KEADILAN & GEORGE FLOYD

Oleh : Indriyanti (Anggota DPP KAMMI PW Kaltimtara 2019-2021)

George Floyd (46) mengerang putus asa. Pria berkulit hitam itu tak bisa bernapas. Berkali-kali permintaan tolong yang keluar lirih dari mulutnya seakan tidak sampai pada telinga Derek Chauvin, polisi yang tengah menghimpit leher. Floyd dengan lututnya sendiri. Proses penangkapan Floyd yang seharusnya berjalan baik-baik saja kini berubah mencekam. Floyd tak mampu lagi menahan beban yang menghimpit lehernya. Napasnya amat sangat tersengal. Detik berikutnya, ia tak lagi bergerak. Floyd meregang nyawa ditangan polisi berkulit putih.

Pasca insiden tersebut, Amerika Serikat bergejolak. Aksi protes dan demonstrasi terjadi di seluruh  Amerika Serikat, bahkan meluas ke beberapa negara seperti Selandia Baru dan Australia, seperti dilansir oleh Tirto.ID. Rakyat memprotes aksi kekerasan polisi dan praktik rasisme yang masih tumbuh subur di negeri Paman Sam tersebut. Demonstrasi berlangsung selama berhari-hari, dengan dikawal ketat oleh aparat keamanan. Dikutip dari Detik.com, aksi memuncak dengan digelarnya demonstrasi besar-besaran dan berlangsung ricuh yang bertempat di luar Gedung Putih (Jum’at, 29/5), menuntut Presiden Donald Trump menegakkan hak asasi manusia pada kematian Floyd.

Amerika Serikat bergerak serentak mengecam tindakan amoral tersebut. Dengan mengatasnamakan solidaritas dan kepedulian sesama manusia, warga rela diserbu tembakan gas air mata dan peluru karet. Bahu-membahu menyuarakan pembelaan atas saudara setanah air. Masyarakat dunia kemudian mengikuti. Beragam aksi demonstrasi digelar di negaranya masing-masing. Media sosial dibanjiri berita duka cita dan dukungan terhadap korban. Semuanya dipersatukan oleh tali membela hak asasi manusia dan kecaman atas rasisme.

Namun dunia terlupa. Jauh disisi lain Amerika Serikat, ada yang sedang berdarah-darah. Setiap harinya puluhan bahkan ratusan korban berjatuhan. Bukan dengan himpitan lutut di leher, namun dihujani timah panas dan bom yang bersahut-sahutan. Mereka tak lagi merintih lirih, namun sudah berteriak lantang.

Palestina, Suriah, dan masih banyak negeri muslim lainnya. Tak ada hak asasi manusia untuk mereka, karena sudah bertahun-tahun upaya perampasannya. Hidup berkalang duka, namun tak akan pernah sudi menyerahkan tanah airnya kepada penjahat durjana. Sebuah keluarga setiap harinya harus mempersiapkan diri, anggota keluarga mereka yang mana yang akan syahid hari ini.

Tak ada yang menyuarakan pembelaan atas mereka. Tak ada yang rela turun ke jalan berhari-hari. Tak ada yang siap ditembaki gas air mata atau peluru karet. Dunia diam. Kalaupun ada yang bersuara, gaungnya tidak terdengar lantang apalagi menghebohkan jagat dunia. Mirisnya, kejahatan kemanusiaan yang tidak sehari dua hari ini, berhasil ditimbun dalam-dalam dan dikalahkan oleh seorang George Floyd.

Ayolah kawan. Buka lebih lebar matamu. Tajamkan pendengaranmu. Saudara muslim kita diberbagai negara itu sedang sekarat. Ketidakadilan yang diterimanya jauh lebih berat dari ketidakadilan yang diterima Floyd. Diskriminasi yang diterimanya jauh lebih kejam dari sekedar perbedaan warna kulit. Adakah yang lebih jahat lagi saat ini?

Sungguh menyedihkan. Padahal Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Saat Islam sudah hadir di tengah masyarakat, budaya-budaya rasisme dan ketidakadilan telah dibuang sejauh-jauhnya. Islam mengubah masyarakat tak beradab menjadi berperadaban tinggi. Menghilangkan tradisi kuno yang sudah menyatu dengan denyut nadi manusia saat itu. Tak ingatkah kita dengan kisah sahabat Bilal bin Rabbah? Seorang mantan budak terhina yang diperintah semau tuannya. Semakin diperlakukan sewenang-wenang saat diketahui dirinya telah menjadi muslim dan berada dibarisan pengikut Rasulullah Saw. Atas izin Allah Swt. kemudian dimerdekakan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan setelah itu mendapat kehormatan serta kemuliaan menjadi muadzin Rasulullah Saw. hingga wafatnya beliau.

Islam telah mengajarkan perubahan besar seperti itu kepada kita. Mengangkat manusia dari titik terendahnya ke derajat yang jauh lebih baik dan tinggi. Karena sejatinya, yang paling mulia disisi Allah SWT hanyalah yang paling bertaqwa. Maka ketika hari ini kita kembali disajikan dengan masalah ketidakdilan, hak asasi manusia, atau rasisme sekalipun, sesungguhnya itu semua adalah program kejahiliyahan yang sudah lama ditinggalkan manusia sejak hadirnya Islam ke dunia ini. Hadirnya masalah-masalah di atas sejatinya adalah sebuah bentuk tindakan kembali kepada tradisi jahiliyah, yang sudah nyata tidak akan memberikan sedikitpun kebaikan dan manfaat bagi manusia, justru semakin memorak-porandakan tatanan kehidupan yang sudah sedemikian rapinya diatur oleh Islam. Maka dari itu, terutama kita sebagai ummat muslim harus betul-betul memegang teguh nilai-nilai Islam di dalam kehidupan, agar terciptanya keadilan untuk seluruh manusia.

Kebatilan adalah musuh abadi KAMMI !

Hidup Mahasiswa !

Hidup Perempuan Indonesia !

Hidup Rakyat Indonesia !

Jun 14, 2020 - Posted by kammi - No Comments
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Kaltim Kaltara 2019-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *