Bukan Karbitan

Oleh:  Muthmainnah (KABID. BPK PD KAMMI SAMARINDA)

                Suatu hari seorang petani berencana memanen buah pisang di kebunnya. Pohon yang telah berbuah pun ditebang dan pisang siap dibawa pulang ke rumah.  Hasil panen itu disimpan disebuah gudang dan dibiarkan begitu saja. Setelah tujuh hari, pisang sudah terlihat berubah warna menjadi lebih kuning, siap dijual. Namun tetangga sang petani yang juga memanen pisang di hari itu, telah menjual pisangnya justru tiga hari usai meninggalkan pisang digudang miliknya. Sang petani pun bertanya-tanya didalam hati, bagaimana bisa panen di hari yang sama namun memasarkannya justru berbeda ?

Faktanya, pisang yang dijual oleh tetangga sang petani adalah produk karbit. Pernah dengar tentang karbit? Ya tepat banget,  jika yang terlintas dalam pikiranmu adalah suatu cara yang dapat membuat pisang lebih cepat matang. Pisang bisa diperam dengan karbit selama masih ada dipohon ataupun sesudah dipanen.

Karbit dikenal dengan istilah kalsium karbida (CaC2), senyawa kimia yang apabila saling bereaksi dengan uap air diudara akan menghasilkan gas asetilen. Gas ini dapat merangsang proses pematangan, sehingga buah akan mengalami degradasi klorofil (hilangya zat hijau pada buah) dan berubah menjadi warna kuning (karotenoid). Namun pada saat proses perubahan ini berlangsung, perombakan zat pati, pembentukan asam-asam organik dan senyawa volatil (penimbul aroma) tidak berlangsung secara optimal. Alhasil, gula yang memberikan rasa manis dan bau harum khas pisang masak juga belum terbentuk.

Pisang yang dikarbit hanya berubah warna menjadi kuning tapi rasanya tidak manis, masih sepat dan aromanya belum kuat, daging buah cepat lembek bahkan pada permukaan kulitnya terkadang terdapat bintik-bintik coklat. Lain halnya dengan pemeraman tanpa karbid atau pemasakan langsung di pohonnya, walau tidak begitu cepat berubah warna, namun pisang yang diperam tidak mengalami kelainan fisiologis, aroma pisang akan tetap harum, selama suhu ruangan berhasil dipertahankan.

Agar tak senasib dengan pisang karbit, manusia harus siap mengalami penempaan yang panjang untuk mengantarkannya menuju kematangan diri yang sejati. Kontinuitas nutrisi ruhani, akal, dan jasmani  akan memberikan bekal yang cukup untuk diri dalam menghadapi tantangan hidup.

Yah, walaupun terkadang atas nama kasih sayang, cinta dan rasa kasihan yang tidak pada tempatnya membuat manusia manja, merasa hidup memang senyaman di surga. Mereka menjadi asik di zonanya sendiri. Lupa bahwa hidup juga penuh dengan ujian. Sehingga saat permasalahan mendera, ia tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Pikirannya tumpul. Ketangguhan mentalnya gagal terbentuk. Tentu kita tidak mau hal ini terjadi pada kader-kader KAMMI kan?

Coba ingat kembali, KAMMI sebagai organisasi yang memiliki karakter harakatut tajnid telah berusaha mengkonsep agar kader yang dilahirkan adalah kader-kader pemimpin yang siap mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami. Karenanya, perhatian terhadap kualitas kader menjadi hal yang diprioritaskan. Kader KAMMI harus punya idealisme dan kompetensi yang bisa diperhitungkan. Jika belum menjadi kenyataan, maka ianya adalah PR bersama yang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Enam prinsip gerakan, yakni kemenangan islam adalah jiwa perjuangan KAMMI, kebatilan adalah musuh abadi KAMMI, solusi islam adalah tawaran perjuangan KAMMI, perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI, kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI, serta persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI, cukuplah menjadi cambuk setiap pribadi yang memutuskan menjadi bagian dari KAMMI, bahwa ada tanggung jawab besar yang kader KAMMI emban. Malulah menjadi orang yang selalu meminta rukshah dalam proses penempaan. Ingin memanen hasil yang besar namun tak mau berlelah-lelah dalam menanam.

Sejatinya kader KAMMI bukanlah bibit-bibit pemimpin karbitan. Maka nikmatilah penempaan disetiap jenjangnya. Adapun pencapaian yang kelak diraih adalah bukti bahwa pundak semakin kuat untuk mengambil bagian dalam proses perbaikan bangsa. Jadilah pribadi yang berani mengambil resiko itu. Buktikan dirimu bukan pemimpin karbitan! Selamat berpacu dengan waktu.  Selamat berproses menjadi Muslim Negarawan.

Nov 21, 2019 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *