Tragedi di India Bukan Konflik Muslim dan Hindu

Oleh: Jumarni

Staff Departemen KP KAMMI Kaltim Kaltara

Public opinion terhadap keadaan yang terjadi di India begitu meluaskan cakrawala dengan perspektif penulisnya. Ada yang mengambil kesimpulan bahwa terjadi provokasi dalam menganalisa kejadian yang terjadi di India. Statement demikian begitu mengeneralisir tulisan sehingga membuat pembaca seolah-olah menganggap bahwa kejadian ini hanyalah sebuah hoaks dan jangan terprovokasi akan kondisi yang terjadi. Memang dalam melihat kejadian luar biasa yang tengah terjadi sudah pasti akan ada selipan disinformasi dan hoaks. Kemudian ada otoritas terkait yang menjadikan kejadian luar biasa ini sebagai justifikasi cuci tangan.

Saya melihat melalui sudut pandang lain dari tragedi india, New Delhi bukanlah suatu hal provokasi, pun tergantung angel pembaca dan penulis melalui media informasi yang tersaji. Bagi saya tragedi yang terjadi bukanlah merupakan peristiwa atau konflik antar agama melainkan tragedi kemanusiaan sehingga merenggut puluhan nyawa dan ratusan lainnya yang terluka. Ketika pun saya mengeneralisir bahwa hal ini adalah konflik agama, bagi saya tidak ada satu agamapun yang enggan tuk hidup berdamai, bahkan agama hindu sekalipun. Adalah oknum yang tak bertanggungjawab yang sedang menyalahgunakan kewenangan.

Terkait rasa sakit dan sepenanggungan terhadap muslim dibelahan dunia manapun Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685). Hal seperti itu juga yang seharusnya kita rasakan ketika mendengar berita tentang tragedi yang menimpa umat Islam.

Pada kejadian di india memiliki korelasi jiwa yaitu cemburu yang dalam bahasa arab memaknainya dengan kata ghirah yang apabila sesorang menyaksikan agamanya yang tengah dilecehkan dan tidak diindahkan, hatinya tergugah, cemburu dan tak nyaman. Risalah sederhana yang ditulis oleh syekh ibrahin bin Muhammad Al-Haqil, menguraikan ihwal cemburu menuirut islam melalui karyanya berjudul al- ghirah baina as-syar’I wa al-waqi’. Yang hakikat cemburu itu bersih dan terjauh dari berahi dan nafsu duniawi.

Ketika tangan tak memiliki kuasa, lisan tak dapat berkata tuk membela, setidaknya ada hati yang resah dengan tragedi kemanusiaan yang menimpa saudara kita yang ada di India, dan inilah ghirah kita yang bisa kita lakukan, ada empati yang kita rasakan. Kemudian menyikapi tragedi ini, kita kembali pada hadits nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim).  Jika kemajemukan agama yang ada Indonesia sudah sepantasnya menjadikan icon percontohan terhadap persatuan dan toleransi. Setiap agama hadir ditengah masyarakat tanpa mendiskriminasi akan keyakinan dari apa yang telah diyakini.

Mar 6, 2020 - Posted by kammi - No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *