ANAK-ANAK BANGSAKU

Oleh : Susmita Zain (Ka.DPP KAMMI PK Berau)

Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2014, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dan perlindungan anak adalah segala kegiatan yang dilakukan untuk menjamin dan melindungi anak beserta hak-haknya agar dapat hidup tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam momen perayaan Hari Anak Internasional tepat pada tanggal 1 Juni, bermaksud menarik perhatian bahwa anak-anak memerlukan pemenuhan akan hak-haknya, baik secara fisik, material, maupun spiritual. Sudah menjadi tanggung jawab dari berbagai pihak terutama pemerintah untuk memenuhi hak-hak anak tersebut. Namun pada kenyataannya masih banyak kasus menyedihkan yang melanggar hak anak. Dikutip dari TEMPO.CO 2 Mei 2020, dalam masa pandemi covid-19 ini KPAI mendapat laporan bahwa terdapat kasus trafficking dan eksploitasi yang di dalamnya termasuk pekerja anak, kasus tersebut diantaranya menjadikan anak sebagai pemulung, perdagangan anak untuk kepentingan prostitusi, eksploitasi seks berbasis daring, dan penjualan bayi di Instagram. Naudzubillah. Bahkan KPAI mencatat terdapat 4.369 kasus pelanggaran hak anak selama tahun 2019.

Dalam masa pandemi ini anak-anak sangat dimanjakan oleh perkembangan teknologi, sehingga tetap dapat melakukan pembelajaran tatap muka secara daring menggunakan ponsel orang tua maupun milik masing-masing. Pemerintah pun memfasilitasi TV Edukasi untuk menunjang keberlangsungan pembelajaran selama SFH (study from home). Namun juga perlu diwanti-wanti adanya penyalahgunaan teknologi tersebut, mengingat banyaknya waktu anak yang digunakan untuk mengakses internet, dikhawatirkan anak-anak lebih banyak mengakses konten-konten yang tidak pantas. Sebanyak 653 dari 4.369 kasus yang tercatat oleh KPAI di tahun 2019 adalah kasus pornografi dan cyber crime. Bagaimana masa depan mereka sebagai generasi pembangun bangsa? Potret menyedihkan anak-anak generasi penerus bangsa yang masih marak dikelabuhi oleh oknum orang-orang dewasa untuk kepentingan perdagangan manusia dan perusakan moral anak, tentu kita ingin hal ini tersudahi. Selain dengan penegakan hukum para pelaku, sebagai generasi muda harus paham beberapa hal sebagai tindakan preventif terjadinya kembali kasus-kasus yang meringkus hak-hak anak tersebut, untuk kemudian mengedukasi masyarakat maupun untuk bekal pribadi kelak dalam mencetak generasi bangsa yang berkualitas.

Pertama, peran pengasuhan. Seluruh orang tua maupun calon orang tua di Indonesia harus memiliki kemampuan pengasuhan yang ramah anak serta memberikan gizi yang baik. Pendidikan agama yang diberikan sejak dini pada anak juga akan membangun pengendalian terhadap dirinya.

Kedua, lingkungan sosial. Orang tua harus mengawasi dengan siapa dan di lingkungan seperti apa si anak bergaul.

Ketiga, lembaga pendidikan. Banyak waktu anak dihabiskan di lingkungan sekolah, siapapun yang berprofesi sebagai pendidik maupun tenaga kependidikan, seharusnya menjadi sebenar-benarnya sosok yang layak digugu dan ditiru, baik dalam Lembaga Pendidikan Formal maupun non Formal.

Selamat Hari Anak Internasional, merekalah penerus cita-cita bangsa !

“Hormatilah anak-anakmu dan perhatikanlah Pendidikan mereka karena anak-anakmu sekalian adalah karunia Allah” (HR Ibnu Majah)

 

Hidup anak bangsa!

Hidup penerus cita-cita bangsa!

Jun 2, 2020 - Posted by kammi - No Comments
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Kaltim Kaltara 2019-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *