Tolak Pornografi, KAMMI Gelar Diskusi

kammikaltim.com. Kekhawatiran akan berkembangnya dampak pornografi yang merusak kualitas generasi masa depan bangsa, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah Kaltim menggelar diskusi panel bertema “Dimanakah Kita Saat Pornografi Merusak Generasi Bangsa?” pada Minggu (17/4) di gedung Pusrehut Unmul. Diskusi tersebut mendatangkan empat narasumber yang mewakili lembaga P2TP2A, Diskominfo, KPID Kaltim dan ahli psikologi. Diskusi yang diikuti lebih dari 120 peserta tersebut berjalan dinamis.

Dalam sambutannya, Samsul Alam, Ketua KAMMI Kaltim, menjelaskan munculnya berbagai perilaku seks menyimpang tidak terlepas dari dampak pornografi. “Hampir semua konten pornografi menjurus kepada sosialisasi perilaku seks menyimpang. Hal ini bahkan telah diperkuat dengan munculnya berbagai komunitas di tengah masyarakat atau lingkungan mahasiswa yang mendukung tindakan tersebut,” ujar Samsul.

Samsul juga merujuk pada sejarah kejatuhan kekaisaran Cina yang diawali dengan penyebaran heroin di kalangan pemuda dan penerus kerajaan. Menurutnya, penyebaran pornografi di kalangan pemuda Indonesia juga merupakan bentuk pengrusakan non fisik yang dampaknya melebihi kecanduan heroin sendiri.

Senada dengan pendapat Samsul, Fadilah Idris, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan (BPP) KAMMI Kaltim mengatakan perkembangan pornografi lebih berbahaya dibanding perkembangan narkoba karna masyarakat telah sadar dengan bahaya narkoba. “Dewasa ini kita menyadari peningkatan kesadaran masyarakat terhadap narkoba seperti terbentuknya komunitas dan gerakan melawan narkoba. Namun, kita belum mendengar suara masyarakat dalam melawan pornografi,” lanjutnya.

Fadilah menambahkan, tidak mungkin bangsa dapat maju jika otak penerusnya telah dirusak melalui pornografi. “Mengonsumsi konten pornografi terus menerus dapat menimbulkan kecanduan dan akibat jangka panjangnya adalah kerusakan otak bagian PFC yang mengatur sikap pengendalian diri dan moral,” tegasnya.

Kasus pornografi di Kaltim bukan lagi hal baru. Data yang ditunjukkan P2TP2A Kaltim menunjukkan peningkatan kasus kekerasan pada perempuan dan anak tiap tahunnya yang didasari pornografi. Ironisnya, kasus pornografi tersebut telah menyentuh kalangan anak-anak baik sebagai korban maupun pelaku.

Merebaknya kasus pornografi tidak hanya didasari oleh pengaruh lingkungan maupun keluarga, tetapi juga media maupun tontonan yang tak mendidik. Diterangkan suarno, komisioner KPID Kaltim, KPI Pusat telah sepakat untuk menutup celah penyebarluasan publikasi LGBT dan hal yang berbau pornografi melalui konten media penyiaran. Tidak hanya televisi, penggunaan internet pun memberikan sumbangsih besar bagi penyebarluasan konten pornografi. Dalam diskusi tersebut, keempat pihak narasumber telah menegaskan sikapnya dalam menyikapi pornografi dengan menolak penyebaran pornografi melalui kapasitas dan wewenang lembaga masing-masing.

Diskusi panel tersebut, ujar Fadila, bukan merupakan hasil akhir dari upaya pemberantasan pornografi yang dikawalnya. Fadila berharap, diskusi tersebut merupakan awal mula pembentukan solusi konkrit terhadap kasus pornografi seperti terbentuknya peraturan yang mengikat terkait pemberantasan maupun pencegahan pornografi. “Semoga diskusi ini bisa kami bawa ke forum yang lebih fokus dan matang dalam pengkajian isu pornografi,” harapnya.

Di akhir diskusi, terdapat sesi pembentukan aliansi masyarakat tolak pornografi yang beranggotakan berbagai komunitas yang menghadiri diskusi. Tercatat, belasan komunitas maupun organisasi mahasiswa menandatangani petisi aliansi masyarakat tolak pornografi. Peserta diskusi yang hadir juga membubuhkan cap tangannya di selembar spanduk putih sebagai bukti simbolik ketidaksetujuan terhadap mewabahnya isu pornografi.

Apr 17, 2016 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *