Duka Ibukota Kalimantan Timur

banjir samarinda

Banjir Samarinda tahun 2019

Sejak 1998, Kalimantan Timur telah mengalami banjir bandang yang menenggelamkan sebagian kota Samarinda dan sekitarnya sehingga memiliki dampak yang besar buat warga Kaltim. Berdasarkan penelitian menyajikan bahwa 10.927 hektare atau 34 persen dari 31.475 hektare DAS Karang Mumus mengalami kerusakan berat. Sejak saat itu, program relokasi penduduk di bantaran sungai mulai diteruskan. Relokasi yang sampai hari ini belum benar-benar tuntas. 

Selengkapnya https://kaltimkece.id/historia/peristiwa/ketika-banjir-terbesar-menerjang-samarinda-3-la-nina-benanga-dan-manusia

 Dampak yang menimbulkan korban jiwa sangat drastis, hal ini sesuai dengan catatan dari tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan MRI Kaltim yang telah turun langsung melakukan bantuan. Dimana Kelurahan Sempaja Timur ada 735 keluarga atau setara 2.327 jiwa yang terdampak. Sedang di Kelurahan Temindung Permai ada 4.437 keluarga atau setara 14.237 jiwa dan di Kelurahan Gunung Lingai ada 750 keluarga atau setara 2.429 jiwa.

Selengkapnya https://news.act.id/berita/banjir-besar-kepung-samarinda-mri-act-kaltim-siaga

 Kaltim berduka hari ini, masyarakat yang terkena bencana tidak bisa menyalahkan pemerintah saja. Hal ini tidak terjadi di daerah Kaltim saja, daerah lain pun setiap tahunnya pasti mengalami banjir. Factor yang menyebabkan banjir sangat kompleks, seperti kita ketahui bersama bahwa dari curah hujan yang tinggi,hutan yang rusak akibat bergantinya fungsi mejadi tempat tambang, membuang sampah sembarangan, lahan penahan air yang sudah rusak, dan berubahnya fungsi sungai Mahakam.

Selengkapnya https://tokopuas.com/2017/10/faktor-penyebab-banjir-di-indonesia.html

 Lebih parahnya, duka Kaltim bertambah belum terobati sejak 1998. Seharusnya pemerintah bisa memprediksi masalah yang akan menjadi kronis setiap tahunnya hingga hari ini. Proyek sungai Karang Mumus sampai hari belum jelas hingga ke tata kota.

 Langkah pemerintah kota ketika banjir sebagai aksi reakif bukan pro-aktif. Berdasarkan regulasi yang sudah ditetapkan Negara sejak tahun 2015, tata kota Samarinda pun belum dikatakan akurat dengan aturan yang ada. Bagaimana dengan daerah yang lain seperti Balikpapan, Bontang, Paser, Loa Janan, Palaran, Tenggarong dan sekitarnya.

Selengkapnya https://samarindakota.go.id/website/laman/landasan-hukum

 Permasalahan Kaltim hari ini adalah bagaimana air hujan agar tidak tergenang lama di tata ruang kota dan cepat terserap oleh tanah dan mengalir langsung ke sungai Mahakam. Perlu arsitektur dan ahli penanganan bencana untuk merumuskan permasalahan di Kaltim agar Kaltim Berdaulat tidak Berduka.

 

11/06/2019

Oleh :

Najar Ruddin Nur R

Staff DPK KAMMI KALTIM-KALTARA

Jun 13, 2019 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *