Konsistensi Pemilu Akbar yang Sarat Akan Makna

[KONTESTASI PEMILU AKBAR YANG SARAT AKAN MAKNA]

Oleh :

Muhammad Akbar (Kabid Departemen Kebijakan Publik KAMMI Kaltimtara)

Pemilu merupakan sebuah momentum khusus yang menjadi siklus bagi negara yang menganunt sistem demokrasi. Pemilu juga di maknasi sebagai sebuah momentum daripada masa transisi kepemimpinan yang terjadi pada suatu negeri.

Tersebar luas dan terpasangnya banyak wajah, serta rangkaian kata dalam berbagai macam media yang menunjukan kontestan yang terlibat dalam perebutan kursi kepemimpinan yang ada di dalam suatu negara. Baik itu dalam kanca kabupaten/kota, provinsi maupun Republik.

Ini seperti sebuah koin dengan dua sisi yang berbeda. Yang dimana sebuah sisi menunjukan jerihpayah yang akan di lakukan oleh kandidat negarawan atau politikus untuk membangun negeri ini menuju kondisi lebih baik dan di sisi yang lain termaknai sebagai sebuah umbaran kosong yang di lontarkan untuk kepentingan pribadi.

Mengapa demikian? Hal ini di akibatkan rasa sumpek dari polusi yang di tumbulkan oleh atmosfer perpolitikan ini. Janji-janji yang tidak di tepati dalam momentum pemilu sebelumnya, kecurangan dalam berkampanye, saling hujat antara sesama kontestan untuk saling menjatuhkan kontestan yang lain demi meningkatkan rating personal atau partai, penyebaran hoax di berbagai media massa, serta tidak berubahnya nasib golongan tertentu seperti rakyat yang belum beruntung dalam strata perekonomian (kelas ekonomi menengah kebawah) sehingga mereka tidak tersentuh oleh Impack dari implementasi akan janji yang telah di umbar-umbarkan. Sehingga mereka tetap saja masih ada yang harus tertidur di sarana umum seperti halte atau taman akibat tidak memiliki tempat untuk kembali dan bersandar.

Hal-hal tersebut hanya sebagaian contoh dari maraknya egosentris yang ada, yang juga sekalian di jadikan motivasi untuk ikut serta dalam berkontestasi pada momen pemilu yang ada saat ini. Sehingga hadirnya sikap antipati akan apa yang dikampanyekan dan juga diperjuangkan, benar-benar hanya di pandang sebelah mata atau juga tidak di pandang sama sekali. Dan juga hanya di anggap sebagai sebuah polusi yang juga dapat di maknai sebagai sebuah musim yang nantinya juga akan berlalu. Tanpa memikirkan betapa pentingnya momentum ini bagi keberlangsungan dari sebuah negara.

Hal ini kembali memunculkan sebuah tantangan bagi mereka-mereka yang benar-benar ingin bersumbangsih bagi kebaikan negeri. Serta bagaimana memantik diskurusus untuk menciptakan sebuah inovasi agar rakyat kempati bersimpati dan ikut membersamai gagasan-gagasan yang telah di rumuskan dan juga di bangun agar dapat di implementasikan secara berama-sama demi tujuan yang mulia.

Inilah sebuah tantangan dari zaman saat ini, yang hadirnya bukan untuk di sesali. Namun untuk di jawab dengan sebuah tindakan pasti. Juga bukti, yakni tercapainya hal-hal positif bagi rakyat yang ada di negeri ini.

Apr 4, 2019 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *