MEREKA ITU PAHLAWAN.,

“Di antara senyap-senyap yang menyelimuti, ada yang tetap bersiap pagi dan malam, mereka yang tak gentar menyelamatkan jiwa-jiwa yang juga sedang berjuang. Untuk kalian yang berjuang di baris depan, Terima kasih !” {Detik.com}

Tulisan di atas selama beberapa hari ini jadi postingan teratas di akun resmi Twitter nya Detik.com. tidak tau media yang lain, tapi yang saya pantau itu termasuk yang paling konsisten selama beberapa hari ini. Kalau di media lain berubah beberapa jam tergantung berita apa yang penting, biasanya tiap sore pukul 16.00 akan di sematkan postingan tentang data terbaru perkembangan kasus Corona di Indonesia.

Data terakhir perkembangan kasus Corona di Indonesia menunjukkan 579 positif, 49 meninggal dunia, 30 yang sembuh (23 Maret 2020 16.00 wib ). Jika teman-teman semua mengikuti perkembangan Corona sedari awal pertama kali muncul nya pada 20 hari silam, ini termasuk sangat cepat sekali. Jumlah kematian pun sudah masuk kategori tertinggi di Asean. Tak hanya itu dari semua ini, justru mereka yang di baris terdepan sudah terkena. Informasi terbaru dari kementrian kesehatan belasan tenaga medis terkena, dan 6 dokter sudah di nyatakan meninggal dunia.

Teringat juga di Wuhan beberapa bulan yang lalu dokter yang pertama kali menemukan virus pandemik ini juga meninggal dunia karena virus Corona. Ketika pertama kali ia menemukan virus ini dengan sigap beliau mengingatkan pemerintah china, akan tetapi nasib berkata lain pemerintah menganggap dokter tersebut membuat peringatan palsu dan menganggu ketentraman sosial. Hingga akhirnya semua nya terjadi ketika tahun baru china, corona meledak ke seluruh daratan, wuhan dan beberapa kota besar di lockdown total hingga akhirnya 4.000 lebih warga china harus meregang nyawa karena virus ini. Dokter Li Wenliang namanya, ia di daulat jadi pahlawan.

Tenaga medis yang berjuang di baris depan itulah yang paling rawan terkena. Sebab interaksi mereka dengan korban yang secara langsung. Walaupun di bekali dengan peralatan yang mumpuni sekali pun, tetap saja rawan. Sebab waktu kerja yang panjang di tambah lagi jam istirahat yang minim bisa membuat mereka tambah lebih rawan lagi. Itulah kenapa kita harus respect dan memberi hormat kepada mereka semua. Perjuangan nya tak kenal waktu, belum lagi jika mereka yang memiliki keluarga di rumah, bisa kita bayangkan betapa getir nya perasaan mereka. Tak mudah menjadi seperti mereka, saya sendiri bukan anak kesehatan saja bisa ikut membayangkan betapa hebat nya perjuangan mereka apalagi yang paham pasti lebih respect dan hormat lagi, Tapi luar biasa mereka tak sedang membutuhkan itu sekarang.

Yang mereka inginkan dari kita sekarang adalah jaga diri, keluarga dan lingkungan kita agar jangan sampai terkena wabah corona ini.

Yang mereka inginkan sekarang adalah kita mengikuti segala prosedur dan arahan pola hidup sehat dan bersih yang mereka sampaikan.

Yang mereka inginkan sekarang adalah kita mengikuti semua himbauan para dokter, tokoh agama, dan pemerintah baik itu pusat,daerah dll dalam memutus mata rantai virus pandemik ini dengan mengurangi bahwa menghentikan segala aktivitas mengumpulkan banyak orang, Bahkan MUI pusat sudah mengeluarkan Fatwa nya.

Yang mereka inginkan adalah kita menjaga jarak dalam interaksi sosial kita, dan juga jangan gegabah menyebarkan informasi hoax di media sosial kita. Ikuti saja dan ambil informasi yang valid dari sumber-sumber terpercaya seperti Kemenkes, BNPB, dll.

Untuk itulah mari kita bantu mereka semua, membekali diri kita dengan informasi yang benar adalah salah satu bentuk rasa hormat dan penghargaan kita terhadap perjuangan mereka semua.

Sebagai penutup, berikut tuliskan ulang tulisan dari Ibu Dewi Nur Aisyah, ahli epidemologi dan penyakit menular,

Tulisan ini bukan untuk menggurui atau pun yang lainya tapi sebagai ikhtiar saya untuk membantu mereka yang di baris depan sana.

Dari pada kita ikut menambah beban mengapa kita tidak menjadi yang meringankan kan ? Bukankan Islam mengajarkan kita demikian ? Dari pada mengeluhkan keadaan dan keterbatasan jadilah nyala lilin yang  menerangkan. Cara paling simpel nya ya kita menjadi bagian dari Masyarakat yang penuh kewaspadaan, dan membantu mereka untuk meningkatkan kapasitas dan kesiangan.

Sebagai penutup saya ingin menggaris bawahi bahwa kita sedang di uji, dunia yang kita tinggali sedang tidak sehat lagi, kita harus paham apa yang sedang kita hadapi. Kita harus memahami bahwa sikap kita hari ini akan menentukan keadaan di esok hari. Jika kita abai dengan kondisi kita hari ini jangan salahkan jika puluhan ribu orang bahkan mungkin (keluarga dan saudara kita) akan menerima dampak nya tak lama lagi.

Jangan menunggu untuk bergerak esok hari, lusa, atau dua Minggu lagi, percayalah virus ini tidak menantikan kesiapan kita ia bagaikan boom waktu yang dapat meledak kapan saja. Maka sekali lagi,di masa inilah kita saling bahu membahu dan saling menjaga dengan patuh menjaga jarak sosial kita dapat mampu menyelamatkan banyak orang. Bukan sebuah nasihat yang di inginkan bukan, tapi kita perlu bersabar dan menjadi bagian dari mereka yang menggerakkan perubahan.

Selamat jalan para pejuang kesehatan indonesia, terimakasih atas Dharma Bakti nya kepada bangsa dan negara

{Farhan Namapaji}

Mar 24, 2020 - Posted by kammi - No Comments
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Kaltim Kaltara 2019-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *