Bunga Pergerakan

Oleh : Maya Rahmanah, S.P

(Kepala Departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI KALTIMTARA)

“Kita tidak akan pernah merindukan jalan perjuangan ini, jika kita tidak mencintainya”

Mewujudkan renjana reformasi bagi saya, menjadi seorang aktivis adalah peran pemimpin diri dan lingkungan sekitar sepanjang hidup bergerak dan berisik baik sana-sini nenularkan keresahan dan masalah di penjuru negeri ini dalam kehidupan nyata, bukan sekedar pandai bernarasi, koar-koar dipodium, tulisan dibuku, koran dan status media sosial lainnya.

Sebagai khalifah (wakil) Allah dimuka bumi manusia berkewajiban mengimplementasikan kalam Tuhan dalam bentuk perjuangan. Karena perjuangan merupakan bentuk kongkrit untuk perbaikan ummat yang akan membentuk peradaban dan bagi perempuan memiliki tugas penting menjadi “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Betapa berat beban perjuangan dalam pergerakan ini, bukan? Ketika kita mendidik seorang anak perempuan, itu artinya kita sedang mempersiapkan generasi-generasi berikutnya. Maka tidak salah rasanya jika kemudian RA Kartini begitu memperjuangkan hak perempuan di zamannya. Berupayah mencerdaskan sesamanya. Karena dari Rahim mereka kelak akan lahir generasi-generasi dimana negara ini kemudian bertumpu.

Ketika lelah, janganlah kelamaan menepi kemudian menghilang ditelan zaman. Justru kita harusnya semakin merapatkan barisan karena berkeruh-keruh dalam jama’ah lebih baik, dibanding bening tetapi sendirian. Gerakan dakwah tidak bisa lepas dari upayah pembinaan yang kontinu. Ketika menyifatkan generasi Rabbani, Allah SWT berfirman :

“… akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, kerena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu selalu mempelajarinya. (QS. Ali-Imran :79).

Menjadi aktivis dakwah adalah bentuk perjuangan cinta, cinta adalah kata kerja maka pembuktian adalah jawabannya. Semua lamunanmu, mimpimu, hingga langkah-langkah kecilmu tidak bisa terlepas dari kepentingan ummat. Bahkan ketika naik satu level maka bertambah pula beban tanggung jawabmu terhadap bibit yang engkau tanam, tunas yang menjulang dan pohon-pohon yang mulai berbuah yang engkau harus siram dan pupuk hingga subur dan memberi manfaat. Perjuangan cinta ini adalah engkau pengemban amanahnya yang berkewajiban menjaga dan merawat bumi. Berlomba-lomba dalam kebaikan yang berharap dapat panenan yang berkualitas dan melimpah ruah yang dapat dinikmati setiap saat bahkan tidak akan pernah ada habisnya sebagai perjuangan cinta yang bisa engkau petik pada satu tempat panen terbaik dari segala lelah yang berhujung lillah ialah surga. Sebab menjadi seorang aktivis dakwah bersifat madal hayah (Sepanjang hidup).

Adapun persiapan diri seorang aktivis dakwah secara garis besar :

  1. Persiapan Ruhiyah

Akidah merupakan fondasi kehidupan mukmin. Takaran kekuatan ruhaniyah seseorang ditentukan oleh tancapan akidah yang melekat. Kenapa sebelum syuro ada amalan harian seperti, Qiyam, Dhuha, tilawah, zikir, infaq, dll? Karena fisik bisa bertemu. namun ruh belum tentu. Amalan ini yang menjaga ruh-ruh kita tetap menyatu. Menjaga ruh kita berlari ke tujuan yang sama yaitu surga.

Kita bisa memahami, jika tarbiyah generasi awal Islam bermula dari penanaman akidah dalam hati. Ini merupakan rahasia kekuatan Islam, pada saat iman mulai tumbuh dan berkembang dalam pribadi mukmin, saat detik itu juga muncul sosok jiwa yang siap menolong agama Allah SWT. Sejarah telah membuktikan. Ketika Billal bin Rabah r.a menyatakan diri sebagai Islam maka siksaan yang dilakukan Umayyah bin Khalaf kepadanya tidak berpengaruh, selain menambah keteguhan iman. Keyakinan yang kokoh akan kebenaran jalan yang telah ditempuh membuatnya rela mempertaruhkan nyawa. Demikian pula terjadi pada Abu Fakihah r.a, begitu Islam memasuki songga dadanya, siksaan yang dilakukan Shafwan bin Umayyah hanyalah menambah keimanan. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat Rasulullah SAW yang lainnya, mereka telah merasakan kerasnya benturan di medan Dakwah, namun yang   terjadi justru semakin suburnya gerakan dakwah. Sebab konsolidasi spiritual adalah faktor pendukung sumburnya ghirah gerakan dakwah.

  1. Persiapan Karakter

“Kita boleh gagal dalam suatu aktivitas tertentu, namun tidak boleh gagal dalam karakter, Kalau gagal melaksanakan suatu kegiatan masyarakat bisa menerima dan maklum. Namun jika gagal dalam karakter maka masyarakat tidak bisa menerima dan mengampuni.” Sebagai aktivis dakwah harus memiliki karakter (Muwashafat) yang kuat dan jelas. Karena mereka panutan umat. Bagaimana mereka bisa mengarahkan umat menuju kebaikan jika tidak memiliki karakter yang utama dan kokoh? Nabi dan para sahabat telah memberikan keteladanan dalam penyiapan dan pemunculan karakter. Sehingga peradaban berkembang dari pribadi yang memancarkan keutamaan dan kemuliaan. Bukan pribadi yang kontroversial, di mana umat bingung mencari contoh  figure kebaikan darinya. Karakter yang sangat kuat melekat pada generasi sahabat bukanlah muncul seketika, tetapi hasil dari proses pembinaan yang panjang dan berkesinambungan. Nabi telah berhasil mencetak generasi terbaik yang siap menemani beliau membela kebenaran.

  1. Persiapan Fikriyah

Yaitu berbekal intelektualitas, seorang aktivis dakwah bukan hanya orang yang pandai ilmu syar’i namun terbelakang dalam bidang modern, perkembangan teknologi, dan sains serta perkembangan politik Internasional. Meski begitu, bukan berarti menghabiskan waktu untuk menekuni bidang itu saja. Yang penting menempatkan ilmu secara proporsional. Bagi setiap aktivis dakwah memiliki tugas tablig serta memerlukan fathanah sebagimana sifat Rasulullah SAW. Kita memerlukan kecerdasan dan kepahaman akan ilmu-ilmu baik qauniyah dan kauliyah. Tanpa itu, kita tentu akan mengalami kesulitan dalam meyakinkan orang lain. Bahkan gerakan dakwah ini bisa kehilangan kualitas. Penghayatan pemikiran dan berbagai khasanah pemikiran akan terjadi dalam suasana kebersamaan, sehingga rapat dan diskusi-diskusi ilmiyah bisa lebih hidup dan segar. Gerakan dakwah akan terjaga kesinambungan dan konsepsinya sehingga tejaga dari bahaya penyimbangan tujuan.

  1. Persiapan Jasadiyah

Saya termaksud orang yang memiliki kelemahan fisik, muda sekali lelah apalagi disaat aktivitas padat. Sebagai perempuan yang mengalami fase qodarullah istirahat beberapa hari dalam hal ibadah sholat, puasa, dll. Tentu hal ini terkadang membuat ruhiyah terasa kering dalam bergerak tetapi bisa dengan alternatif lain seperti perbanyak dzikir dan mendengarkan tilawah dll. agar ruhiyah tetap tercharger. Secara fisik haid ini merupakan ujian dan cobaan bagi kaum hawa. Tak sedikit yang mengalami sakit ringan maupun berat saat haid. Tetapi sejatinya haid itu merupakan tanda bahwa secara jasmani perempuan itu sehat. Terus bagaimana? Biasanya saya disini berbagi tugas, hal-hal konseptor dapat saya jalani dari jauh dan tetap hadir dalam memberikan kontribusi pemikiran hal-hal teknis walau tidak ada dilapangan. Kesehatan fisik merupakan salah satu syarat kesuksesan dakwah. Akan menjadi kendala dalam dakwah mana kala para aktivis dakwah lemah fisiknya sehingga mudah terhinggap penyakin ringan maupun kronis. Kesehatan fisik menjadi utama suksesnya dakwah maka hendaklah senantiasa menjaga kesehatan kekuatan tubuh, tidak heran dalam lembaran yaumiyah kita selalu di ingatkan olahraga minimal 1 kali seminggu.

  1. Persiapan Kompetensi

Salah satu menyongsong masa depan perbaikan umat adalah persiapan kompetensi. Aktivis gerakan tidak cukup berbekal kebaikan muwashofat untuk memimpin. Namun harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan posisi yang hendak diraih. Hancurnya Negara dapat terjadi kerena dikelola oleh orang professional yang amoral. Namun bisa rusak pula karena dipimpim oleh orang soleh yang tidak kompeten.

  1. Persiapan Maliyah

Materi bukanlah segalanya, tetapi segalanya ia dibutuhkan untuk keberlangsungan sebuah agenda dakwah. baik sekala individual maupun kolektif. Maka menjadi muslim yang mandiri secara ekonomi adalah penting. Agar perlahan-lahan tidak ketergantungan dengan orang lain apalagi kepada orang tua, dan ini adalah PR untuk bagi aktivis dakwah walau perempuan sebelum menikah masih menjadi tanggungjawab orang tua akan tetapi menjadi belajar mandiri harus di upayakan, memang rezeki sudah di atur oleh Allah SWT maka kita sebagai penikmat harusnya meminta dan menghamba. Tetapi apakah rezeki itu datang tanpa di jemput?

“Berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan pulang sore-sore dengan perut kenyang”. (Riwayat Tirmidzi dan Majah).

Rasulullah SAW. Menyatakan bahwa burungpun mengusahakan rezekinya sendiri. Mereka keluar pagi-pagi untuk mencari rezeki. Justru Dakwah akan semakin berjalan optimal apabila para pelaku dakwah telah mampu mandiri menghidupi diri, keluarga dan apalagi dakwahnya. Demikianlah persiapan maliyah sangat dibutuhkan agar para aktivis dakwah dapat tegar di jalan dakwah.

Penting menjadi Aktivis pergerakan selalu mempersiapkan diri karena bergerak untuk perbaikin dirinya sehingga perbaikan ummat dapat diwarnai dengan pelangi akhlak, yang dapat mengharumkan lingkungannya.

“Celupan warna Allah. Dan siapakah yang lebih baik warnanya dari pada Allah. Dan pada-Nya sajalah kami beribadah

(Al-Baqarah : 138)

Sumber :

  • Menyongsong Mihwar Daulah

Oct 20, 2019 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *