Integrasi Ilmu Pengetahuan

Oleh : Jumarni, S.Kom

Staff Kebijakan Publik PW KAMMI Kaltimtara

 

Sekularisasi Pendidikan di Indonesia

Pendidikan sekuler Indonesia pertama kali sebetulnya dikenalkan oleh panjajah Belanda yang dikenal sebagai komunitas Mason Bebas[1]. Keberadaannya menginjak abad 19. Telah dimulai penjajahan dibindang pendidikan secara sistematis oleh Belanda. Belanda datang ke kepulauan Indonesia tidak hanya menjajah secara fisik, namun imperialism juga dilakukan dalam bentuk pikiran. Imperialisme tersebut dilakukan dengan cara membuka sekolah-sekolah sekuler. Penjajahan belanda datang dengan membawa beberapa kelompok yaitu misionaris, mason bebas, dan orientalis.

Hampir semua sekolah milik kolonial belanda tidak lepas dari pengaruh gerakan Mason Bebas. Mereka ingin menarik kaum elit pribumi untuk dikendalikan oleh penjajah. Sekolah yang didirikan oleh gerakan Mason Barat tak terlepas dari worldview barat, dengan mengajarkan seperti humanisme, sekularisme, dan pluralism. Humanisme menjadi dokrin yang ditanam pada pengajaran komunitas Mason Barat. Menurut Tn Stevens ia mengatakan bahwa dalam tarekat Mason Bebas, nilai tinggi kepribadian manusia berada didepan. Manusai menjadi individu dlam pemikiran masuni ditempatkan secara sentral. Manusia bisa menjadi manusia yang baik, tanpa harus beriman kepada Tuhan. Dokrin humanisme ini yang menjadi asas pergerakan Mason Barat.

Sistem pendidikan yang diterapkan disebut sebagai pendidikan netral. Yang dalam pendidikan netral yang tidak diajarkan mengenai agama secara konpherensif, bahkan ajaran mereka justru merusak akidah. Tidak adanya asas ketuhanan dalam sistem pendidikan yang dirancang. Jadi sebenarnya, misi pendidikan yang dirancang oleh mason barat merupakan proyeksi jangka panjang untuk melanggengkan kolonialisme di Indonesia dengan menjajah pikiran dan pendidikan.


[1] Squad Kebijakan Publik KAMMI Kaltimtara

[2] Gerakan freemasonry : sebuah organisasi persaudaraan kedatangan penjajahan Belanda.

Pendikotomian antara pendidikan agama dan pendidikan umum adalah suatu rancangan yang tersistematis. Implikasi dari terjadinya pendikotomian antara pendidikan agama dan pendidikan umum, dengan terjadinya kesan-kesan negatif terhadap kaum santri yang juga termakan propaganda bahwa kaum santri apalagi putra kyai dilarang keras mengeyam pendidikan umum. Selain itu, stigma yang terbangun adalah pendidikan terbaik adalah pendidikan umum, dan pendidikan agama atau pendidikan islam adalah sistem yang tidak terlepas dari kekolotan dan kemunduran berpikir.

Kini, sekularisasi semakin meluas setelah pengiriman dosen-dosen agama islam belajar kekampus-kampus di Barat pada tahun 70-an. Ketika kembali ke tanah air, mereka membawa cara pandang baru dalam pendidikan. Misal, menerapkan hermeneutika dalam tafsir, studi islam berbasis gender dan lain-lain.

Integrasi ilmu pengetahuan

Salah satu upaya memperbaiki dari sistem pendidikan ialah dengan memperbaiki landasan berpikirnya. Dari landasan berpikir yang baik dan benar maka akan menghasilkan output yang baik pula. Alternative yang dapat dilakukan adalah dengan pengintegralisasi ilmu pengetahuan. Integrasi ilmu pengetahuan islam sudah sudah banyak dilakukan oleh ulama-ulama besar muslim diantaranya adalah Ibnu sina selain ahli dibidang kedokteran, filsafat, psikologi, musik, beliau juga merupakan seorang ulama. Kemudian ada Ibnu Khaldun selain seorang ahli dibindang ilmu ekonomi, sosiologi, matematika, juga sebagai seorang yang sangat luas pandangan ilmu agamanya.

Idealnya, islam diyakini sebagai agama yang memiliki ajaran yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan secara keseluruhan, karena islam memuat segala aspek ilmu pengetahuan dan tidak ada dikotomi alam aturan keilmuan islam. Dari pedoman wahyu sehingga diperlukan ketajaman berpikir dari cendekiawan untuk mewujudkannya menjadi sistem yang nyata.

Dalam konteks pendidikan, hal itu mengisyaratkan bahwa untuk membuat peradaban ilmu pengetahuan yang tinggi maka diperlukan adanya perpaduan antara kedua ilmu, baik ilmu ukhrawii yang mengatur ibadah, ada juga ilmu duniawi yang mengatur urusan hubungan antara manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Selain pengintegrasian ilmu, diperlukan worldview islam sebagai asas dasar sebagai parameter baik tidaknya suatu pendidikan, kemudian dapat dikorelasikan, ditelurusi dan diperiksa dalam perancangan falsafah pendidikan, sebagai suatu solusi terdapat fenomena kesenjangan didunia pendidikan atas terjadinya dikotomi ilmu pengetahuan.


[3] Kholili Hasib “Pembangunan paradigmna pendidikan islam berbasis adab” (Ponorogo:2016)

Oct 1, 2020 - Posted by kammi - No Comments
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Kaltim Kaltara 2019-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *