Politik Masuk Era Cameragenic

kammikaltim.com, MEMBAHAS tentang politik, citra dan kepemimpinan merupakan hal yang menarik, apa lagi di tengah musim Pemilukada. Menurut aktivitis dakwah Balikpapan, Surya Fribady, wilayah Kaltim sebagai salah satu provinsi terkaya dan terbesar pun menjadi daya magnet tersendiri bagi partai politik (parpol) untuk tampil sebagai pemenang dalam hajatan lima tahunan ini.

“Berbagai cara dilakukan untuk menyentuh hati rakyat Kaltim, yang paling mudah adalah menentukan figur calon yang memiliki popularitas tinggi. Bahkan kita sempat membaca di bebera media massa bahwasannya PDIP Kaltim bersedia menjadikan Basuki Tjahja Purnama atau yang akrab disapa Ahok untuk menjadi salah satu kandidat meramaikan Pemilukada di Kaltim,” kata Surya, kepada Balikpapan Pos, kemarin.

Kitapun sepakat, ia melanjutkan, bahwa salah satu parameter, bahkan menjadi syarat untuk memilih pemimpin yang dianut sebagian masyarakat adalah soal popularitas. Dalam bukunya yang berjudul Camera Branding (cameragenic), Rhenald Kasali Phd menyoroti fenomena ini. Yang diukur dari seberapa kuat citra dan image sesorang kandidat di media massa. Maka jadilah halaman-halaman koran sebagai referensi utama, layar-layar televisi menjadi parameter penampilan, jejaring sosial hingga situs-situs berita online dibanjiri oleh nama dan gambar wajah si calon dengan memanfaatkan buzzer atau endorse berbayar dari tim suksesnya,” sambungnya.

Disebutkan, belum lagi foto-foto yang bertebaran di sudut-sudut kota hingga pelosok daerah berisi senyuman dan ajakan bersemai bagai jamur di musim hujan.
“Faktanya memang seperti itu, politik kita memang masuk ke era camaragenic. Yang laris adalah yang paling gagah dan anggun tatkala berhadapan dengan kamera. Yang berkarater asli arogan, sombong, elitis, tampak sangat ramah di depan kamera, seolah dia paling humanis,” sebutnya.

Dijelaskan, masih lemahnya proses pendidikan politik yang menjadi tanggung jawab politisi serta partai politik, dirasa belum signifikan perannya. Tidak adanya sentuhan langsung yang memberikan pencerahan kepada masyarakat. “Maka jadilah politik kita hari ini terjebak pada adu modalitas dan akses media, inilah menjadi salah satu variable mahalnya biaya politik,” katanya.

Ia melanjutkan, bergesernya kompetisi dari adu gagasan, karya dan ide menjadi adu popularitas.  “Ukuran like and dislike mengalahkan rasionalitas dan realisme. Maka wajar kekecewaan kerap hadir setahun atau dua tahun kemudian, setelah ekspektasi yang ditampilkan tak sesuai kenyataan. Lambat laun, masyarakat kian bosan dengan politik pencitraan,” ucapnya.

Masih menurut Surya, perang di media sosial pun tak terbantahkan, demokrasi tersandera lampu sorot kamera, maka hari hari kita disuguhkan perang opini dan populisme di konten media dan isi tayangan.

“Munculnya berita hoax, rasis dan SARA menjadi bumbu pemantik mensosialisasikan atau menjatuhkan lawan politik. Persoalan Pemiluakda DKI Jakarta kemarin bisa jadi cerminan buat kita. Kita tak mau jurang polarisasi semakin melebar, kebhinekaan pun menjadi ancaman,” dugaannya.

“Saya membayangkan politik masa depan adalah yang mampu menjawab ekspektasi dengan karya, kinerja dan pembuktian, bukan dengan senyuman yang diatur oleh tim profesinal agar tampak merakyat. Masyarakat Urban yang telah tercerdaskan politiknya akan semakin sadar, tak mudah diarahkan dengan kampanye-kampanye media yang tak riil,” pungkasnya. (tur/rus)

Oleh : Surya Fribady (Kader KAMMI Balikpapan)

*Tulisan disadur dari Balikpapan Post edisi Minggu, 14 Mei 2017

May 15, 2017 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *