DM3, BUKAN SEKEDAR SOAL JABATAN

Oleh : Jumarni, S.Kom

Staff Kebijakan Publik PW KAMMI Kaltim Kaltara

Sebagai ciri khas KAMMI, ia memiliki peran sebagai pergerakan yang memiliki dua karakteristik yaitu:  pergerakan harakatud tajnid dan harakatul amal.

Harakatud tajnid adalah gerakan pengkaderan yang dimaksud untuk mencetak kader militan dan berkompeten baik secara ruhaniah maupun pemikiran. Sedangkan karakteristik harakatul amal adalah gerakan amal (perbuatan) yaitu setelah mendapat ilmu dari pengkaderan, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya tuk diri  sendiri dikehidupan sehari-hari.

 

Dalam pengkaderan KAMMI output dari alumnus DM3 yaitu memiliki kepribadian pemimpin yang mampu mengambil kebijakan (syakhsiyah qiyadiyah as-siyasiyah), dan kemampuan menjadi ideolog. Bagi saya menyelesaikan kaderisasi di KAMMI  yang telah dipilih secara sadar adalah suatu bentuk komitmen akan pilihan yang telah dipilih, dan juga merupakan suatu bukti cinta.

 

Menuntaskan kaderisasi adalah proses memantaskan diri, menyelamatkan diri, proses dimana kita belajar tentang nilai dan hal-hal yang nanti akan dialami, proses dimana kita belajar memposisikan diri, berkarya dan menemukan potensi. Dalam menjalankan tahap kaderisasi merupakan suatu penyelamatan fikrah. Sehingga ketika kita tidak mengikuti alur pengkaderan berarti kita berhenti untuk menyelamatkan diri, berhenti untuk menyelamatkan gerakan dakwah, dan berhenti untuk menyelamatkan umat. Terlepas dari pemberdayaan terhadap amanahnya nantinya itu urusan belakangan. Tentang amanah itu menyoal pantas dan tak pantas, amanah dan tidak amanah.

 

Beberapa waktu lalu saat launching saya ditanya oleh seorang kader mengenai amanah structural yang ada di PW KAMMI. Opini kader tersebut bahwa setiap kader yang telah menyelesaikan alur pengkaderan tertinggi itu sudah pasti menjabat di structural inti, yang kutangkap ia mengira saya akan menjadi keperempuan PW. Hal ini merupakan stigma yang salah, karena gelar AB3 bukan soal jabatan saja tetapi merupakan beban moril dan ketsiqahan yang dimanapun ditempatkan harus bisa dan harus siap, menjadi pengurus inti maupun seorang jundi.

 

Kita harus bisa memahami bahwa ketika berKAMMI, mengikuti alur kaderisasi hingga tuntas pasti mendapatkan amanah struktural karena memang melalui visi KAMMI “KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami”. Dari visi kita bisa lihat bahwa setiap dari kita adalah seorang pemimpin, dan ia adalah konsekuensi dari berKAMMI dan juga sebagai ciptaanNya. Esensi penciptaan seorang manusia adalah sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). Setidaknya setiap manusia bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri.

 

Dalam perjalanan pengkaderisasian tak dapat dipungkiri akan ada peluang besar untuk menjadi pengurus structural (qiyadah) tetapi ia memang merupakan konsekuensi yang secara sadar ketika bergabung di KAMMI. Tetapi perlu untuk digaris bawahi kita tidak perlu ke-geer-an untuk mendapatkan amanah structural. Tetapi jikapun ditempatkan dimanapun juga harus siap, dalam Q.S Al-Ahzab:72, Allah SWT berfirman   “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Karena sebenarnya manusia ia memiliki karakter zalim dan bodoh agar lebih bijak sehingga perintah pertama yang turun untuk umat manusia yang diberikan kepada Rasulullah SAW salah satu ayatnya adalah “Bacalah, dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan” (Q.S. Al- Alaq:1).

Semoga dengan wasilah menuntaskan kaderisasi bisa menjadikan kita untuk terus belajar, memantaskan diri dari sifat zalim dan bodoh.

Mar 6, 2020 - Posted by kammi - No Comments
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Kaltim Kaltara 2019-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *