendidikan formal dan non formal. Wilayah gerakan kaum feminis begitu luas, dari tingkat internasional sampai menjangkau institusi masyarakat yang terkecil, yaitu RT. Dengan mengatasnamakan HAM, para aktivis perempuan  kemudian berusaha mempengaruhi  pemerintah dalam masalah kebijakan sampai teknis operasional.

Usaha mereka sepertinya mulai menampakan hasil dengan diratifikasinya  isi CEDAW sehingga keluarlah  UU no. 7 tahun 1984. Kemudian  Pemerintah Indonesia telah mengesahkan undang-undang nomor 23  tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga), UU Perlindungan Anak , dan mereka berupaya melakukan legalisasi aborsi melalui amandemen UU Kesehatan. Dalam bidang politik, feminis berada dibelakang keluarnya  UU Pemilu  tahun 2008 tentang kuota caleg perempuan sebanyak 30 persen. Hingga yang lagi marak disuarakan tentang Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang mengandung unsur Feminisme radikal juga. Adapun beberapa pasal yan memuat unsur Feminisme yang dimuat dalam Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tahun 2016.

Pertama adalah Kebebasan seksual

Mengenai tindak pidana pelecehan seksual dan kontrol seksual :

(1) Tindak pidana pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (2) huruf a adalah tindakan menghina dan/atau menyerang tubuh dan seksualitas seseorang.

(2) Bentuk-bentuk tindak pidana pelecehan seksual sebagaimana dimaksud pasal 5 ayat  2) huruf a meliputi: a. Pelecehan fisik; b. Pelecehan lisan; c. Pelecehan isyarat; d. Pelecehan tertulis atau gambar; dan e. Pelecehan psikologis atau emosional

Yang kedua sebagai akar penindasan pada Pasal 7

(1) Tindak pidana kontrol seksual sebagaimana pasal 5 ayat (2) huruf b adalah tindakan yang dilakukan dengan paksaan, ancaman kekerasan, atau tanpa kesepakatan dengan tujuan melakukan pembatasan, pengurangan, penghilangan dan atau pengambilalihan hak mengambil keputusan yang terbaik atas diri, tubuh dan seksualitas seseorang agar melakukan atau berbuat atau tidak berbuat.

Frasa kontrol seksual  pada pasal 5 ayat (2) huruf b yang dikategorikan kekerasan seksual melindungi kebebasan aktivitas seksual tanpa kontrol pihak lain.  Kendali dalam keluarga maupun di tengah masyarakat (kontrol sosial atas kebebasan seksual) ditiadakan dengan pasal  ini.  Bahkan siapa pun yang memberikan kontrol, termasuk orang tua dalam mendidik anaknya, mencegah terjerumus dalam penyimpangan seksual (LGBT), misalnya, dianggap telah melakukan tindak pidana

Yang ketiga sebagai akar penindasan adalah dominasi atas tubuh dan seksualitas perempuan yang ditemui di ranah privat

Pasal 7

(1) Tindak pidana kontrol seksual sebagaimana pasal 5 ayat (2) huruf b adalah tindakan yang dilakukan dengan paksaan, ancaman kekerasan, atau tanpa kesepakatan dengan tujuan melakukan pembatasan, pengurangan, penghilangan dan atau pengambilalihan hak mengambil keputusan yang terbaik atas diri, tubuh dan seksualitas seseorang agar melakukan atau berbuat atau tidak berbuat.

Pasal 8 (2) Tindak pidana perkosaan meliputi perkosaan di dalam dan di luar hubungan perkawinan

      Yang keempat relasi antara laki-laki dan perempuan merupakan paradigma dari semua relasi kekuasaan.  Konsekuensi pandangan ini bahwa pihak yang berwenang menata masyarakat seperti  lembaga negara dan lembaga masyarakat serta korporasi yang memiliki otoritas mengatur SDM nya, dipaksa melepaskan kontrol terhadap perilaku atas nama kebebasan menggunakan tubuh, seksualitas dan/atau organ reproduksi.

(2) Bentuk Kekerasan seksual sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) meliputi; a. Pelecehan seksual, b. Kontrol seksual, c. Perkosaan, d. Eksploitasi seksual,  e. Penyiksaan seksual, dan f. Perlakuan atau penghukuman lain tidak manusiawi yang menjadikan tubuh, seksualitas dan/atau organ reproduksi sebagai sasaran

(3) Setiap tindakan persetujuan diam-diam atau pembiaran yang dilakukan oleh lembaga negara, korporasi, dan lembaga masyarakat, yang berakibat terjadinya kekerasan seksual sebagaimana dimaksud ayat (2) merupakan tindak pidana kelalaian. Perlakuan atau penghukuman lain tidak manusiawi yang menjadikan tubuh dan seksualitas atau organ reproduksi sebagai sasaran, dan/atau merendahkan martabat kemanusiaan

Kelima, perempuan memiliki kekuatan positif mutlak, termasuk kontrol seksual.  Pandangan ini meyakini bahwa kekuatan  perempuan mampu menentukan sendiri keputusan atas dirinya, untuk berbuat atau tidak berbuat.  Kontrol seksual bagi perempuan tidak bisa disentuh oleh kontrol pihak mana pun, termasuk pepimpinnya, pengasuhnya, pendidiknya.

Pasal 7

(1) Tindak pidana kontrol seksual sebagaimana pasal 5 ayat (2) huruf b adalah tindakan yang dilakukan dengan paksaan, ancaman kekerasan, atau tanpa kesepakatan dengan tujuan melakukan pembatasan, pengurangan, penghilangan dan atau pengambil alihan hak mengambil keputusan yang terbaik atas diri, tubuh dan seksualitas seseorang agar melakukan atau berbuat atau tidak berbuat

Keenam, melahirkan lesbianisme dimana perhatian dan emosi terhadap sesama perempuan adalah merupakan bagian dari perlawanan mereka terhadap patriarki.

Konsekuensi perjuangan berbasis keperempuanan dan keyakinan keharusan melawan kontrol sosial atas kebebasan seksual. Perempuan harus dapat menguasai alat reproduksi untuk menghapuskan sistem kelas seksual.

Pasal 7

(1) Tindak pidana kontrol seksual sebagaimana pasal 5 ayat (2) huruf b adalah tindakan yang dilakukan dengan paksaan, ancaman kekerasan, atau tanpa kesepakatan dengan tujuan melakukan pembatasan, pengurangan, penghilangan dan atau pengambilalihan hak mengambil keputusan yang terbaik atas diri, tubuh dan seksualitas seseorang agar melakukan atau berbuat atau tidak berbuat. pada pasal 7 ayat (2) dinyatakan bahwa Kontrol Seksual sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) meliputi: a. Pemaksaan menggunakan atau tidak menggunakan busana tertentu;  Maka orang tua tidak boleh mendisiplinkan anaknya berhijab untuk menutup aurat. Karena termasuk kontrol seksual dalam hal busana.

Seorang laki-laki tidak harus berpakaian laki-laki, namun boleh berpakaian perempuan. Demikian juga sebaliknya. Perempuan boleh berpakaian laki-laki. Karena melarangnya termasuk kontrol seksual. Para perempuan juga berhak berbaju seksi dan minim,  karena itu dianggap hak yang dilindungi undang-undang. Pasal 8 (2) Tindak pidana perkosaan meliputi perkosaan di dalam dan di luar hubungan perkawinan.

        Ketujuh, manusia tidak perlu menjadi orang tua biologis untuk mempunyai hidup yang berpusat pada anak. Ibu sosial sama efektifnya dengan ibu biologis.  Konsekuensi perjuangan kontrol seksual bagi perempuan, melindungi keengganan melayani suami, hamil dan melahirkan :

Pasal 7

(1) Tindak pidana kontrol seksual sebagaimana pasal 5 ayat (2) huruf b adalah tindakan yang dilakukan dengan paksaan, ancaman kekerasan, atau tanpa kesepakatan dengan tujuan melakukan pembatasan, pengurangan, penghilangan dan atau pengambilalihan hak mengambil keputusan yang terbaik atas diri, tubuh dan seksualitas seseorang agar melakukan atau berbuat atau tidak berbuat.

Pasal 8 (2) Tindak pidana perkosaan meliputi perkosaan di dalam dan di luar hubungan perkawinan.

     Kedelapan,  Perempuan memiliki kekuasaan penuh atas tubuh dan aktivitas seksual mereka di ranah privat maupun publik

Pasal 8 (2) Tindak pidana perkosaan meliputi perkosaan di dalam dan di luar hubungan perkawinan.

   Kesembilan, Mendukung hilangnya sistem keluarga dengan menolak institusi keluarga “We can’t destroy the inequities between men and women until we destroy marriage.” Robin Morgan

The nuclear family must be destroyed … Whatever its ultimate meaning, the break-up of families now is an objectively revolutionary process,” says author and woman’s rights activist Linda Gordon. Pasal 8 ayat (2) menyebutkan bahwa Tindak pidana perkosaan meliputi perkosaan di dalam dan di luar hubungan perkawinan. Seorang istri memiliki kebebasan memilih untuk melayani suami atau menolak.  Hal ini merupakan salah satu pintu kehancuran harmonisasi keluarga dan hilangnya sistem keluarga. Keluarga dianggap sebagai sebagai institusi yang mempraktikkan budaya patriarki, keluarga diyakini sebagai penghalang kesuksesan perempuan karena menjadi sumber ketidaksetaraan.

  Mungkin dari penjelasan diatas,  banyak dari pembaca yang bertanya kenapa Internasional Woman Day dikaitkan dengan RUU P-KS,  maka penulis katakan bahwa setiap tahunnya banyak lembaga, instansi, yang merayakan peringatan hari perempuan internasional ini,  namun hanya sekedar merayakan tidak melihat dari esensi dari perayaan itu sendiri,  padahal yang kita tahu masih banyak permasalahan perempuan yang belum terselesaikan hingga sekarang,  dari kasus pelecehan seksual,  kejahatan seksual,  hingga kepada tingkat aborsi yang tak pernah habis terselesaikan dan tekatung dalam hukum yang membingungkan. Yang mana hal tersebut kita tahu bahwa yang menjadi subjek terbesarnya adalah perempuan.  Maka dari itu, perempuan  sekarang masih dihadapkan dengan persoalan yang masih belum jelas hukumnya bahkan ingin di jadikan sebagai pedoman tapi tidak melihat nilai dan norma yang ada dan berlaku di negara kita. Yang menjadi catatan pada hari Perempuan International yang pertama adalah  kebebasan perempuan bukan hanya apa yang ingin kita bebaskan secara kepuasan dan nafsu pribadi untuk mengekspresikan diri, tetapi tak kalah pentingnya yang menjadi acuan bahwa kita hidup bermasyarakat ada nilai dan norma yang berlaku,  kita hidup bernegara, ada landasan dan pedoman yang berlaku,  yaitu Pancasila,  dan yang tersakral adalah kita hidup karena berdasarkan kehendak Tuhan,  sehingga kebebasan juga diatur oleh Allah yang menjadi pemberi kehidupan kita selama ini.

Kemudian yang kedua kita sebagai kaum intelektual juga harus memfilter tentang suatu peringatan hari yang ada,  karena bisa jadi itu adalah salah satu langkah untuk membawa pikiran dan ideologi kita terhadap mereka yang mengusulkan hari tersebut dan atau kepada. mereka yang memanfaatkan suatu peringatan hari tersebut.  Sebagai perempuan, kita tidak ingin hanya mengekor pada suatu kepentingan yang merusak kodrat perempuan itu sendiri. oleh karena itu perayaan dan peringatan hanyalah sebuah formalitas,  yang terpenting adalah esensi dari peringatan tersebut,  apakah sesuai dengan yang dicita-citakan negara dan para pendahulu kita atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung