Hari Pendidikan Momentum Refleksi Keadaan Pendidikan Indonesia

Ahmad Fikrianto (Staff Kebijakan Publik PW KAMMI Kaltimtara 2019-2021)

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bahasa dan agama. Manusia merupakan sektor terkecil penyusun sebuah bangsa, diciptakannya ialah untuk menjadi khalifah yang memberikan perubahan kebaikan dimuka bumi ini. Pendidikan merupakan hal yang mutlak diterima karena sumber dari pendidikan dapat kita terima dari segala arah. Setiap manusia merupakan seorang pendidik dan seorang yang dididik menurut sudut pandang kehidupan. Karena sejatinya apa yang kita lihat, dengar dan rasakan, semuanya adalah pendidikan.

Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanat yang tersirat pada pembukaan UUD 1945, hal itu dikarenakan gambaran suatu bangsa tercermin pada pendidikan yang dianut bangsa tersebut, hingga muncul sebuah narasi “masyarakat tidak bodoh, melainkan masyarakat dibodohkan oleh sistem yang dibuat oleh pemerintah”. Kalimat tersebut merupakan representatif ungkapan dari kewajiban pemerintah selaku stakeholder untuk menjalankan kewajiban mereka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah Indonesia menempuh upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui instrument pengadaan pendidikan di sekolah. Hal itu sebagaimana tertuang pada poin-poin UU No. 20 Tahun 2003.

Melalui instrumen-instrumen tersebut pemerintah selaku pemangku kebijakan melaksanakan kewajiban mereka, indikator keberhasilan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah tertuang pada tujuan pendidikan nasional. Jikalau menilik kepada pendidikan nasional maka kita akan menyadari bahwasanya pendidikan hari ini belum mampu menuntaskan tujuan dari pendidikan itu sendiri, dan hal itu terbukti dari betapa banyaknya kasus narkoba, kasus perzinahan, dan berbagai permasalahan moral. Sebuah evaluasi besar baik dari muatan materi pendidikan yang belum tidak menitik beratkan kepada moral, atau pola didik para pendidiknya yang kurang fokus pada penanaman moral, ataupun lingkungan dari siswanya yang kurang terjaga, sehingga pendidikan yang ada tidak membuahkan tujuan sebagaimana diharapkan.

Memandang dari sudut pandang teori berkaitan tolok ukur indikator suksesnya sebuah pendidikan, maka kita akan memahami bahwasanya komponen yang menunjang pendidikan ialah pendidik, siswa, infrastruktur, dan muatan materinya. Maka melalui refleksi hari pendidikan nasional sudah seharusnya menjadikannya evaluasi untuk setiap komponen penunjang pendidikan.

Jikalau berbicara tentang pendidik, maka akan terbesit dipikiran kita tentang kesejahteraan guru. Kita sadari kesejahteraan guru honorer saat ini belum terpenuhi secara sepenuhnya, padahal jikalau kita mengetahui gaji dari seorang guru honorer saja belum tentu terbayarkan setiap bulannya, terlebih lagi nominal dari gaji mereka belum setara dengan UMR. Hal ini perlu menjadi sorotan pemerintah agar kemudian lebih memperhatikan nasib setiap gurunya. Kemudian kualitas dari setiap gurunya juga perlu menjadi sorot perhatian pemerintah guna menjaga kualitas pendidikan nasional.

Kemudian dari sisi siswanya, kita sadari bahwasanya seluruh masyarakat Indonesia tidak tergolong mampu, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kadang, tetapi terdapat pula orang-orang miskin didalamnya, oleh karena itu alokasi dana pendidikan seharusnya dapat terdistribusi lebih baik dan peruntukkannya dapat membantu nasib siswa/I yang kesulitan dana untuk mengenyam pendidikan.

Dan berbicara terkait infrastruktur maka kita kan menyadari bahwasanya sekolah yang tak terjangkau atau terbilang jauh dari perkotaan masih sangat sulit mendapatkan sarana dan prasarana pembelajaran yang layak, jangan kan mendapatkan sarana dan prasarana yang layak, mendapatkan akses jalan yang mudah saja sangat sulit. Butuh perjuangan yang cukup melelahkan hanya untuk dapat menjangkauya. Belum berbicara terkait opini pemerintah untuk mengadakan pendidikan secara online, padahal kondisi tersebut telah tercermin dari kondisi pembelajaran secara daring yang dilakukan setiap sekolah lantaran situasi COVID-19. Situasi ini sudah mencerminkan ketidakmampuan pendidikan hari ini, baik dari sektor fasilitas maupun keadaan setiap warganya. Oleh karena itu perlu adanya kesiapan pemerintah dalam menghadapi setiap situasi dan kondisi. Tetapi hal ini juga menjadi garis bawah bagi setiap komponen pendidikan agar terus mempersiapkan diri dan meningkatkan wawasan agar pendidikan kita dapat bergerak maju dan terus menjadi lebih baik. Sinergis di setiap komponennya perlu di gaungkan karena tanpanya cita-cita kemajuan pendidikan tak akan pernah tercapai.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kewajiban pemerintah, maka sebenarnya tidak ada masyarakat yang bodoh di Indonesia melainkan Masyarakat yang di bodohkan oleh sistem yang dibuat oleh pemangku kebijakan”

Hidup mahasiswa!

Hidup Rakyat Indonesia!

Hidup Pendidikan Indonesia!

May 2, 2020 - Posted by kammi - No Comments
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Kaltim Kaltara 2019-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *