Kalimantan Timur Perlu Study Banding Masalah Banjir

Banjir bulan Juni 2019 (sekarang ini) mengingatkan kita pada kejadian banjir 1998 yang memakan korban banyak. Masalah ini merupakan ujian dari Allah SWT, sepatutnya kita bersabar dan bersyukur karena kita masih diberikan kesempatan untuk bernafas walaupun memang kondisi hari ini sangat parah.

Allah SWT menegur kita hari ini, sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an Surah Ar Rum ayat 41 “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Contoh saja papua yang mengalami banjir bandang sehingga pemerintah mengambil langkah strategis untuk permasalah banjir. Kementrian Lingkunngan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan meningkatkan alokasi rehabilitasi hutan dan lahan di Papua dari semula 1.000 hektar menjadi 2.500 hektar, serta peningkatan pembangunan sarana Konservasi Tanah dan Air (KTA). Program yang juga dirancang dengan tepat oleh pemerintah yaitu program rehabilitasi dan pembangunan sarana konservasi tanah dan air.

Hal menarik juga dilakukakan oleh KLHK berupa merefresh kembali sebuah regulasi. Sesuai dengan pernyataan Putera bahwa kontinyuitas proses penegakan hukum dalam kerangka Gerakan Nasional Penyelamatan Sumberdaya Alam (GNPSDA) dengan supervisi KPK juga akan terus dikedepankan. Langkah strategis lainnya adalah penyelesaian tata kelola perijinan.

Sehingga KLHK memberikan empat rekomendasi untuk segera diselesaikan.

“Pertama adalah mengembalikan kawasan hutan sesuai dengan fungsinya. Kedua, melakukan review tata ruang berdasarkan pertimbangan pengurangan resiko bencana dan mengembangkan skema adaptasi di titik banjir. Ketiga, internalisasi program rehabilitasi lahan di hulu dan tengah DAS terutama kawasan hutan ke dalam indikasi program pada tata ruang. Keempat, internalisasi program konservasi tanah dan air berupa Saluran Pembuangan Air (SPA) di lahan pertanian dan permukiman untuk meningkatkan pengaturan,” ungkap Putera.

Selengkapnya: https://www.jpnn.com/news/klhk-ambil-langkah-strategis-atasi-bencana-banjir-sentani-papua

Selain itu, pemimpin yang penuh visioner pun sempat memikirkan solusi jangka panjang. Salah satunya Gubernur DKI Jakarta Pak Anies Baswedan sempat mengatakan juga masalah banjir, perlu adanya penanganan ramah lingkungan dengan mengundang para pakar dengan tujuan agar Jakarta bebas dari banjir. Hal ini merupakan solusi jangka panjang. Selengkap: https://www.merdeka.com/jakarta/cari-solusi-banjir-jakarta-jangka-panjang-anies-akan-undang-pakar.html

Padahal ini sudah diingatkan ketika banjir di Solo oleh Pakar Ikatan Ahli Bencana Indonesia ( IABI) mengatakan perlu adanya sistem koordinasi terpadu antara BMKG, BPPT, BNPB, dan LIPI dalam pemetaan potensi bencana dan pola iklim cuaca untuk mencegah terjadinya korban jiwa.

Selengkapnya https://www.voaindonesia.com/a/pakar-bppt-perlu-sistem-ews-cepat-untuk-atasi-ancaman-bencana-di-indonesia/3388957.html

Oleh karena itu, pemerintah Kalimantan Timur bersikap tegas dan cepat untuk memikirkan solusi jangka panjang, minimal untuk meminimalisir pasangnya air ketika hujan agar tidak terjadi banjir. Kita tunggu sebuah kebijakan dari pemerintah saat ini selain upaya yang telah dilaksanakan saat ini. Semoga Kaltim tidak kembali berduka akibat banjir bandang.

 

Oleh

Najar Ruddin Nur R

STAFF DPK KAMMI KALTIMTARA 2019

Jun 13, 2019 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *